Konten dari Pengguna

Gen Z vs Pernikahan: Keinginan & Ketakutan Menikah Berdasarkan Attachment Style

Mutiara Safitri

Mutiara Safitri

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutiara Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keinginan dan ketakutan akan pernikahan (sumber: pexel/cottonbro studio)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keinginan dan ketakutan akan pernikahan (sumber: pexel/cottonbro studio)

Akhir-akhir ini banyak Gen Z yang mengutarakan keinginan serta ketakutannya akan menikah. Seperti yang kita tau, belakangan ini banyak sekali kasus kegagalan dalam berumah tangga. Hal ini tentu saja mempengaruhi pandangan Gen Z terhadap pernikahan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pandangan Gen Z terhadap pernikahan adalah attachment style. Yuk simak pembahasannya!

Attachment style (gaya keterikatan) merupakan hubungan emosional yang terbentuk melalui orang terdekat kita dan bertumbuh dari masa kecil. Menurut Mosko& Pistole (2010, dalam Ningrum, R.P., 2021), attachment memiliki peran penting dalam menentukan kesiapan untuk menikah. Berikut ini adalah jenis-jenis attachment style, yuk disimak!

1. Secure Attachment Style (Gaya Keterikatan Aman)

Gaya keterikatan aman ini bisa terjadi ketika anak tumbuh di lingkungan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Orang yang memiliki secure attachment biasanya merasa nyaman dengan hubungan emosional dan memiliki kepercayaan dalam berkomitmen.

Mereka mempunyai pandangan yang positif terkait pernikahan, sehingga memiliki keinginan untuk menikah yang tinggi. Mereka merasa yakin bahwa menikah dapat memberikan dukungan dan kebahagiaan.

2. Avoidant Attachment Style (Gaya Keterikatan Menghindar)

Gaya keterikatan menghindar biasanya terjadi akibat keterikatan emosional serta fisik tidak terpenuhi dengan baik. Mereka dipaksa untuk selalu mandiri dan sering mengalami penolakan serta pengabaian dari orang tua. Sehingga menyebabkan mereka sering mengindari kedekatan emosional.

Hal ini mempengaruhi ketakutan mereka untuk berkomitmen dalam jangka panjang seperti menikah. Orang yang memiliki avoidant attachment biasanya kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya, sulit percaya kepada orang lain dan hanya bergantung pada dirinya sendiri.

3. Anxious Attachment Style (Gaya Keterikatan Cemas)

Gaya keterikatan cemas dapat terjadi ketika mereka tumbuh dikeluarga yang tidak konsisten pola asuhnya — di mana orang tua kadang memberikan kasih sayang, tetapi kadang juga mengabaikan. Mereka akan tumbuh menjadi orang yang selalu bergantung pada orang lain untuk mencari rasa aman.

Pola asuh tersebut membuat orang yang memiliki anxious attachment sering merasa cemas dan tidak aman dalam menjalin hubungan. Mereka ingin memiliki kedekatan terus-menerus tetapi ketakutan itu dapat muncul dalam bentuk ketidakpastian tentang pernikahan, karena mereka khawatir pernikahan bisa memperburuk perasaan tidak amannya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak bisa mempercayai orang lain serta memiliki ketakutan untuk ditolak, ditinggalkan dan diabaikan.

4. Disorganized Attachment Style (Gaya Keterikatan Terorganisir)

Gaya keterikatan terorganisir terjadi ketika orang tua berperan sebagai sumber perlindungan sekaligus menimbulkan rasa takut atau ancaman, pola pengasuhan pengabaian dan ketidakpastian emosional yang ekstrem atau bahkan traumatis.

Hal ini menyebabkan kebingungan emosional yang mendalam pada anak, yang tercermin dalam hubungan mereka yang kacau dan penuh ketegangan di masa depan. Orang yang memiliki disorganized attachment mungkin merasa bingung atau takut tentang pernikahan. Ketakutan mereka terhadap pernikahan bisa sangat besar karena mereka tidak bisa membangun hubungan yang stabil dan aman.

Nah, itu dia penjelasan mengenai attachment style yang dapat mempengaruhi keinginan serta ketakutan akan pernikahan. Pola asuh orang tua menjadi kunci utama untuk dapat melihat pernikahan dalam pandangan yang positif maupun negatif.

Referensi

Ningrum, R. P. (2021). Pengaruh attachment dengan pasangan dan dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa muda, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mutiara Safitri, Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta