Ilmu yang Menyentuh Hati: Jejak Irfani Syaikhona Kholil dan Ra lilur

Mahasiswi Jurusan Hukum Tata Negara. Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bangkalan, Komisariat Cakraningrat Galis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadiya Islamiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah dunia yang semakin bising oleh perdebatan dan informasi tanpa henti, sering kali kita lupa bahwa tidak semua pengetahuan lahir dari retorika atau logika. Dalam tradisi Islam, dikenal satu jalan sunyi yang ditempuh para pecinta Tuhan, jalan itu ialah irfani yakni pengetahuan yang muncul dari kejernihan hati, keikhlasan jiwa, dan pengalaman batin yang jernih. Pengetahuan ini tidak didapat dari buku atau ceramah, tapi dari kedekatan dengan Sang Pencipta.
Di Madura, pengetahuan irfani bukan hanya menjadi cerita masa lalu. Ia justru hidup dalam ingatan kolektif masyarakat lewat sosok-sosok besar seperti Syaikhona Kholil Bangkalan (1800-1903) dan KH. Ahcmad Kholilurrahman (Ra Lilur). Mereka adalah contoh nyata bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari gelar akademik, melainkan dari perilaku hidup yang bersih, sabar, dan penuh kedekatan spiritual.
Syaikhona Kholil, merupakan seorang kiai kharismatik serta guru dari pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy'ari yang bukan hanya dikenal karena keluasan ilmunya tapi juga karena kedalaman spiritualnya. Salah satu karomah beliau yang sering diceritakan adalah kemampuannya mengetahui siapa murid yang datang dengan niat tulus dan siapa yang sekadar ingin berguru karena nama besar. Beliau tidak mengandalkan logika manusia biasa, melainkan ilham dari hati yang bersih, yang dilatih dengan zikir, ibadah malam, dan kesungguhan rohani.
Pengetahuan yang dimiliki oleh beliau tidak hanya bersifat fikih dan ilmu alat. Tetapi juga hikmah, kebijaksanaan, dan kejernihan dalam membaca zaman. Itulah yang membuat murid-muridnya mampu menjadi tokoh besar, karena mereka tidak hanya diajarkan ilmu, tapi juga ditempa jiwanya.
Begitu juga dengan cicitnya, KH. Ahcmad Kholilurrahman atau yang akrab disapa Ra Lilur. Beliau dikenal masyarakat Bangkalan sebagai sosok nyentrik dan misterius. selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok wali Allah yang hidup sederhana dan bahkan sering dianggap “tidak biasa” oleh pandangan umum.
Namun, banyak orang dari berbagai daerah datang kepadanya untuk sekadar duduk, mendengarkan kalimat sederhana, dan pulang dengan hati yang damai. Konon, ia sering memberi nasihat yang tepat sasaran, padahal tidak ditanya terlebih dahulu. Inilah bentuk dari pengetahuan yang lahir dari batin yang jernih pengetahuan yang tidak dipelajari, tetapi disingkapkan.
Cerita-cerita tentang mereka tentu bukan soal keajaiban semata, tapi tentang bagaimana seseorang yang bersih jiwanya bisa melihat lebih dalam, lebih tajam, dan lebih arif terhadap hidup. Ia tidak bicara panjang lebar, tapi maknanya menggetarkan. Pengetahuannya tidak teknis, tetapi menyentuh lapisan terdalam manusia.
Sayangnya di era digital dimana informasi dapat diperoleh tanpa henti seperti hari ini, pendekatan irfani ini mulai kehilangan tempat. Masyarakat, termasuk sebagian kalangan santri, terlalu sibuk mengejar gelar, hafalan, dan logika debat. Kita lupa bahwa pengetahuan tanpa kejernihan hati bisa menjadi alat kesombongan, bukan petunjuk kebenaran.
Kita menyaksikan sendiri bagaimana banyak orang yang pandai berbicara soal agama, tapi mudah marah, merasa paling benar, dan merendahkan yang lain. Ini adalah tanda bahwa pengetahuan belum menyatu dengan jiwa, belum menjadi hikmah. Padahal dalam Islam, hikmah adalah buah dari hati yang bersih, bukan semata-mata hasil diskusi panjang.
Pendekatan irfani tidak menolak ilmu rasional atau teks suci. Ia justru menyempurnakannya. Ia mengajarkan bahwa sebelum bicara, kita harus mendengar. Sebelum menilai, kita harus memahami. Dan sebelum mencari kebenaran di luar, kita harus menemuinya dalam diri sendiri.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, jalan irfani memang tampak tidak populer. Ia sunyi, lambat, dan menuntut kejujuran kepada diri sendiri. Tapi justru di situlah nilainya. Dari kejernihan jiwa, lahirlah pengetahuan yang tidak sekadar benar di kepala, tapi juga menyentuh hati dan membimbing laku hidup. Kisah Ra Lilur dan Syaikhona Kholil adalah pengingat bahwa ada jenis ilmu yang tak bisa dicari, tapi akan datang kepada jiwa yang siap menerimanya.
