Bahaya Sinar Biru Handphone dan Komputer Bagi Kesehatan Mata Remaja

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2018
Tulisan dari Nafa Audrey Rahadyan Baroto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Keberadaan teknologi mampu membuat seseorang untuk berkomunikasi, belajar, dan berpikir. (1) Penyampaian pesan melalui e-mail, sms, videocall, telfon, media sosial, dan lainnya merupakan metode komunikasi baru yang diberikan oleh teknologi. (2) Pembelajaran-pun menjadi lebih interaktif dan kolaboratif sehingga merangsang otak untuk berfikir secara lebih kritis. (1)
Berdasarkan data survey penggunaan teknologi informasi dan komunikasi pada tahun 2017 di Indonesia, tercatat penggunaan komputer sebesar 7,17% (9 – 19 tahun), 8,56% (20 - 29 tahun), 8,75% (30 - 49 tahun), dan 6% (50 - 65 tahun). Pada penggunaan komputer jinjing tercatat sebanyak 15,94% (9 –19 tahun), 27,59% (20 - 29 tahun), 23,12% (30 - 49 tahun), dan 14,24% (50 - 65 tahun). Serta pada penggunaan handphone sebanyak 65,34% (9 - 19 tahun), 75,95% (20 - 29 tahun), 68,34% (30 – 49 tahun), dan 50,79% (50 - 65 tahun). Secara garis besar, terlihat bahwa pengguna tertinggi pada fase remaja (10 – 24 tahun). (3)
Remaja merupakan peralihan dari anak – anak ke dewasa dengan mengalami tanda perubahan biologis, psikologis, dan sosial. (5) Sedangkan berdasarkan WHO, remaja adalah seseorang yang telah memasuki tahap anak – anak ke dewasa dengan rentang usia 10 – 24 tahun. (6)
Pada umumnya, penggunaan teknologi komputer dan handphone pada remaja memiliki tujuan untuk membantu dalam pembelajaran. (1) Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, komputer maupun handphone memiliki fungsi yang berbeda. Komputer menurut Robert H. Blissmer, berfungsi untuk menerima input, memproses input sesuai dengan instruksi yang diberikan, menyimpan beberapa perintah dan hasil pengolahannya, serta menyediakan output dalam bentuk informasi. (7) Sedangkan handphone berfungsi untuk komunikasi eletronik dua arah yang dapat digunakan dimanapun serta memilki kemampuan dalam mengirim pesan berbentuk suara, media penghibur, media bisnis, dan lainnya. (8)
Seiring berkembangnya waktu, handphone muncul dengan istilah smartphone. Pengertian smartphone menurut Sawyer dan Williams adalah telepon genggam yang dilengkapi dengan prosesor mikro, memori, tampilan layar dan modern built-in. (9) Smartphone memungkinkan seseorang mendapatkan fasilitas telepon dan internet secara bersamaan. (10)
Komputer dan handphone dapat memancarkan sinar biru. Sinar tersebut merupakan salah satu spektrum cahaya yang dapat dilihat oleh manusia (visible light) dengan panjang gelombang antara 400 hingga 500 nm. (13) Sinar biru membantu mata dalam proses penglihatan namun dapat memberikan dampak negatif juga terhadap kesehatan mata jika terpapar berlebihan. (14)
Durasi Ideal dalam penggunaan komputer sekitar 4 jam dan pada penggunaan handphone sekitar 4 jam 17 menit. (11) (12). Namun nyatanya, berdasarkan survey teknologi infromasi dan komunikasi pada tahun 2017, di Indonesia tercatat bahwa durasi penggunaan diatas 4 jam 17 menit sekitar 43,67% (komputer), 45,42% (komputer jinjing) dan 51,52% (handphone) dengan mayoritas penggunanya adalah remaja. (3) Oleh karena itu, remaja Indonesia memiliki risiko tinggi untuk memiliki gangguan kesehatan mata.
Penyakit yang dapat ditimbulkan karena paparan sinar biru yang berlebih ada begitu banyak. Pertama astenopia, berdasarkan data di dunia pada tahun 2019, sekitar 40% remaja menderita penyakit tersebut. (17) Penyakit yang biasa disebut dengan kelelahan mata ini, ditandai dengan sakit kepala, penglihatan kabur, mata kering, dan khususnya adanya sensasi benda asing disekitar mata bahkan hingga rasa terbakar pada mata. (13) (14) Gejala tersebut disebabkan oleh ketegangan otot – otot ocular yang dipaksa untuk bekerja (melihat objek) secara dekat dengan waktu yang lama. (13)
Kedua yaitu Computer Vision Syndrome (CVS), menurut hasil penelitian yang dilakukan terhadap seluruh mahasiswa di Malaysia pada tahun 2019 terdapat 89,9% menderita CVS. (18) Penyakit tersebut memiliki gejala seperti; ketegangan mata, kemerahan, sakit kepala, penglihatan kabur, mata yang kering serta pada umumnya adanya nyeri leher dan bahu. Beberapa gejala tersebut biasa muncul ketika tengah hari ataupun sore hari. Munculnya penyakit ini tidak hanya disebabkan oleh sinar biru saja, namun didukung pula dengan kurang atau berlebihnya pencahayaan, jarak pandang yang tidak sesuai, postur duduk yang salah hingga gangguan mata bawaan. (15)
Terakhir, Age Related Macular Gegeneration (ARMD) atau terkenal dengan degenerasi makula. (16) Penyakit ini menyerang langsung ke bagian retina mata, yang memiliki potensi kebutaan cukup tinggi. Gejala yang ditimbulkan tidak dapat terlihat secara langsung namun harus melalui serangkain tes. Pelaksanaan tes akan memperlihatkan adanya lesi atau luka pada retina. (13)
Namun tak perlu khawatir, berbagai penyakit yang disebabkan oleh paparan sinar biru dapat dicegah. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan seperti mengatur waktu penggunaan handphone maupun komputer maksimal 4 jam dalam sehari, menggunakan kacamata dengan lensa anti sinar biru, melakukan blinking atau kedipan sesering mungkin, mengatur posisi duduk, dan mengatur pencahayaan yang cukup. (15)
Sedangkan pada penanggulangan, dapat dilakukan dengan penggunaan obat salep ataupun tetes mata yang mengandung antioksidan, penggunaan kacamata berlensa yang dianjurkan oleh dokter, terapi penglihatan, hingga melakukan operasi. (15) (16)
Mengingat kembali fungsi dari remaja sebagai the agent of change bagi suatu negara. Oleh karena itu, perlu diarahkan dan dijaga. Adanya upaya untuk menjaga kondisi remaja salah satunya dengan membantu menjaga kesehatan mata pada era digital ini. Dengan mata yang sehat, remaja dapat tetap terus berproduktif secara maksimal sehingga dapat membawa perubahan kepada negara.
