Konten dari Pengguna

Padatnya Kuliah Bisa Memicu Stres, Begini Cara Mengelolanya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadine Sheila Ngatino tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa yang kewalahan akibat tuntutan akademik dan organisasi. Sumber foto: AI
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa yang kewalahan akibat tuntutan akademik dan organisasi. Sumber foto: AI

Tugas kuliah, jadwal perkuliahan, serta kegiatan organisasi dapat membuat mahasiswa kesulitan membagi waktu. Ketika berbagai tanggung jawab tidak diiringi dengan pembagian waktu yang baik, kecemasan dan kewalahan dapat terjadi. Kondisi tersebut dapat membebani dan berpotensi memengaruhi prestasi akademik mahasiswa. Karena itu, mahasiswa perlu mengenali cara mengelola stres untuk menjalani kehidupan akademik dan nonakademiknya secara lebih seimbang.

Menurut Psikolog Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si., sering berpikir secara tidak rasional, menyalahkan diri, merasa tidak dapat mengendalikan lingkungan dan kondisi diri dapat memicu stres.

Berdasarkan survei Perceived Academic Stress Scale (PASS) yang dipaparkan oleh Lembaga Penjamin Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Jember pada tahun akademik 2024/2025, 2% dari 23.538 mahasiswa mengalami stres akademik yang tinggi, dan 86% berada pada tingkat sedang. Hasil tersebut mencerminkan tekanan akademik yang dialami mahasiswa Universitas Jember. Temuan ini menjadi gambaran pentingnya kemampuan mengelola stres selama menjalani pendidikan tinggi.

Tuntutan akademik, kesibukan nonakademik, serta berbagai persoalan pribadi dapat menjadi penyebab munculnya tekanan atau stres pada mahasiswa. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mahasiswa mengendalikan tekanan dalam perkuliahan.

  1. Manfaatkan Aplikasi Kalender

    Mencatat seluruh jadwal pada aplikasi kalender membantu mengurangi beban mengingat berbagai tenggat sekaligus sehingga mahasiswa dapat lebih fokus menyelesaikan tugas yang sedang dikerjakan. Aplikasi kalender memungkinkan pengaturan warna penanda yang untuk kategori pekerjaan yang berbeda, seperti tugas kuliah, kegiatan organisasi, dan kebutuhan pribadi. Kategori warna ini dapat memudahkan mahasiswa mengidentifikasi pekerjaannya. Setelah itu, mahasiswa dapat memasang pengingat untuk tenggat waktu tugasnya.

  2. Buat Target Kecil

    Tugas-tugas atau tanggung jawab yang diterima mahasiswa seringkali menimbulkan tekanan atau stres karena adanya ekspektasi yang datang dari dalam diri sendiri ataupun orang lain. Ekspektasi tersebut dapat dipecah menjadi target-target kecil yang dapat dicapai satu per satu. Alih-alih menargetkan menyelesaikan makalah dalam satu malam, mahasiswa dapat membaginya menjadi beberapa tahap, seperti mencari referensi pada hari pertama, menyusun kerangka pada hari kedua, dan menulis isi pada hari berikutnya. Cara ini pun dapat membantu mengatasi stres di tengah kesibukan dan kepadatan jadwal mahasiswa.

  3. Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

    Mahasiswa dengan berbagai tanggung jawabnya akademik dan nonakademik terkadang mengorbankan waktu untuk diri sendiri. Istirahat tepat waktu, makan teratur, dan menjalankan dikesampingkan demi memenuhi tanggung jawab dalam perkuliahan. Meluangkan waktu untuk diri sendiri dapat memulihkan energi untuk mengerjakan tugas-tugas lainnya. Merawat diri bukan berarti mengabaikan tanggung jawab, melainkan bagian dari menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan perkuliahan.

  4. Menghabiskan Waktu bersama Teman atau Keluarga

    Seringkali waktu untuk teman dan keluarga dikesampingkan dengan alasan “masih dapat dilakukan nanti” atau “lebih penting mengejar deadline”. Padahal, menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat dan tersayang seperti teman dan keluarga dapat membantu mengelola stres. Bertemu, berinteraksi, dan bercerita dengan orang-orang terdekat dapat menjadi ruang untuk beristirahat dari tuntutan sehari-hari.

Padatnya rutinitas dan tanggung jawab perkuliahan dapat menjadi penyebab stres mahasiswa yang perlu dikelola. Manajemen stres bukan sekadar cara menyelesaikan lebih banyak tugas, melainkan juga cara menjaga keseimbangan hidup selama berkuliah. Mahasiswa dapat mengakses layanan konseling kampus dan fasilitas tingkat pertama seperti puskesmas. Kementerian Kesehatan juga menyediakan layanan dukungan psikologis awal melalui Healing119.id, serta telepon 119 ekstensi 8 dan WhatsApp yang dapat diakses dari situs resminya.

Penulis:

Nadine Sheila Ngatino

Mahasiswa Aktif Program Studi Ilmu Komunikasi

Universitas Bunda Mulia Kampus Ancol