Distorsi Karakter Tokoh Hanafi dalam Novel Salah Asuhan

Mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari NABIILAH CHAERMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah Asuhan merupakan salah satu novel karya Abdoel Moeis. Abdoel Moeis sendiri merupakan seorang pengarang dengan gelar Soetan Penghoeloe. Ia lahir di Bukit Tinggi, Sumatra Barat pada 3 Juli 1886 dan meninggal dunia di Bandung, 17 Juni 1959. Abdul Moeis memiliki darah Minangkabau dan Jawa yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abdoel Moeis merupakan orang Minangkabau yang dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengaruh di masyarakat sedangkan sang ibu merupakan orang Jawa yang ahli dalam pencak silat. Abdoel Moeis mulai terkenal berkat novelnya yang berjudul Salah Asuhan.
Novel Salah Asuhan merupakan novel yang lahir dimasa tahun 1920an yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Novel ini terbit pada tahun 1928 yang kemudian mengalami pencetakan ulang sebanyak 22 kali sampai tahun 1995. Dalam novel ini Abdoel Moeis mengangkat persoalan cinta pemuda Bumiputra yang bernama Hanafi sengan seorang gadis barat (Prancis) bernama Corrie du Burse. Hanafi yang mencintai Corrie rela melepaskan semua atribut ketimurannya, mulai dari namanya, kasih sayang sang ibu, adat-istiadat Minangkabau, agama, dan tanah airnya. Perilaku tokoh Hanafi pada saat itu dapat dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang.
Dimana perilaku menyimpang merupakan sebuah perilaku yang dianggap menyalahi atau melanggar aturan serta norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sosok Hanafi digambarkan sebagai sosok yang menyimpang, dimana ia rela melanggar adat-istiadat serta agamanya demi seorang gadis barat. Perilaku Hanafi dianggap menyimpang karena dirasa telah menyalahi norma serta adat-istiadat pada masa itu. Dimana pada masa itu, sikap Hanafi yang lebih memilih gadis barat yang dicintainya dari pada bangsa serta agamanya dianggap sebagai penyimpangan perilaku.
Perilaku menyimpang tokoh Hanafi dapat terlihat dengan jelas dalam novel Salah Asuhan. Berikut beberapa kutipan yang memperlihatkan perilaku tokoh Hanafi yang menyimpang dari norma dan adat-istiadat Timur.
“Penat pingangku duduk di kursi dan berasa pirai kakiku duduk berjuntai, Hanafi,” sahut ibunya. “kesenangan ibu hanyalah duduk di bawah, sebab semenjak ingatku duduk di bawah saja.”
“Itulah salahnya, Ibu, bangs akita dari kampung; tidak suka menurutkan putaran zaman. Lebih suka duduk rungkuh dan duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan kerbau bangsa kita, Bu! Dan degala siri menyirih itu… brrr!” (Salah Asuhan, Halaman 25)
Dalam kutipan diatas terlihat dengan jelas bagaimana tokoh Hanafi menganggap rendah kebudayaan Timur dengan mengatakan bahwa ‘duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan kerbau’. Dimana dalam kalimat tersebut memperlihatkan bagaimana sosok Hanafi menyamakan tradisi atau kebiasaan bangsanya dengan seekor hewan. Hal ini pula diperjelas dengan narasi dalam novel yang memperlihatkan bagaimana perasaan dari sosok Ibunya Hanafi.
Makin lama makin bimbanglah hatinya melihat anak yang kebelanda-belandaan itu. Pakaiannya cara Belanda, pergaulannya dengan orang Belanda saja. Jika ia berbahasa Melayu, meskipun dengan ibunya sendiri, maka dipergunakan bahasa Riau, dan kepada orang yang dibawahnya ia berbahasa orang Betawi. (Salah Asuhan. Halaman 25)
Dalam kutipan tersebut menggambarkan sosok Hanafi. Seorang pribumi dengan gaya kebarat-baratan, mulai dari pakaian hingga cara berbicaranya. Hal ini memperlihatkan bagaimana pengaruh kebudayaan barat mempengaruhi sosok Hanafi. Melalui penggambaran tersebut dapat dilihat bahwa sosok Hanafi merasa bangga jika bisa sama seperti bangsa Barat.
