Gen Z dan Tren Membawa Tumbler: Antara Gaya Hidup dan Kebiasaan Sehari-hari

Mahasiswi aktif S1 Administrasi Publik Universitas Diponegoro
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nabila Pasya Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa ada yang kurang saat berangkat kuliah tanpa membawa tumbler? Bagi sebagian anak muda atau biasa kita sebut Gen Z, tumbler kini bukan sekadar wadah untuk membawa air minum. Benda yang dahulu hanya dianggap sebagai perlengkapan untuk berolahraga kini semakin sering terlihat di kampus, kafe, kantor, hingga hampir di semua tempat nongkrong. Bentuk dan desainnya pun semakin beragam, mulai dari yang sederhana hingga tumbler dengan desain estetik yang ramai dibicarakan di media sosial. Akibatnya, membawa tumbler tidak lagi hanya dianggap berkaitan dengan kebutuhan minum, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z untuk estetika.
Fenomena tersebut sebenarnya membawa dampak yang cukup positif. Membawa botol minum atau tumbler yang bisa dipakai ulang dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk menekan penggunaan botol plastik sekali pakai. Dalam penelitian terhadap 670 partisipan Generasi Z di Indonesia, Fadilla et al. (2024) mengklasifikasikan kebiasaan membawa tumbler sebagai salah satu bentuk perilaku pro lingkungan. Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa norma-norma sosial serta distribusi informasi mengenai lingkungan melalui media sosial berkaitan erat dengan pembentukan perilaku pro lingkungan pada Generasi Z. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan yang terlihat sederhana dapat berkembang menjadi bagian dari perilaku peduli terhadap lingkungan.
Namun, muncul sebuah pertanyaan menarik: apakah Gen Z membawa tumbler karena benar-benar peduli terhadap lingkungan? Ataukah sebagian dari mereka hanya mengikuti apa yang sedang populer? Pertanyaan ini tentu saja penting, mengingat bahwa tumbler sekarang tidak hanya dijual sebagai wadah untuk membawa minuman, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup. Tumbler dengan merek tertentu, desain unik, ukuran besar, atau edisi terbatas dapat menjadi barang yang menarik untuk dikoleksi. Pada titik ini, penggunaan tumbler dapat mengalami pergeseran makna, dari kebiasaan mengurangi sampah menjadi sekadar mengikuti tren konsumsi.
Penelitian Archie et al. (2025) mengenai Gen Z dan kebiasaan membawa tumbler menunjukkan bahwa faktor sosial dan sikap memiliki kaitan dengan niat Gen Z untuk membawa tumbler. Penelitian tersebut melibatkan 300 partisipan dan menunjukkan bahwa perilaku membawa tumbler tidak hanya berhubungan dengan kepedulian terhadap lingkungan, melainkan juga terkait dengan aspek faktor sosial serta bagaimana seseorang memandang perilaku tersebut. Artinya, lingkungan pergaulan dan tren di sekitar seseorang memang benar-benar dapat memberikan pengaruh terhadap munculnya kebiasaan membawa tumbler. Menurut saya, pengaruh sosial seperti ini tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk selama tren tersebut mengarah pada kebiasaan yang positif.
Masalah timbul ketika kepedulian terhadap lingkungan justru beralih menjadi perilaku konsumtif. Seseorang mungkin sudah memiliki beberapa tumbler yang masih layak digunakan, tetapi tetap membeli tumbler baru karena modelnya sedang viral di media sosial. Fenomena seperti ini menunjukkan adanya pertentangan dalam gaya hidup ramah lingkungan. Kita ingin mengurangi sampah plastik, tetapi pada saat yang sama kita terus membeli barang baru tanpa memikirkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Penelitian Rosyihuddin dan Krisnawati (2025) mengungkapkan bahwa green value atau nilai yang dirasakan terhadap lingkungan, merupakan salah satu faktor paling signifikat yang memengaruhi ketertarikan Gen Z untuk membeli produk tumbler. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai lingkungan memiliki pengaruh terhadap keputusan konsumsi, namun tetap harus dilengkapi dengan kesadaran agar penggunaan produk ramah lingkungan tidak beralih menjadi konsumsi yang berlebihan.
Terlepas dari persoalan pembelian tumbler berlebihan, penggunaan tumbler juga perlu dilakukan dengan cara yang benar. Walaupun tumbler yang digunakan berulang kali memang memiliki potensi mengurangi dampak lingkungan dibandingkan penggunaan botol sekali pakai secara terus-menerus, faktor-faktor seperti jenis material yang digunakan, proses produksinya, lama pemakaian, hingga cara mencucinya tetap berpengaruh terhadap lingkungan. Tamburini et al. (2021) melalui studi terhadap siklus hidup mengungkapkan bahwa botol aluminium isi ulang dapat memberikan dampak lingkungan yang lebih rendah dalam penggunaan tahunan dibandingkan botol sekali pakai, namun proses pencucian dengan sabun dan air panas setiap hari dapat meningkatkan dampaknya. Oleh karena itu, memanfaatkan tumbler bukan hanya berfokus pada memiliki wadah yang dapat dipakai berulang kali, melainkan juga mempertimbangkan cara penggunaan barang tersebut dalam jangka waktu yang panjang.
Menurut saya, solusi dari fenomena ini bukan dengan menganggap tren menggunakan tumbler sebagai sesuatu yang negatif. Justru, tren tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. Gen Z dapat memulai dengan langkah kecil, seperti memakai tumbler yang sudah dimiliki selama mungkin, tidak membeli tumbler hanya karena sedang viral di media sosial, serta menjaga dan merawatnya dengan baik. Kampus, sekolah, kantor, dan tempat umum lainnya juga bisa berkontribusi dalam mendukung kebiasaan ini dengan menyediakan fasilitas air minum isi ulang yang mudah diakses. Dengan begitu, membawa tumbler tidak hanya menjadi simbol gaya hidup, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan yang dapat mengurangi ketergantungan pada produk sekali pakai.
Pada akhirnya, tumbler hanyalah sebuah benda. Nilai sebenarnya bukan terletak pada merek, harga, desain, atau seberapa estetik tampilannya ketika difoto untuk media sosial. Nilainya terletak pada kebiasaan menggunakan benda tersebut secara konsisten dan bertanggung jawab. Gen Z tidak harus memilih antara mengikuti tren dan peduli terhadap lingkungan karena keduanya sebenarnya dapat berjalan bersama. Yang perlu dihindari adalah ketika kepedulian terhadap lingkungan hanya berhenti pada pembelian produk baru. Jika membawa tumbler benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, maka tren yang awalnya terlihat sederhana dapat berubah menjadi langkah kecil yang memberikan dampak lebih besar bagi lingkungan.