Referensi :
1. Allen M. Technological Influence on Society | BCTV [Internet]. BCTV. 2019 [cited 24 November 2020]. Available from: https://www.bctv.org/2019/11/07/technological-influence-on-society/
2. Perkembangan Teknologi Informasi “Tradisi Media Lisan, Cetak, Era First Age Media, Second Age Media, Era digital”. | BINUS UNIVERSITY MALANG | Pilihan Universitas Terbaik di Malang [Internet]. BINUS UNIVERSITY MALANG | Pilihan Universitas Terbaik di Malang. 2018 [cited 24 November 2020]. Available from: https://binus.ac.id/malang/2018/07/perkembangan-teknologi-informasi-tradisi-media-lisan-cetak-era-first-age-media-second-age-media-era-digital/
3. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Survey Penggunaan TIK 2017 Serta Implikasinya Terhadap Aspek Sosial Budaya Masyrakat. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik; 2017.
4. Jahja Y. Psikologi Perkembangan [Internet]. 1st ed. Prenadamedia Group; 2011 [cited 24 November 2020]. Available from: https://books.google.co.id/books?id=5KRPDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_atb#v=onepage&q&f=false
5. Sofia A, Adiyanti M. Hubungan Pola Asuh Otoritaf Orang Tua Dan Konformitas Teman Sebaya Terhadap Kecerdasan Moral. Jurnal Pendidikan Progresif [Internet]. 2014 [cited 24 November 2020];4. Available from: http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/jpp/article/view/7760
6. Adolescent health [Internet]. Who.int. [cited 24 November 2020]. Available from: https://www.who.int/westernpacific/health-topics/adolescent-health
7. Blissmer R. Computer annual. New York: Wiley; 1987.
8. Apa itu Handphone? [Internet]. Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika. 2019 [cited 24 November 2020]. Available from: https://student-activity.binus.ac.id/himti/2019/08/26/apa-itu-handphone/
9. Williams B, Sawyer S. Using information technology. New York, NY: McGraw-Hill; 2011.
10. Pinasti D, Kustanti E. Hubungan antara Empati dengan Adiksi Smartphone pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang. Empati: Jurnal Karya Ilmiah S1 Undip [Internet]. 2017 [cited 24 November 2020];7(3). Available from: https://www.neliti.com/publications/183150/hubungan-antara-empati-dengan-adiksi-smartphone-pada-mahasiswa-fakultas-ilmu-bud
11. Putri D, Mulyono M. Hubungan Jarak Monitor, Durasi Penggunaan Komputer, Tampilan Layar Monitor, dan Pencahayaan dengan Keluhan Kelelahan Mata. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health. 2018;7(1):1.
12. Tanenbaum A. Computer Networks. 5th ed. Pearson; 2013.
13. [Internet]. Eprints.umm.ac.id. 2020 [cited 2 December 2020]. Available from: http://eprints.umm.ac.id/54906/3/BAB%20II.pdf
14. Yuniza I. Pengaruh Penggunaan Komputer Terhadap Waktu Pemulihan Makula Pegawai Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Ditinjau dari Pemeriksaan Photostress Test. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala; 2014.
15. Computer vision syndrome (Digital eye strain) [Internet]. Aoa.org. 2020 [cited 2 December 2020]. Available from: https://www.aoa.org/healthy-eyes/eye-and-vision-conditions/computer-vision-syndrome?sso=y&ct=bf81612c45917bb421c2e881a3a62bea1446ee5ac204b67e09da466d62e5
16. Amalia H. Efek sinar biru pada kornea, lensa dan retina. Jurnal Biomedika dan Kesehatan. 2019;2(1):1-2.
17. Hashemi H, Saatchi M, Yekta A, Ali B, Ostadimoghaddam H, Nabovati P et al. High Prevalence of Asthenopia among a Population of University Students. Journal of Ophthalmic and Vision Research. 2019;.
18. Reddy S, Low C, Lim Y, Low L, Mardina F, Nursaleha M. Computer vision syndrome: a study of knowledge and practices in university students. Nepalese Journal of Ophthalmology. 2013;5(2):161-168.
