Menggali Sektor Potensial Kota Bandung

Seorang Statistisi yang sedang mengabdi untuk Kota Bandung. Bertugas di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung.
Tulisan dari Musliman Somantri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sektor Potensial Kota Bandung Berdasarkan Analisa Data PDRB Kota Bandung

Kota Bandung sebagai salah satu ibu kota provinsi di Indonesia, dihuni oleh tidak kurang dari 2.5 juta penduduk, dengan hampir tiga per empatnya merupakan kelompok usia produktif antara 15 sampai dengan 64 tahun (BPS, 2019). Tak ayal lagi, perekonomian di Kota ini terus menggeliat seiring dengan ramainya aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh para angkatan kerjanya.
Simak saja rata-rata laju pertumbuhan ekonominya dalam sepuluh tahun terakhir, tepatnya periode tahun 2010 sampai 2019, angkanya sebesar 7,6 persen per tahun dengan rata-rata pengeluaran tiap penduduknya hampir menyentuh angka 80 juta rupiah per tahun dan merupakan yang tertinggi di Jawa Barat (BPS, 2019).
Pertumbuhan positif tersebut tentunya tidak terlepas dari andil sektor-sektor unggulan yang dimiliki oleh Kota Bandung. Jika merujuk pada data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan lapangan usaha yang dirilis oleh BPS, terdapat 3 sektor lapangan usaha dengan kontribusi terbesar bagi Kota Bandung pada tahun 2019, yaitu sektor perdagangan besar dan eceran (28 persen), sektor industri pengolahan (19 persen) dan sektor informasi dan komunikasi (14 persen).
Jika kontribusi ketiga sektor tersebut digabungkan, maka jumlahnya sudah lebih dari setengah perekonomian Kota Bandung. Meskipun demikian, ketiga sektor tersebut belum tentu merupakan sektor unggulan yang potensial untuk terus dikembangkan di Kota Bandung. Untuk itu, mari kita telisik sedikit lebih dalam lagi ketiga sektor tersebut, dengan mengamatinya dari tiga sudut pandang, yaitu dilihat dari pertumbuhannya, persaingan pasarnya dan iklim bisnisnya.
Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi sektor penyumbang perekonomian terbesar bagi Kota bandung dalam satu dasawarsa terakhir. Rata-rata pertumbuhan nilai produksi sektor ini tumbuh positif di angka 7 persen per tahun dengan kontribusi yang cenderung stabil di kisaran angka 23-24 persen.
Dari segi pangsa pasar di tingkat provinsi, sektor ini menguasai 23 persen pangsa pasar, sekaligus yang tertinggi di Jawa Barat pada tahun 2019.
Namun jika melihat iklim bisnis nya, sektor ini sangat tergantung dengan faktor eksternal, yaitu distribusi barang. Hal ini dikarenakan barang-barang yang diperdagangkan di Kota Bandung, sebagian besar bukanlah hasil produksi dalam kota.
Ambil contoh perdagangan bahan pangan. Berdasarkan hasil Kajian Kebijakan Pangan Wilayah Penyangga (Kementan, 2017), 96 persen bahan pangan yang masuk dan diperdagangkan di Kota Bandung adalah pasokan dari wilayah penyangga kota seperti Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat dan Kab. Sumedang. Oleh karena itu, kelancaran distribusi barang dari luar kota menjadi sangat penting untuk bisa terus mengembangkan sektor ini..
Sektor terbesar kedua penyumbang perekonomian Kota Bandung adalah sektor industri pengolahan. Rata-rata pertumbuhan nilai produksi untuk sektor ini terus tumbuh positif di angka 4 persen per tahun (periode tahun 2010-2019), namun kontribusinya justru secara konsisten terus mengalami penurunan. Pada tahun 2010, kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 26%, namun angka tersebut terus menyusut hingga akhirnya tinggal menyisakan 16% di tahun 2019.
Dari segi pangsa pasar di tingkat provinsi, sektor industri pengolahan Kota Bandung harus puas berada di peringkat ke-5 dengan penguasaan pangsa pasar hanya sekitar 6% pada tahun 2019.
Sementara jika melihat iklim bisnisnya, pengembangan sektor ini di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung, sangat terkendala oleh keterbatasan lahan yang diatur dalam regulasi tata ruang kota. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung no 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung tahun 2011-2035, wilayah industri di Kota Bandung hanya diperuntukkan untuk industri ringan (kecil-sedang) dan industri rumah tangga. Tentunya aturan ini akan menutup pintu bagi industri skala besar untuk masuk ke Kota Bandung.
Sektor terakhir dari 3 sektor penyumbang perekonomian terbesar bagi Kota Bandung adalah sektor informasi dan komunikasi. Sektor ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam satu dekade terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 14% per tahun. Kontribusi sektor ini pun semakin menguat dan sedikit demi sedikit mulai menggeser kontribusi sektor industri pengolahan hingga mencapai 11% di tahun 2019.
Dari segi penguasaan pangsa pasar, sektor ini mendominasi hampir setengah pangsa pasar di Jawa Barat, yaitu sebesar 43%.
Sementara dari iklim bisnis, sektor ini sangat didukung oleh kebiasaan sebagian besar warga Kota Bandung yang sudah melek teknologi dan pengguna aktif akses internet.
Berdasarkan Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Bandung yang dirilis BPS pada akhir tahun 2019, 82 persen penduduk Kota Bandung yang berusia 5 tahun ke atas merupakan pengguna gawai seperti telepon seluler, komputer, laptop dan sebagainya. Sementara pengguna akses internetnya mencapai 73%. Tentunya hal ini menjadi potensi besar bagi sektor informasi dan komunikasi untuk terus dikembangkan.
Dari uraian singkat di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, dari tiga sektor penyumbang perekonomian terbesar Kota Bandung, sektor informasi dan komunikasi menjadi sektor yang paling potensial untuk terus dikembangkan ke depannya, jika melihat pertumbuhan, pangsa pasar dan iklim bisnisnya di Kota Bandung.
