Apa Kabar Abang None Jakarta?

Mulyani Puji Lestari
PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Konten dari Pengguna
1 April 2022 14:32 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mulyani Puji Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Mulyani Puji Lestari Teknis Ahli Pemprov DKI Jakarta
Sumber: freepik.com
Baru-baru ini ramai jadi perbincangan tentang ditangkapnya pelaku penipuan berkedok investasi oleh mereka yang berjuluk “crazy rich”. Misi apa lagi yang mereka usung jika bukan sebuah aksi penipuan dan pembodohan dengan tameng trading saham. Indra Kenz dan Donny Salmanan, dua figur menampilkan gaya hidup mewah dengan selalu “flexing" barang-barang branded berharga fantastis.
ADVERTISEMENT
Kemunculan mereka bisa saja membuat siapa pun tergiur. Betapa tidak, masih muda, sukses, kaya raya, sosok yang rajin beribadah pun gemar bersedekah itu seolah menjual mimpi bahwa itulah yang dinamakan sukses hakiki. Semua kini berbalik 180 derajat. Mereka kini bersiap untuk dimiskinkan.
Lalu, apa imbas dari ulah mereka bagi generasi muda? Para anak muda sudah diberikan tontonan yang melenakan bahwa menjadi kaya raya, sukses dengan jalan pintas itu nyata adanya, beranggapan bahwa proses belajar, ketekunan, kesungguhan dan kerja keras hanyalah proses yang melelahkan dan justru cenderung akan membuat mereka makin terbelakang dan jauh dari kemakmuran. Meskipun pada akhirnya, kejadian ini kembali menyadarkan kita, tidak ada kesuksesan yang tercipta dengan instan. Semua perlu proses dan kerja keras.
ADVERTISEMENT

Pengaruh bagi generasi muda Jakarta

Bagi pemuda yang tinggal di Jakarta di tengah himpitan dan kompleksitas masalah sosial yang dihadapi, tentu saja fenomena tersebut sangat mencuri perhatian. Hidup dan eksis di ibu kota tidaklah mudah, tulisan ini bukan bermaksud untuk mengomentari kontestasi acara Abang None Jakarta, tapi lebih wujud keprihatinan atas kondisi wajah generasi muda yang tinggal di ibu kota, para pemuda (abang) dan pemudi (none) Jakarta.
Hidup di Jakarta makin berat karena para pencari kerja tidak hanya harus bersaing dengan antar warga Jakarta saja namun juga bersaing dengan para pencari kerja yang dating dari berbagai wilayah di sekitarnya. Belum lagi tuntutan hidup dan gaya hidup di Jakarta yang jauh lebih mahal dibanding dengan daerah lain.
ADVERTISEMENT
Menarik untuk mengupas kondisi penduduk muda DKI Jakarta, dengan kekhususan wilayah yang dimiliki. Mestinya potensinya pun harus lebih spesial dibanding dengan wilayah lain di Indonesia. Jakarta selain menjadi ibu kota juga menjadi sentra bisnis terbesar di Asia Tenggara. Oleh karena itu, perlu disiapkan dengan matang program pemberdayaannya sehingga menjadi kaum muda yang tangguh, tahan banting, dan berdaya saing.

Pemberdayaan berbasis daya saing

Berbicara tentang masa depan penduduk Jakarta tidak cukup hanya dibandingkan dengan capaian kualitas antarkota besar di Indonesia saja tapi akan lebih membuka cakrawala kita jika perbandingan tersebut juga mampu disandingkan dengan kualitas capaian kota besar negara lain untuk lebih memacu daya saing di kancah internasional. Arah pembangunan dan gerak pemerintah DKI Jakarta harus sudah diarahkan pada pemberdayaan berwawasan global.
ADVERTISEMENT
Tahun 2022, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta tertinggi se-Indonesia, hal tersebut tentu tidaklah mengherankan bahkan menjadi satu keharusan. Jika tidak, justru perlu dipertanyakan hasil pembangunan selama ini. Notabene kota dengan APBD terbesar. Namun, bagaimana jika dibanding dengan kota besar di negara manca? Mari kita cek, bahwa berdasar data yang dirilis Global Data Lab (2019), IPM Jakarta berada pada angka 0,773 lebih tinggi dari Hanoi (Vietnam) dengan indeks 0,737. Ke depan, arah kinerja pemerintah DKI Jakarta haruslah berbasis daya saing internasional, dengan menggenjot capaian IPM menandingi kota lain di berbagai negara seperti Manila (0,781), Kuala Lumpur (0,867), Bangkok (0,814), Singapura (0,924), Tokyo (0,944), Seoul (0,943), New York (0,9), Sydney (0,945), Wellington (0,951), dan London (0,976).
ADVERTISEMENT
Sudah saatnya para abang none Jakarta didorong untuk mampu tampil dan menunjukkan kemampuannya, menjemput bonus demografi dengan berbagai aktivitas padat karya dan padat manfaat. Saat ini, Jakarta memiliki jumlah penduduk usia Angkatan Kerja sebanyak 5.177.314, dengan komposisi generasi penduduk terdiri dari baby boomers, X, Y, Z.
Menjelang 2030 – 2040 mendatang, akan terjadi pergeseran besar-besaran struktur generasi penduduk Jakarta. Tahun 2030, generasi baby boomers perlahan namun pasti akan menghilang. Sedangkan Tahun 2040 adalah masa kejayaan saat dominasi generasi Y, Z, dan Alpha akan menjadi roda penggerak utama kemajuan Jakarta.
Pada saat itu, fenomena “gig economy” sudah bukan menjadi wacana lagi, beberapa pekerjaan yang ada sekarang akan terdisrupsi. Saat itu generasi muda akan memilih pekerjaan yang sifatnya lebih fleksibel, memiliki kecenderungan self employed dan tidak mau terikat. Adanya pergeseran paradigma dalam menyikapi status pekerjaan, senang menjadi pegawai short term contract, temporary contract, dan bangga menjadi independent worker. Mereka yakin akan mampu memperoleh penghasilan dari berbagai sumber. Kecepatan perubahan dan pengembangan teknologi sudah bukan hitungan bulan dan hari tapi per detik. Penerapan smart city dan Internet of Things (IoT) sudah terimplementasikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Persaingan dan perebutan sumber daya manusia (talent war) juga akan semakin sengit. Tak terbayangkan betapa waktu akan berjalan sangat cepat.
ADVERTISEMENT