Konten dari Pengguna

Cak Munir di Malioboro: Gerakkan Persatuan, Kobarkan Api Muda Perjuangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadya Rizka Lhaksita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kolaborasi antara seni dan orasi di Malioboro. (Dok.Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kolaborasi antara seni dan orasi di Malioboro. (Dok.Pribadi)

Gerakan persatuan bertajuk ‘Cak Munir di Malioboro’ diselenggarakan oleh Social Movement Institute (SMI) pada Sabtu, 26 September 2026 di Titik Nol Kilometer, Malioboro, Yogyakarta. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenang Munir dan jasa-jasanya sekaligus mengenalkan kembali sosoknya kepada masyarakat. Pemilihan Malioboro sebagai lokasi kegiatan juga menjadi strategi SMI untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama karena kawasan tersebut ramai dikunjungi masyarakat pada malam Minggu.

SMI ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk terus mengenang Munir dan jasa-jasanya dengan strategi baru yang menyesuaikan selera masyarakat. Musik dan pertunjukan seni menjadi magnet karena memiliki daya tarik tersendiri. SMI juga turut mengenalkan Munir kepada anak-anak TK melalui cara yang menyenangkan, berupa lomba mewarnai di atas sketsa wajah Munir. Tujuannya agar anak-anak juga mengetahui bahwa pahlawan Indonesia tidak hanya Soekarno-Hatta dan mereka yang hidup pada zaman revolusi, tetapi juga ada sosok seperti Munir yang semangat perjuangannya dapat diteladani oleh generasi muda masa kini.

Selain lomba mewarnai, SMI memiliki agenda bernama Walking Tour yang bertujuan mengenal Munir lebih baik, termasuk mengetahui sisi-sisi kepribadiannya yang belum banyak diketahui publik. Dalam kegiatan tersebut, SMI mengundang orang-orang yang pernah hidup di lingkungan Munir untuk bercerita mengenai sosok dan hal-hal yang membentuk Munir menjadi seorang pejuang.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan aksi Kamisan dan orasi di lima titik sepanjang Malioboro, mulai dari Hotel Garuda, gedung DPRD, Mall, Pasar Beringan, dan Titik Nol. Pada masing-masing titik, kegiatan tidak hanya berfokus pada orasi, tetapi diselingi dengan penampilan musik dan flashmob dari rekan-rekan SMI. SMI menilai gerakan sosial tidak harus selalu dilakukan dengan demonstrasi di depan gedung DPR, tetapi dapat dilakukan melalui cara yang menghibur dengan pendekatan budaya untuk mendekatkan isu kepada masyarakat.

Joko, desainer grafis Social Movement Institute, menyampaikan bahwa seiring waktu berjalan, orang-orang mulai melupakan Munir. Bahkan, banyak orang tidak mengetahui siapa Munir. Menurutnya, semangat yang dibawa Munir perlu dihidupkan kembali karena negeri ini telah kehilangan teladan.

“Mistar besi yang tidak bisa dibengkokkan itu Cak Munir. Dia dibunuh karena tidak bisa dibeli,” ujarnya.

Menurut Joko, Munir merupakan sosok yang bersedia mengorbankan segala yang dimilikinya dan memilih jalan panjang, atau yang ia istilahkan sebagai jalan pedang. Munir juga dikenal sebagai sosok yang tidak dapat disuap maupun dibeli dan memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.

Selain mengenang sosok Munir, kegiatan tersebut juga bertujuan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang dibawanya, seperti melawan militerisme dan pelanggaran HAM, melindungi masyarakat kecil, serta menegakkan hukum yang berpihak kepada orang-orang lemah.

SMI sendiri telah rutin mengadakan kegiatan untuk mengenang Munir setiap September. SMI berdiri sejak 2013 dan memiliki tiga agenda utama, yaitu pendidikan, advokasi, dan kampanye. Pendidikan dilakukan untuk mendorong anak muda terjun dalam gerakan sosial, sedangkan advokasi dilakukan melalui pendampingan terhadap korban ketidakadilan, konflik agraria, serta konflik dengan negara dan aparat keamanan. Sementara itu, kampanye dilakukan untuk merespons berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat melalui sejumlah kanal, seperti media sosial dan YouTube.

“Saya aja gak tahu September Hitam itu apa,” ujar Widianto, Komandan Patroli Polresta Yogyakarta, saat ditemui pada Sabtu (26/09/2026).

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pengenalan kembali sosok Munir dan rangkaian perjuangannya masih menjadi bagian dari upaya yang dilakukan SMI melalui kegiatan ‘Cak Munir di Malioboro’.