Salicylic Acid Tidak Boleh Dicampur dengan Apa? Simak Info dan Alasannya di Sini
Pecinta seni dan literatur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadira Lestari Amirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salicylic acid tidak boleh dicampur dengan apa? Pertanyaan seperti ini sering muncul di benak para pecinta skincare, terutama mereka yang baru mulai memahami seluk-beluk kandungan aktif dalam produk perawatan kulit.
Di tengah semakin banyaknya pilihan serum, toner, dan krim yang beredar di pasaran, tidak sedikit orang merasa bingung bagaimana cara menggunakan bahan aktif dengan aman dan efektif.
Salicylic acid sendiri memang menjadi primadona karena kemampuannya membersihkan pori-pori hingga ke dalam, membantu mengatasi jerawat, sekaligus mengurangi produksi minyak berlebih.
Salicylic Acid Tidak Boleh Dicampur dengan Apa?
Salicylic acid tidak boleh dicampur dengan apa? Pertanyaan ini kerap muncul saat membicarakan rutinitas perawatan kulit, terutama bagi yang ingin mendapatkan hasil maksimal dari BHA ini tanpa menimbulkan masalah baru.
Dikutip dari situs procoal.co.uk, mengungkapkan bahwa ada beberapa bahan yang sebaiknya tidak digunakan bersamaan, seperti retinol dan glycolic acid.
Keduanya memiliki sifat yang sama-sama kuat sehingga jika dipadukan dengan salicylic acid dapat menimbulkan kekeringan, iritasi, bahkan membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari.
Retinol bekerja mempercepat regenerasi kulit, sementara glycolic acid dikenal sebagai AHA yang sangat efektif mengangkat sel kulit mati.
Oleh karena itu, kombinasi keduanya dengan BHA justru bisa membuat kulit meradang.
Cara yang lebih bijak adalah mengatur waktu pemakaian, misalnya salicylic acid pada malam hari dan retinol di hari yang berbeda, agar kulit tetap menerima manfaat tanpa risiko berlebih.
Untuk memahami lebih jauh, penting mengetahui sifat alami salicylic acid. Bahan ini merupakan Beta Hydroxy Acid (BHA) yang larut dalam minyak dan berasal dari kulit pohon willow.
Berbeda dengan Alpha Hydroxy Acid (AHA) yang hanya bekerja di permukaan, salicylic acid mampu menembus hingga lapisan kulit lebih dalam untuk membersihkan pori-pori dari minyak berlebih, kotoran, dan bakteri penyebab jerawat.
Dengan kemampuannya tersebut, salicylic acid sangat bermanfaat bagi kulit berminyak dan rentan berjerawat. Namun, karena sifatnya cukup kuat, pada kulit kering atau sensitif penggunaannya bisa memicu kemerahan dan rasa perih sehingga perlu berhati-hati.
Meski ada bahan yang perlu dihindari, bukan berarti salicylic acid tidak bisa berpadu dengan kandungan lain.
Sebaliknya, ada kombinasi yang justru memberikan hasil optimal. Niacinamide, misalnya, mampu menenangkan sekaligus menjaga kelembapan kulit sehingga mengurangi risiko kering akibat penggunaan BHA.
Selain itu, hyaluronic acid juga menjadi pasangan ideal karena berperan sebagai humektan yang menarik air ke permukaan kulit dan menjaga elastisitas.
Tidak hanya itu, vitamin C pun dapat digunakan bersama salicylic acid, asalkan dipisahkan waktunya.
Vitamin C lebih cocok diaplikasikan di pagi hari, sedangkan salicylic acid bekerja efektif di malam hari untuk membersihkan kotoran yang menumpuk sepanjang hari.
Agar hasilnya semakin baik, jangan lupakan langkah penting berupa penggunaan pelembap setelah memakai salicylic acid. Hal ini akan membantu menenangkan kulit, memperkuat lapisan pelindung, serta menjaga hidrasi agar kulit tetap sehat.
Di samping itu, penggunaan berlapis-lapis produk yang sama-sama mengandung salicylic acid sebaiknya dihindari.
Karena molekulnya berukuran kecil dan mampu menembus jauh ke dalam kulit, pemakaian berlebihan bisa memicu kekeringan, iritasi, hingga sensitivitas berlebih.
Dengan memahami bahan mana yang aman dipadukan dan mana yang perlu dipisahkan, rutinitas perawatan kulit dapat berjalan lebih seimbang.
Salicylic acid akan benar-benar menjadi kunci perawatan kulit yang efektif, memberi hasil optimal, sekaligus menghindarkan dari risiko yang tidak diinginkan.(DANI)
Baca juga: Perbedaan Exfoliating dan Peeling yang Harus Diketahui sebelum Memakai Skincare