Konten dari Pengguna

Sekolah Islam Unggulan: Membangun Karakter atau Memburu Prestise?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muna Khansa Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pembelajaran di kelas sekolah Islam. Sumber: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembelajaran di kelas sekolah Islam. Sumber: iStock

Dalam satu dekade terakhir, sekolah Islam telah memancarkan aura evolusi yang pesat dalam dimensi akademik maupun nonakademik. Sekolah Islam, terutama swasta, telah berkembang menjadi salah satu sekolah idaman di kalangan masyarakat, bahkan ketika sekolah umum negeri tersedia secara gratis. Label "Islam terpadu", “madrasah”, "boarding school", hingga "program khusus" menjadi daya magnet bagi para orang tua.

Menurut data Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2022, sebanyak 63,1 persen responden menyatakan bahwa mereka lebih percaya pada sekolah berbasis agama dalam aspek pembentukan karakter. Oleh sebab itu, orang tua sangat berharap agar anak mereka mampu mengenyam pendidikan di sekolah Islam dengan biaya berapa pun juga.

Bahkan di saat ini, bayi yang baru berusia satu hari sudah didaftarkan oleh ibunya di salah satu sekolah Islam unggulan di bawah naungan ormas Islam yang terletak di Yogyakarta untuk tahun ajaran 2028/2029. Saya pun pernah mengetahui sendiri terkait informasi ini dari status WhatsApp teman yang berprofesi sebagai guru sekolah swasta Islam di Kabupaten Klaten. Pada April 2026 lalu, teman saya mengunggah hasil tangkapan layar grup WhatsApp yang diberi nama SPMB 2028/2029.

Di situ ditampilkan keterangan 234 peserta. Saya sontak menanyakan apakah 234 itu jumlah orang tua yang sudah inden ataukah bukan. Teman saya merespons bahwa memang benar jika sebanyak 234 orang sudah mendaftarkan anaknya pada tahun ajaran 2028/2029 di sekolah tersebut. Teman saya menyampaikan kalau tahun ajaran 2026/2027 dan 2027/2028 telah terisi penuh oleh calon siswa.

Fenomena ini menunjukkan betapa meningkatnya kesadaran orang tua akan urgensi pendidikan agama. Hal ini didukung pula oleh sejumlah penelitian yang mengungkapkan bahwa alasan orang tua memilih sekolah Islam adalah karena adanya pembelajaran nilai-nilai keagamaan, kualitas akademik, fasilitas modern, serta lingkungan religius yang memengaruhi pergaulan anak.

Hingga menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, di antara sekolah Islam yang satu dengan yang lain saling berkompetisi dalam menyuburkan kuantitas calon peserta didik. Kita dapat menyaksikan beraneka brosur sekolah yang beredar kini dipenuhi pencapaian prestasi, program khusus, hingga program eksklusif yang merepresentasikan kesan prestise.

Namun, di sela-sela kompetisi yang kentara itu, merebaknya preferensi terhadap sekolah Islam tidak dapat dilepaskan dari lahirnya kategori “sekolah Islam unggulan” yang menawarkan berbagai keunggulan pembelajaran bilingual, program tahfiz, hingga jaminan prestasi akademik. Akibatnya, pertimbangan dalam memilih sekolah bukan lagi semata-mata berkaitan dengan pendidikan karakter.

Memang jika dicermati dengan saksama, tampaknya sebagian sekolah Islam unggulan terlihat mengedepankan branding daripada substansi pendidikan. Oleh sebab itu, hal ini berakibat pada biaya sekolah yang semakin melambung tinggi. Dengan demikian, biaya pendidikan, reputasi sekolah, selektivitas penerimaan, serta citra unggulan tidak hanya menjadi simbol pembentukan akhlak, melainkan juga menjurus kepada simbol status yang turut memengaruhi keputusan orang tua.

