Ketika Air Mata Laki-laki Melawan Stigma Maskulinitas

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nadya Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat kerap sepakat bahwa air mata adalah simbol kelemahan, dan laki-laki dituntut untuk selalu kokoh bak batu karang, menyembunyikan segala beban di balik wajah yang datar. Namun, benarkah emosi harus dibatasi oleh gender?
Sering kali, media populer menggambarkan tokoh utama laki-laki sebagai pahlawan yang tanpa celah dan tanpa air mata. Namun, cerpen ini mengambil rute yang berbeda. Penulis berani memperlihatkan sisi paling rapuh (vulnerability) dari seorang laki-laki. Sisi rapuh yang sebetulnya sangat manusiawi.
Melalui cerpen bertajuk "Hari Itu Khairul Menangis" yang dipublikasikan di Kompas, pembaca diajak untuk merubuhkan tembok stigma tersebut. Cerpen ini bukan sekadar berkisah tentang air mata yang menetes, melainkan sebuah dekonstruksi mendalam terhadap konsep toxic masculinity yang selama ini Hari Itu Khairul Menangis
Tokoh Khairul dalam cerpen ini dihadirkan bukan sebagai sosok yang lemah tanpa daya. Sebaliknya, tangisan Khairul adalah puncak dari akumulasi emosi, beban hidup, tekanan, atau mungkin kehilangan yang tak lagi sanggup ditampung oleh dadanya. Menangis tidak membuat maskulinitas Khairul luntur. Justru, air mata itu menjadi ruang katarsis—sebuah bentuk kejujuran pada diri sendiri bahwa ia hanyalah manusia biasa, bukan robot yang diprogram untuk selalu kuat.
Mengapa cerita seperti Khairul ini penting untuk ditulis dan dibaca secara luas? Jawabannya sederhana: karena kita sedang darurat kesehatan mental.
Cerita berpusat pada tokoh Khairul, seorang pria yang telah lama merantau meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib. Selama di perantauan, ingatan akan memori masa kecil, kehangatan rumah, dan bentang alam kampungnya selalu menjadi bahan bakar semangatnya untuk bertahan hidup.
Khairul digambarkan sebagai sosok perantau yang tangguh, gigih, dan tipikal laki-laki mandiri. Namun, ia bukanlah karakter satu dimensi yang selalu kuat. Penulis dengan jeli memberikan ruang bagi Khairul untuk menjadi manusia seutuhnya yang memiliki titik nadir dan kerapuhan (vulnerability).
Latar tempat beralih dari kerasnya kota perantauan ke kampung halaman yang seharusnya membawa kedamaian.
Setelah bertahun-tahun banting tulang, Khairul akhirnya memutuskan untuk pulang mudik. Namun, kepulangannya justru menjadi sebuah tamparan yang hebat. Saat menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, realitas berkata lain:
“Khairul memang sudah jarang pulang ke asalnya. Sudah sangat lama dia tidak memiliki kerabat lagi di kampung itu. Terakhir kali Khairul pulang, kampungnya nyaris tidak bisa dikenal lagi.”
Konflik batin justru memuncak di latar yang dianggap "aman" (kampung halaman), menciptakan suasana melankolis, asing, dan tragis.
Kampung halaman yang ada di memorinya telah berubah total atau mengalami kerusakan parah akibat desakan modernisasi, industri, atau perubahan lingkungan. Rumah masa kecil tempat ia tumbuh, pohon-pohon, dan ruang-ruang publik tempat ia menenun kenangan telah hilang atau berganti rupa menjadi lanskap yang asing dan dingin. Kehilangan ruang aman dan identitas masa lalu ini meruntuhkan seluruh pertahanan ego maskulinnya. Hari itu, di tengah keterasingan di kampungnya sendiri, Khairul melepaskan seluruh egonya dan menangis sejadi-jadinya.
Tangisan itu menjadi valid karena ada hal-hal di dunia ini yang memang terlalu besar untuk ditahan sendirian, salah satunya adalah hilangnya asal-usul diri.
Cerpen ini berhasil karena tidak terjebak menjadi sekadar cerita romansa atau drama keluarga picisan. Lewat narasi kepulangan Khairul, penulis berhasil mengawinkan kritik lingkungan hidup dengan eksplorasi psikologis terdalam manusia mengenai arti sebuah "Rumah".
Berdasarkan teori pengkajian fiksi Burhan Nurgiyantoro, cerpen "Hari Itu Khairul Menangis" karya Herpin Nopiandi Khurosan dapat dianalisis unsur-unsur intrinsiknya secara terpadu.
Dari segi tokoh dan penokohan, Khairul hadir sebagai protagonis yang rapuh namun memiliki daya bangkit yang luar biasa. Melalui teknik dramatik, karakternya terungkap lewat memori masa lalu dan pergolakan batinnya, bukan sekadar narasi langsung, sehingga pembaca dapat merasakan kesedihan mendalam seorang anak yang terluka akibat label negatif gurunya di masa kecil, sebelum akhirnya ia tumbuh menjadi relawan kemanusiaan yang matang.
Alur cerita bergerak secara campuran (maju-mundur) dengan klimaks yang menyentuh ingatan masa lalu di ruang kelas, ketika air mata Khairul tumpah setelah namanya dipermalukan di papan tulis oleh sang guru Bahasa Indonesia di depan teman-temannya. Struktur ini menjembatani masa lalu yang pahit dengan masa kini yang penuh keharuan.
Latar perjalanan pulang dan ruang kelas masa lalu bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol psikologis perjalanan sebuah luka batin yang bertransformasi menjadi penerimaan.
Tema sentral yang kuat mengenai trauma masa kecil dan perdamaian takdir melahirkan amanat yang berbicara paling keras: bahwa masa lalu yang menyakitkan tidak selalu menentukan batas akhir hidup seseorang. Mengubah luka masa lalu menjadi sebuah jalan pengabdian—sebagaimana Khairul yang akhirnya justru menjadi guru Bahasa Indonesia—adalah puncak kedewasaan tertinggi seorang manusia, membuktikan bahwa ingatan kelam bisa dipeluk dengan keikhlasan demi menjadi manusia yang lebih berempati.
Daftar Pustaka
Khurosan, Herpin Nopiandi. (2024). Hari Itu Khairul Menangis. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/hari-itu-khairul-menangis
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
