Konten dari Pengguna

Sinopsis Buku Layar Terkembang, Mengungkap Rahasia Hidup pada Masa Kolonial

N

Nadira Lestari Amirah

Pecinta seni dan literatur

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadira Lestari Amirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sinopsis Buku Layar Terkembang, Foto:Unsplash/Susan Q Yin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sinopsis Buku Layar Terkembang, Foto:Unsplash/Susan Q Yin

Sinopsis buku Layar Terkembang tidak hanya merangkum sebuah cerita fiksi, tetapi juga membuka pintu untuk memahami perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonial.

Novel karya Sutan Takdir Alisjahbana ini pertama kali diterbitkan tahun 1936 dan menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah sastra modern Indonesia.

Dengan latar belakang era penjajahan Belanda, kisah dalam buku ini menyajikan potret nyata tentang pergulatan generasi muda yang mulai menyadari pentingnya pendidikan, kemerdekaan berpikir, serta emansipasi perempuan.

Sinopsis Buku Layar Terkembang

Ilustrasi Buku, Foto:Unsplash/Chris Lawton

Sinopsis buku Layar Terkembang mengajak pembaca menelusuri sebuah karya sastra klasik yang ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1937 oleh Balai Pustaka.

Dikutip dari laman ipusnas2.perpusnas.go.id, mengungkapkan bahwa novel ini menghadirkan kisah dua saudara perempuan, Tuti dan Maria, yang sama-sama menempuh pendidikan kedokteran.

Ceritanya tidak hanya memotret hubungan keluarga, tetapi juga menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia pada masa kolonial mulai bersentuhan dengan pemikiran Barat yang mengubah cara pandang hidup mereka.

Para ahli sastra menilai novel ini sebagai salah satu penanda lahirnya periode Pujangga Baru. Keunikan karyanya tampak dari penggunaan latar Batavia, berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya yang masih berpusat pada kota Melayu.

Konflik dibangun dari perbedaan karakter kedua tokoh utama. Maria digambarkan sebagai sosok ceria dan mudah terpesona, sementara Tuti ditampilkan sebagai pribadi tegas, cerdas, dan kritis dalam memandang sesuatu.

Perbedaan inilah yang memperkaya dinamika cerita. Novel ini menyoroti perjuangan perempuan Indonesia dalam meraih cita-cita, ketika sebagian masyarakat masih terikat pada pola pikir lama.

Isu-isu tentang kesetaraan hak, kebebasan berpikir, dan kemandirian perempuan muncul melalui percakapan, pilihan, serta tindakan tokoh-tokohnya.

Selain itu, benturan antara budaya Timur dan Barat serta nilai-nilai agama memberi kedalaman dalam alur cerita.

Kisah berawal dari kehidupan sehari-hari Tuti dan Maria. Tuti aktif di organisasi wanita, rajin berorasi mengenai kesetaraan, serta gemar membaca.

Meski menerima perhatian dari Supomo, seorang pemuda terpelajar, ia menolak karena merasa tidak sejalan dengan sosok yang diidamkan.

Di sisi lain, Maria dengan sifat periangnya berhasil memikat hati Yusuf, mahasiswa kedokteran dari Sekolah Tabib Tinggi. Pertemuan pertama mereka di gedung akuarium Pasar Ikan menumbuhkan benih cinta hingga berujung pada pertunangan.

Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Menjelang hari pernikahan, Maria jatuh sakit parah akibat malaria dan TBC, hingga akhirnya meninggal dunia di Sanatorium Pacet.

Dalam detik-detik terakhir, ia berpesan agar Tuti bersedia menerima Yusuf.

Dengan penuh keikhlasan, Tuti memenuhi pesan tersebut, hingga kemudian Yusuf dan Tuti bertunangan dan akhirnya menikah.

Melalui kisah yang menyentuh hati, novel ini tidak hanya menyoroti kehidupan personal para tokoh, tetapi juga mencerminkan pergulatan sosial pada masa kolonial.

Oleh sebab itu, sinopsis buku Layar Terkembang menjadi cermin berharga untuk memahami semangat perubahan, peran perempuan, serta benturan nilai yang membentuk arah kehidupan bangsa. (DANI)

Baca juga: Sinopsis Buku Atomic Habits yang Penting untuk Kehidupan