Tentang muguet, buruh, dan apa yang kita rayakan setiap 1 Mei

Diaspora Indonesia di Belgia. Clinical Research Associate & Renal Care Educator. Menulis di media tentang kesehatan, teknologi, komunikasi, bisnis kesehatan, dan kisah perjalanan. Menjembatani sains, cerita, dan pengalaman lintas benua.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang agak ganjil ketika berjalan di kota-kota Eropa setiap 1 Mei. Di trotoar yang sama tempat massa buruh berdemo sambil menggenggam spanduk, banyak orang lain berjalan dengan segenggam bunga kecil putih berbentuk lonceng. Lily of the valley. Di Prancis, orang menyebutnya muguet. Dua hal yang tampak tak berkaitan itu ternyata punya tanggal yang sama.
Sebagian besar dari kita tahu May Day sebagai hari peringatan buruh internasional. Britannica (2025) mencatat bahwa hari ini bermula dari peristiwa Chicago pada 1 Mei 1886, ketika ratusan ribu pekerja Amerika mogok besar-besaran untuk menuntut delapan jam kerja sehari. Saat itu, jam kerja buruh bisa mencapai empat belas hingga dua puluh jam. Tiga hari kemudian, di Haymarket Square, bom dilempar ke arah polisi yang membubarkan massa. Tujuh petugas dan setidaknya empat demonstran tewas. Lebih dari seratus orang terluka.
Peristiwa itu tidak membungkam gerakan. Pada 1889, Internasionale Kedua menetapkan 1 Mei sebagai hari solidaritas pekerja dunia untuk mengenang Haymarket. UCLA Institute for Research on Labor and Employment (2025) mencatat bahwa peringatan ini kini dirayakan di lebih dari delapan puluh negara. Amerika Serikat, dengan ironi yang khas, justru tidak termasuk di dalamnya. Labor Day mereka jatuh di bulan September.
Tapi 1 Mei bukan hanya milik sejarah perburuhan
Jauh sebelum ada pabrik atau serikat pekerja, tanggal ini sudah dirayakan masyarakat Celtic sebagai Beltane, festival pertengahan antara titik balik musim semi dan musim panas. Api dinyalakan di bukit-bukit, ternak diarak, dan musim tanam baru disambut dengan ritual perlindungan dan syukur (History.com, 2025). Dari sana, 1 Mei perlahan menjadi hari yang di banyak tempat di Eropa dikaitkan dengan musim baru dan kebaikan yang diharapkan datang bersamanya.
Lily of the valley masuk ke dalam cerita ini lewat satu momen yang tercatat cukup jelas. Completefrance.com (2022) menulis bahwa pada 1 Mei 1561, Raja Charles IX dari Prancis menerima seikat bunga muguet sebagai jimat keberuntungan. Raja yang dikenal cukup takhayul itu begitu terkesan sehingga ia menjadikannya kebiasaan tahunan: setiap 1 Mei, ia memberikan lily of the valley kepada para wanita di istananya. Dari situ, tradisi itu menyebar keluar tembok istana.
Di era Belle Époque, para couturier besar Prancis mulai memberikan muguet kepada karyawan dan pelanggan. Christian Dior bahkan menjadikannya ikon rumah modanya (Sortiraparis.com, 2025). Saat Perang Dunia II, Marsekal Pétain secara resmi mengaitkan bunga ini dengan perayaan 1 Mei, menggantikan eglantine merah yang beridentitas kiri. Setelah perang usai, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur berbayar pada 1948. Muguet tetap tinggal, tidak ikut pergi.
Hari ini, sekitar 60 juta tangkai lily of the valley dijual di seluruh Prancis setiap 1 Mei, dengan nilai pasar mencapai 24 juta euro. Yang menarik, 1 Mei adalah satu-satunya hari dalam setahun ketika siapa pun di Prancis boleh menjual bunga di jalanan tanpa izin resmi dan tanpa membayar pajak, selama berjarak minimal empat puluh meter dari florist terdekat (Completefrance.com, 2022). Ada sesuatu yang terasa agak demokratis dalam aturan itu.
Mungkin itulah yang membuat 1 Mei lebih kompleks dari yang biasanya kita bayangkan. Bukan karena ia menyatukan dua hal berbeda dalam satu narasi yang rapi. Tapi karena kenyataannya memang begitu: di hari yang sama, orang bisa turun ke jalan menuntut upah yang layak, sekaligus berjalan pulang dengan segenggam bunga untuk orang-orang di rumah. Keduanya nyata. Keduanya tidak saling membatalkan.
Muguet tidak mekar lama. Bunganya datang di awal Mei, lalu sudah pergi sebelum bulan selesai. Tidak ada yang bisa memperpanjang itu.