Hanya ibu Hanafi saja yang makan hati, melihat perangai anak yang demikian kejam kepada istrinya. Hanya ia segan akan menimbulkan pertengkaran dengan anaknya sepanjang hari, takut kalau-kalau anak itu makin durhaka. Hanafi makin lalu-lalang kepada Rapiah, yang akhirnya dipandangnya bukan lagi ‘istri’, melainkan ‘babu’ yang diberikan kepadanya dengan paksa. (Salah Asuhan. Halam 81)
Dari kutipan diatas dapat dipahami bagaimana sikap Hanafi kepada sang istri yang merupakan pilihan dari Ibunya. Hanafi tidak memperlakukan Rapiah sebagai seorang istri melainkan memperlakukannya seperti seorang babu. Hal ini dapat memperjelas bagaimana penyimpangan sikap Hanafi yang menganggap rendah wanita pribumi dengan tidak memperlakukan Rapiah dengan semestinya. Tentunya hal ini pula dapat dikatakan perilaku yang menyimpang adat-istiadat maupun agama Islam yang dianutnya. Dalam agama Islam seorang wanita harus dihormati dan dihargai dengan semestinya.
“…Oleh karena menurut perintah ibu saja aku sampai sengsaranya. Nona Corrie sebab takut pada Ibu, sudah enyah ke Betawi. Sekalian kawanku di sini, sebab mendengar hujah Rapiah, maka bercerai dengan aku. Jika aku tidak kasihan kepada Ibu, niscaya kuturutkan Corrie ke Betawi, sudah tentu saat ini pula kami sedang hidup Bersama-sama dengan kesenangan. Setelah kuturutkan kehendak Ibu, kuterima Rapiah itu, Ibu pula yang menimbulkan selisih antara kita berdua, karena baru sepatah aku berkata buat mengajar istriku, supaya ia mengerti sedikit-sedikit, Ibu sudah menjadi pembelanya…” (Salah Asuhan. Halamann 93)
Ungkapan Hanafi pada kutipan diatas jelas merupakan perilaku yang menyimpang norma kesopanan. Bagi seorang anak menghormati orang tua adalah sebuah kewajiban dan hal yang dilakukan Hanafi bisa dikatakan sebagai bentuk ketidak hormatannya kepada sang ibu. Perkataan Hanafi yang seolah-olah menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya adalah karena ibunya merupakan perilaku yang tidak baik. Hal ini karena pada kenyataanya sikap Hanafilah yang terlalu menggilai kebudayaan Barat yang membuatnya seperti itu. Lebih mengutamakan kehidupan percintaanya dan pertemananya dengan bangsa Barat dibandingkan dengan istri dan ibunya sendiri.
Kutipan-kutipan diatas adalah sebagaian kecil perilaku menyimpang tokoh Hanafi yang tergambar dalam novel Salah Asuhan. Perilaku tersebut tentunya tidak baik untuk dicontoh. Dari mulai bagaimana Hanafi memandang kebudayaan Timurnya sebagai kebudayaan yang aneh hingga menyalahkan ibunya sendiri akibat permasalahan yang terjadi di dalam hidupnya. Perilaku Hanafi tersebut dikatakan perilaku yang menyimpang karena bertentangan dengan norma kebudayaan serta agama. Maka dari itu, sebagai seseorang yang berbangsa dan beragama sudah patutnya kita menghormati adat-istiadat yang sudah ada sejak lama. Pelajaran yang dapat diambil dari tokoh Hanafi janganlah bersombong diri dan merasa tinggi han
ya karena kita merasa berbeda dengan orang lain dan janganlah lupa untuk selalu menghormati kebudayaan serta norma-norma yang sudah ada di masyarakat.
[.]
Daftar Pustaka
Ensiklopedia Sastra Indonesia, Abodoel Moeis. http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Abdoel_Moeis diakses pada 9 Mei 2022. Pukul 20.11 WIB
Ensiklopedia Sastra Indonesia, Salah Asuhan. http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Salah_Asuhan diakses pada 9 Mei 2022. Pukul 20.30 WIB
Moeis, Abdul. Salah Asuhan. Penerbit Balai Pustaka: Jakarta. Tahun 2009
