Kemacetan dan Pandemi di Kota Bandung

Seorang Statistisi yang sedang mengabdi untuk Kota Bandung. Bertugas di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung.
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Musliman Somantri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Melihat Pola Kemacetan di Kota Bandung Ketika Sebelum dan Setelah Pandemi

Siapa yang menyangka kalau Kota Bandung pernah tercatat sebagai Kota Termacet se-Indonesia?! Yups, Kota Bandung yang dikenal sebagai Paris-nya Pulau Jawa ini, pernah menyandang status kota termacet se-indonesia pada tahun 2019. Berdasarkan rilis Asia Development Bank, dalam laporannya yang bertajuk 2019 Update of the Asian Development Outlook, Kota Bandung menduduki peringkat ke 14 sebagai kota termacet se-Asia, sekaligus yang termacet di Indonesia, mengalahkan kota-kota besar lainnya, seperti Ibu Kota Jakarta dan Kota Surabaya.
Beberapa alasan mengemuka dari para pemangku kebijakan di Kota Kembang dalam menanggapi rilis tersebut. Salah satu alasan yang diungkapkan oleh Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, seperti dikutip dari Kumparan, adalah karena adanya tambahan penduduk commuter yang beraktifitas pada siang hari di Kota Bandung sebanyak 1,2 juta orang. Selain itu, dirinya mengungkapkan bahwa lebar jalan yang sempit dan koridor jalan yang pendek juga menjadikan banyak ruas jalan di Kota Bandung rentan terjadi kemacetan.
Sementara itu, dikutip dari BBC Indonesia, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, EM Ricky Gustiadi, mengungkapkan bahwa penyebab kemacetan yang terjadi di Kota Bandung adalah karena masih tingginya penggunaan kendaraan pribadi, imbas belum optimalnya layanan transportasi umum. Menurutnya, perbandingan penggunaan kendaraan pribadi dengan transportasi umum di Kota Bandung adalah 80 persen berbanding 20 persen.
Apa pun alasan dan penyebabnya, yang terpenting ke depannya adalah bagaimana menemukan solusi yang tepat dan efektif untuk mengatasi masalah kemacetan tersebut. Namun sebelum itu, penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu, bagaimana pola kemacetan yang kerap terjadi di Ibu Kota Jawa Barat ini. Lebih jauh lagi, perlu kiranya membandingkan fenomena kemacetan ini, pada saat sebelum dan ketika pandemi covid-19 mulai mewabah. Hal ini dirasa perlu karena seperti yang kita tahu, pandemi covid-19 sudah mengubah pola mobilitas penduduk untuk beraktivitas sehari-hari, dengan mulai diterapkannya bekerja dan belajar dari rumah dan kebijakan-kebijakan lain yang meminimalisasi mobilitas dan kerumunan massa.
Berdasarkan laporan kemacetan yang tercatat di aplikasi Waze pada periode April 2019 hingga Februari 2020 atau sebelum pandemi covid-19 mewabah, rata-rata laporan kemacetan dalam sehari di jalanan Kota Bandung bisa mencapai lebih dari 500 laporan, dengan puncak kemacetan terjadi di hari Sabtu. Adapun rata-rata panjang kemacetan yang terjadi adalah sepanjang 1.14 km dengan rata-rata durasi selama 9,9 menit.
Hal tersebut berubah ketika wabah pandemi mulai muncul dan kebijakan yang membatasi mobilitas penduduk diterapkan. Pada periode Maret 2020 hingga Maret 2021, rata-rata laporan harian kemacetan di jalanan Kota Bandung turun hingga 80% dibanding sebelum pandemi. Dalam sehari, rata-rata tercatat hanya sekitar 100-an laporan yang masuk, dengan rata-rata panjang kemacetan sama seperti sebelum pandemi yaitu 1.14 km dan rata-rata durasi sedikit menurun menjadi 9.6 menit. Fakta lainnya adalah puncak kemacetan masih sama ketika sebelum pandemi, yaitu terjadi di hari Sabtu.
Dari uraian data dan fakta di atas, dapat dilihat bahwa pola kemacetan yang terjadi di Kota Bandung relatif sama, baik ketika sebelum dan saat pandemi, dari segi puncak kemacetan dan tingkat keparahan kemacetan, meskipun secara jumlah laporan jauh lebih menurun. Penurunan tersebut lebih dikarenakan adanya kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan dan mobilitas penduduk yang mulai berkurang dengan diadaptasinya kebiasaan baru, seperti bekerja dan belajar dari rumah. Puncak kemacetan di hari sabtu juga menunjukkan bahwa Kota Bandung lebih ramai kedatangan pelancong di akhir pekan dibanding commuter yang bekerja di tengah pekan, baik ketika sebelum pandemi maupun setelah pandemi mewabah.
