Konten dari Pengguna

Jurnal Mahal, Apakah Sama dengan Jurnal Predator?

Muji Setiyo

Muji Setiyo

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi APC untuk jurnal ilmiah (Sumber: Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi APC untuk jurnal ilmiah (Sumber: Penulis)

Istilah “jurnal predator” belakangan semakin sering terdengar di kalangan akademisi. Banyak peneliti waswas ketika hendak memilih tempat publikasi: jangan-jangan biaya yang diminta terlalu mahal karena jurnalnya predator. Pertanyaan ini wajar, apalagi publikasi ilmiah kini menjadi salah satu syarat penting bagi dosen, mahasiswa pascasarjana, maupun peneliti untuk membangun reputasi akademik.

Dalam sebuah diskusi, muncul pertanyaan menarik: jika sebuah jurnal internasional yang sudah terindeks Scopus dengan kuartil tinggi mematok biaya publikasi yang sangat mahal, apakah otomatis bisa disebut predator? Jawaban yang muncul cukup tegas: mahal belum tentu predator. Ada jurnal bereputasi tinggi yang memang biayanya puluhan juta rupiah. Selama biaya tersebut disampaikan sejak awal dan proses review dijalankan dengan ketat, maka jurnal tersebut tetap sahih dan tidak bisa digolongkan sebagai predator.

Justru ciri-ciri jurnal predator terlihat dari hal lain. Pertama, mereka tidak memiliki proses review yang layak, bahkan ada yang langsung menerima artikel tanpa koreksi berarti. Kedua, mereka tidak transparan mengenai biaya publikasi. Sering kali penulis baru diminta membayar setelah artikel diterima atau bahkan saat proses sudah berjalan. Inilah pola yang sering menjerat peneliti, terutama yang belum berpengalaman.

kumparan post embed

Soal mahal atau murah sebenarnya juga sangat relatif. Bagi peneliti di Indonesia, biaya publikasi hingga puluhan juta rupiah terasa sangat berat, apalagi bila dana riset yang tersedia hanya dua hingga tiga juta rupiah. Perbandingan ini jelas tidak seimbang. Namun bagi penelitian dengan pendanaan ratusan juta hingga miliaran rupiah, biaya publikasi sebesar itu sebenarnya hanya sebagian kecil dari total anggaran. Jadi, ukuran mahal atau murah sering kali dipengaruhi oleh standar biaya riset di masing-masing negara atau lembaga.

kumparan post embed

Kesimpulannya, jurnal mahal tidak otomatis predator. Yang perlu diperhatikan adalah transparansi sejak awal dan kualitas proses review. Sebaliknya, jurnal yang murah sekalipun bisa saja predator bila tidak jelas mekanisme kerjanya. Peneliti perlu bijak memilih, agar karya ilmiah yang dihasilkan tidak hanya terbit, tetapi juga memiliki makna dan kontribusi nyata bagi dunia akademik.

video youtube embed