“Jurnal SINTA” Itu Nggak Ada. Serius!

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak yang bilang, “Saya nulis di jurnal SINTA 2,” atau, “Susah nyari jurnal SINTA yang gratis.” Tapi... tunggu dulu, emang bener ada yang namanya jurnal SINTA?
“Ini jurnal SINTA 2.”
“Kami sedang nulis untuk jurnal terakreditasi SINTA.”
“Susah cari jurnal SINTA yang nggak bayar.”
Pernyataan-pernyataan kayak gini sering banget saya dengar baik dari mahasiswa, dosen muda, bahkan pengelola jurnal itu sendiri. Lama-lama, istilah jurnal SINTA jadi semacam nama resmi yang diakui secara nasional.
Padahal... ya nggak gitu juga.
Nggak Ada Jurnal SINTA
Yup, bener. Nggak ada yang namanya jurnal SINTA. Yang ada itu jurnal terakreditasi nasional, dan peringkat akreditasinya itu dimuat dalam sistem yang namanya SINTA.
SINTA itu sendiri adalah singkatan dari Science and Technology Index, sebuah sistem informasi berbasis web yang dikelola Kemdikbudristek. Di dalamnya, kita bisa cek kinerja publikasi dosen, peneliti, institusi, dan juga jurnal ilmiah.
Nah, di sanalah banyak jurnal ilmiah Indonesia yang sudah terakreditasi ditampilkan, lengkap dengan status peringkatnya: dari peringkat 1 (tertinggi) sampai 6.
SINTA Itu Buat Apa?
Sederhananya, SINTA itu bukan pemberi akreditasi, tapi semacam dashboard untuk melihat jurnal mana saja yang udah dinilai dan dapat peringkat.
Yang ngasih akreditasi jurnal itu siapa?
Jawabannya: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, lewat mekanisme resmi yang diatur dalam Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018. Nah, hasil akreditasinya itu baru ditampilkan di SINTA.
Jadi, sekali lagi:
SINTA itu cuma alat informasi, bukan lembaga akreditasi, apalagi penerbit jurnal.
Sebutan yang Tepat
Kalau mau akurat, seharusnya kita bilang:
“Jurnal ini terakreditasi nasional peringkat 2.”
Bukan: “Ini jurnal SINTA 2.”
Apalagi bilang, “Terakreditasi SINTA.” Wah, itu keliru dua kali.
Contoh:
Jurnal Automotive Experiences dari UNIMMA itu saat ini terakreditasi peringkat 1. Di SINTA memang tertulis "SINTA 1", tapi istilah resminya adalah jurnal terakreditasi nasional peringkat 1.
Kenapa Istilah “Jurnal SINTA” Terlanjur Ngetren?
Simpel: karena praktis. Pendek. Gampang disebut.
Tapi kepraktisan kadang bisa menyesatkan.
Bayangkan kalau ada mahasiswa yang sampai mikir SINTA itu nama jurnal atau penerbit. Kalau dibiarkan terus, istilah yang keliru ini bisa jadi kebiasaan. Dan lama-lama, kebiasaan itu dianggap kebenaran. Itu yang bahaya.
Gimana Solusinya?
Sederhana banget: ubah cara penyebutannya.
Misalnya: “Saya mempublikasikan artikel di jurnal SINTA 3.” seharunya “Saya mempublikasikan artikel di jurnal terakreditasi nasional peringkat 3.” Atau kalau mau menyebut SINTA, bilang saja “Menurut data di SINTA, jurnal ini masuk peringkat 2.”
Jadi kita tetap manfaatin SINTA sebagai sumber informasi, tapi nggak menjadikannya label atau nama jurnal.
Sebagai akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, bahkan pengelola jurnal, kita seharusnya paham dan menjaga akurasi istilah. Apalagi dalam dunia ilmiah, kesalahan istilah bisa bikin bias pemahaman.
Jadi, yuk kita mulai dari hal kecil kayak ini.
Karena dari hal kecil bisa timbul dampak besar.
