Konten dari Pengguna

Scottish Fold: Paradoks Estetika di Balik Mutasi Genetika Kucing

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadine Winfold Congningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kucing Scottish Fold. Sumber foto: Pixabay/Foden Nguyen.
zoom-in-whitePerbesar
Kucing Scottish Fold. Sumber foto: Pixabay/Foden Nguyen.

Pernahkah kamu melihat Olivia Benson, kucing kesayangan Taylor Swift yang memiliki telinga terlipat, wajah bulat, dan mata besar? Olivia Benson merupakan seekor Scottish Fold, ras yang dikenal karena penampilannya yang khas. Namun, di balik wajahnya yang menggemaskan, terdapat persoalan biologis yang tidak selalu terlihat dari luar. Telinga terlipat yang menjadi daya tarik utamanya berkaitan dengan perubahan genetik yang memengaruhi perkembangan tulang rawan dan dapat berdampak pada sistem gerak. Scottish Fold pun menghadirkan sebuah paradoks: karakteristik yang membuatnya begitu diminati dapat sekaligus membawa konsekuensi terhadap kesehatannya.

Sejarah Scottish Fold bermula pada tahun 1961 ketika William Ross menemukan Susie, seekor kucing lumbung putih dengan telinga terlipat di wilayah Tayside, Skotlandia. Karakteristik tersebut kembali muncul pada keturunannya, termasuk Snooks yang kemudian menjadi bagian penting dalam pengembangan ras ini. Keturunan Susie selanjutnya dikembangbiakkan dengan kucing domestik dan ras lain untuk mempertahankan ciri telinga terlipat. Dari sebuah variasi genetik pada seekor kucing di peternakan, lahirlah karakteristik yang kemudian menjadi identitas sebuah ras.

Secara genetik, telinga terlipat pada Scottish Fold berkaitan dengan varian dominan pada gen TRPV4, yang berperan dalam perkembangan tulang dan tulang rawan. Varian ini tidak hanya berkaitan dengan bentuk telinga, tetapi juga dengan perubahan pada struktur kerangka dan persendian. Pada individu heterozigot terdapat satu salinan varian, sedangkan individu homozigot membawa dua salinan dan cenderung mengalami perubahan kerangka yang lebih berat. Namun, tingkat dampaknya dapat bervariasi pada setiap individu. Sebaliknya, Scottish Straight tidak membawa varian tersebut sehingga telinganya tetap tegak.

Dampak tersebut dapat muncul sebagai Scottish Fold Osteochondrodysplasia (SFOCD), kelainan perkembangan tulang dan tulang rawan yang dapat menyebabkan perubahan struktur tulang, gangguan persendian, serta hambatan mobilitas dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Kondisi ini tidak selalu mudah dikenali hanya dari penampilan sehingga pemeriksaan dokter hewan dan pencitraan seperti radiografi dapat membantu mengevaluasi perubahan pada tulang dan sendi. Penanganannya berfokus pada pengelolaan nyeri, mempertahankan mobilitas, dan menjaga kualitas hidup.

Ketika sebuah ciri estetis memiliki konsekuensi biologis, persoalan Scottish Fold tidak lagi berhenti pada genetika, tetapi juga menyentuh etika pembiakan. Telinga terlipat merupakan karakteristik yang diminati karena dianggap unik dan menggemaskan, tetapi karakteristik yang sama berkaitan dengan risiko kelainan sistem rangka. Atas pertimbangan kesehatan dan kesejahteraan tersebut, Governing Council of the Cat Fancy (GCCF) tidak lagi mengakui Scottish Fold sebagai ras resmi di Inggris. Dilema ini menunjukkan bahwa pembiakan hewan tidak seharusnya hanya berorientasi pada preferensi estetika manusia, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan hewan.

Pada akhirnya, Scottish Fold menunjukkan bahwa genetika, estetika, dan kesejahteraan hewan tidak dapat dipisahkan. Telinga terlipat bukan sekadar ciri yang membuatnya terlihat berbeda, melainkan bagian dari perubahan biologis yang dapat membawa konsekuensi bagi tubuh. Karena itu, kekaguman terhadap keunikan fisik seharusnya berjalan bersama dengan pemahaman mengenai kondisi biologisnya. Keindahan mungkin menjadi alasan manusia mengagumi Scottish Fold, tetapi kesehatan seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan bagaimana ras ini dikembangbiakkan di masa depan.

Artikel ini ditulis oleh Nadine Winfold Congningrat (X3/19), Bienestar Luqman Alenaki Nugroho (X3/2), dan Kenzie Nathanael Widjaja (x3/14).