Syaifudin, dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta, dalam penelitian “Konstruksi Makna Sekolah Islam bagi Orang Tua Siswa” (2016), mengutarakan bahwa sekolah Islam modern yang secara kontinu dipilih oleh orang tua itu lebih mengarah kepada stereotip kelas-kelas sosialnya. Tidak heran, prestise sekolah yang bersangkutan lambat laun memasuki makna sosial sekolah Islam di abad ke-21 ini. Menurut Syaifudin, di masa kini motivasi sekolah Islam banyak ditentukan oleh kelas sosial. Padahal antara sekolah Islam dengan sekolah umum praktiknya tidak jauh berbeda di lapangan.

Keseimbangan antara Prestise, Visi, dan Misi: Kunci Kesuksesan Lembaga Pendidikan

Tidak dapat dipungkiri jika citra sekolah memainkan peranan besar guna memengaruhi masyarakat dalam mengambil keputusan untuk mendaftarkan anak-anak di suatu sekolah, seperti di sekolah Islam unggulan. Hal ini selaras dengan pernyataan Trimantara (2007) bahwa terdapat 5 aspek yang dipertimbangkan orang tua saat memilih sekolah bagi putra-putri mereka: kemampuan guru dalam mengajar, lingkungan pergaulan, fasilitas, citra sekolah, dan penanaman nilai-nilai agama.

Sayangnya, terdapat beberapa sekolah Islam unggulan dengan citra positif dan segudang prestasinya yang masih menyimpan tradisi berkompetisi secara berlebihan, mengundang tekanan mental dan sosial, sampai timbulnya relasi sesama guru yang terasa kaku, seperti kurang solid, tidak kompak, bahkan ada yang saling menghakimi di antara satu dengan yang lain.

Hampir semua sekolah Islam menjadikan pembentukan karakter islami sebagai visi dan misi yang digaungkan kepada publik. Sehingga orang tua sangat bersukacita apabila anak mereka bisa menjadi bagian dari siswa sekolah Islam unggulan. Namun, realitanya, ketika berada di lingkungan keluarga dan masyarakat, masih terdapat anak-anak yang belum begitu bisa menghormati orang yang lebih tua atau merasa dilematis dalam menghargai perbedaan saat berinteraksi secara sosial. Seakan-akan pembentukan karakter hanya terjadi di sekolah. Atau bahkan berhenti menjadi slogan yang ditempel pada dinding ruang kelas.

Karena persoalan ini, lalu munculah pertanyaan, “Sejauh mana karakter benar-benar direfleksikan menjadi budaya yang melekat di sekolah?” Karakter tidak cukup dikonstruksi melalui pembelajaran intensif, seragam syar’i, banyaknya hafalan, atau kata-kata dari slogan. Karakter lahir dari keteladanan guru, budaya jujur, lingkungan positif, serta hubungan manusiawi antara peserta didik dan sekolah.

Kini, sekolah Islam berlomba-lomba menarik pasar, sementara para orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak dengan impian memperoleh pendidikan terbaik. Tujuan sekolah yang semula membangun nilai-nilai pendidikan Islam seperti akhlakul karimah, kemanusiaan, dan kesederhanaan, secara perlahan dapat terkikis oleh budaya kompetisi dan popularitas.

Suardi (2017) menegaskan jika popularitas berkaitan erat dengan opsi dan minat masyarakat. Kalau dalam konteks sekolah dasar Islam terpadu (SDIT), komponen-komponen seperti brand personality, marketing and communication, serta product and service quality dapat memperkukuh popularitas lembaga pendidikan.

Citra unggulan atau popularitas merupakan suatu pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, parameter keberhasilan sekolah Islam tidak selalu ditentukan oleh popularitas dan panjangnya antrean calon pendaftar, melainkan oleh karakter lulusan yang dihasilkan. Apabila terlalu menonjolkan prestise, maka sekolah akan terjebak dalam orientasi pasar.

Hendaknya reputasi yang dibangun oleh pihak sekolah tetap berlandaskan pada misi utama pendidikan, yaitu membangun individu yang berkarakter, berpengetahuan luas, dan berintegritas, sehingga keberadaannya tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari dampak konkret yang dihadirkan bagi realitas sosial.