Konten dari Pengguna

Ketika Embun Es Dieng Memanggil, Tapi Alam Mengadu Karena Sampah Pengunjung

Muji Setiyo

Muji Setiyo

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Es di Dieng Jadi Alasan Pengunjung Meninggalkan Sampah (Sumber: Dokumentasi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Ketika Es di Dieng Jadi Alasan Pengunjung Meninggalkan Sampah (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pagi itu dingin (20 Juli 2025), tapi hangat oleh antusiasme. Ratusan bahkan ribuan orang berkumpul di sekitar Candi Arjuna di kawasan dataran tinggi Dieng untuk menyaksikan fenomena langka: embun upas. Kristal-kristal es tipis menyelimuti rumput dan dedaunan, memantulkan cahaya pagi seolah kita sedang berada di negeri salju.

Saya pun berdiri di antara mereka. Menikmati keajaiban alam yang hanya datang sejenak di musim kemarau. Mengabadikannya lewat kamera, seperti banyak orang lainnya.

Tapi ada satu pemandangan lain yang juga membekas di ingatan saya yaitu banyak pengunjung yang meninggalkan sampah di Dieng.

Ya, tumpukan plastik makanan, botol air mineral, sedotan, dan bungkus mie instan berserakan di sudut-sudut rumput yang diselimuti embun es. Kontras. Menyakitkan. Seindah apapun es itu, semua menjadi hambar ketika jejak yang ditinggalkan manusia justru mencederai alam yang memberinya keajaiban.

Embun Es: Hadiah Alam, Bukan Alasan Merusaknya

Fenomena embun upas bukan sekadar objek wisata. Ia adalah pesan: bahwa alam Indonesia mampu memberi kejutan yang tak terduga, meski dalam senyap. Tapi bagaimana cara kita membalasnya?

Apakah dengan meninggalkan plastik yang tidak akan terurai dalam ratusan tahun? Apakah dengan menganggap alam ini milik semua orang tapi tanggung jawabnya milik orang lain?

Kita sering berkata "ingin healing di alam", tapi justru membawa luka untuk alam itu sendiri.

Alam Tak Butuh Kita, Tapi Kita yang Butuh Alam

Sampah bukan hanya soal kotor atau tidak sedap dipandang. Ia menghancurkan ekosistem. Plastik yang tertinggal bisa terbawa angin ke ladang petani, ke sumber air, bahkan masuk ke perut hewan ternak. Tanah jadi rusak, air jadi tercemar. Dan jangan lupa, semua itu akan kembali ke kita dalam bentuk lain: makanan, udara, dan kehidupan yang makin rentan.

Es di Dieng bukan hanya indah, ia juga rapuh. Sama seperti harapan petani yang ladangnya rusak karena suhu ekstrem. Mereka sudah cukup menderita. Jangan tambah luka baru dari wisatawan yang tak bertanggung jawab.

kumparan post embed

Mari Jadi Wisatawan yang Mewariskan Kebaikan

Menikmati alam bukan sekadar datang, selfie, lalu pergi. Menikmati alam berarti hadir dengan rasa hormat. Bukan meninggalkan jejak fisik berupa sampah, tapi jejak nilai yang bisa diteladani.

Mulailah dari hal sederhana:

  • Bawa kantong sampah sendiri.

  • Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki.

  • Jika tidak menemukan tempat sampah, bawa pulang sampahmu.

Karena es di Dieng tidak butuh kita untuk eksis. Tapi jika kita abai, bisa jadi ia hanya tinggal cerita, sebab alam yang lelah, tak lagi memberi keajaiban.

kumparan post embed

Jadikan kunjunganmu bukan hanya kenangan pribadi, tapi juga kontribusi kolektif untuk keberlanjutan. Jika kamu bisa menyapa alam, kamu juga bisa menjaganya. Karena wisata tanpa empati, hanya akan jadi tamasya egois yang meninggalkan luka.

Dapatkan versi videonya di:

muji.blog.unimma.ac.id