Konten dari Pengguna

Layar Lebar dan Ratna Asmara: Aktris yang Tenggelam dalam Maskulinitas Perfilman

Nafiatul Ummah

Nafiatul Ummah

Presidium Formaci

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nafiatul Ummah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Tempo.co
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Tempo.co

Sejarah perfilman Indonesia sering kali dinarasikan sebagai sebuah panggung megah yang hanya menyorot segelintir nama besar dan hampir seluruhnya adalah laki-laki. Kita dengan fasih menyebut Usmar Ismail sebagai Bapak Film Nasional, atau mengenal Djamaluddin Malik sebagai tokoh industri yang tangguh. Namun, di tengah sorot lampu yang maskulin itu, ada sosok perempuan yang justru datang lebih awal, mendobrak pintu produksi, namun perlahan dibiarkan memudar dalam ingatan kolektif bangsa. Perempuan tersebut adalah Ratna Asmara.

Ia bukan sekadar pemanis layar atau aktris yang menunggu arahan. Ratna Asmara adalah sutradara perempuan pertama di Indonesia. Namun, alih-alih diabadikan sebagai pionir, namanya justru seringkali tenggelam di balik narasi sejarah yang sempit. Sejarah sering kali tidak memberi cukup ruang bagi perempuan untuk berdiri sebagai subjek kreatif yang mandiri. Dan menggali kembali jejak Ratna Asmara adalah sebuah upaya untuk menggugat ketidakadilan sejarah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Perempuan yang Mendahului Zaman

Lahir dengan nama asli Suratna, sosok yang kemudian kita kenal sebagai Ratna Asmara ini adalah anomali di zamannya. Pada era 1930-an hingga 1950-an, industri hiburan di Hindia Belanda yang kini kita sebut sebagai Indonesia adalah wilayah yang keras dan didominasi oleh laki-laki. Baik di depan maupun di belakang layar. Ratna memulai kariernya di panggung sandiwara, bergabung dengan kelompok ternama Dardanella yang legendaris. Di sanalah ia mengasah ketajaman artistiknya. Tidak hanya sebagai penampil, tetapi sebagai pengamat yang jeli terhadap cara sebuah cerita dikonstruksi.

Identitas Ratna sering kali direduksi sebagai istri dari Andjar Asmara, tokoh teater dan film terkemuka. Memang benar bahwa kemitraan intelektual dan kreatif mereka sangat kuat, namun menempatkan Ratna hanya sebagai pendamping adalah kekeliruan sejarah yang fatal.

Pada tahun 1950, tepat ketika Indonesia baru saja mencicipi kedaulatan penuh. Ratna Asmara mengambil langkah berani yang melampaui zamannya, yakni ia menyutradarai film Sedap Malam. Pencapaian ini monumental.

Perlu diingat bahwa pada tahun 1950, struktur sosial Indonesia masih sangat konservatif. Gagasan tentang seorang perempuan berdiri di balik kamera, memberikan instruksi kepada kru yang mayoritas laki-laki, dan mengatur visi artistik sebuah film adalah sesuatu yang radikal. Sedap Malam bukan sekadar debut, melainkan sebuah pernyataan politik bahwa perempuan mampu menguasai teknologi dan narasi.

Jika kita membandingkannya dengan Usmar Ismail yang merilis Darah dan Doa pada tahun yang sama, kita melihat sebuah ketimpangan dalam cara sejarah mencatat. Betul bahwa Usmar Ismail diangkat sebagai pahlawan karena membawa napas nasionalisme dalam estetika filmnya. Namun, keberanian Ratna untuk masuk ke ranah produksi di tengah keterbatasan akses bagi perempuan adalah suatu capaian yang sangat memukau. Ratna bukan pelengkap sejarah. Ia adalah pelopor yang berdiri sejajar di garis awal pembangunan identitas sinema Indonesia. Ia membuktikan bahwa produksi film bukan hanya soal alat dan modal. Tapi soal keberanian mengambil ruang yang selama ini diharamkan bagi gendernya.

Bayang-Bayang Patriarki dalam Penulisan Sejarah

Mengapa nama Ratna Asmara begitu sulit ditemukan dalam buku-buku teks sejarah sekolah? Mengapa namanya jarang disebut dalam seminar-seminar besar mengenai estetika film nasional? Jawabannya tidak terletak pada kualitas karyanya. Melainkan pada bagaimana sejarah itu sendiri ditulis.

Nama Ratna Asmara lebih sering muncul sebagai catatan kaki atau lampiran dari biografi suaminya, Andjar Asmara. Fenomena ini adalah bentuk dari penghapusan sistematis (erasured) yang dialami oleh banyak perempuan intelektual di Indonesia.

Fenomena ini dijelaskan dengan sangat tajam oleh Simone de Beauvoir, filsuf eksistensialis asal Prancis, dalam bukunya The Second Sex (1949). Beauvoir mencatat sebuah realitas pahit: "He is the Subject, he is the Absolute - she is the Other." (Laki-laki adalah Subjek, ia adalah Yang Absolut - perempuan adalah Liyan.)

Dalam narasi sejarah film kita, laki-laki selalu diposisikan sebagai "Subjek" atau tokoh utama, sementara Ratna dijadikan "Liyan". Atau dalam budaya patriarki, pencapaian seorang perempuan sering kali "dihibahkan" kepada laki-laki terdekatnya; ayah, suami, atau mentornya. Seolah-olah, mustahil bagi seorang perempuan untuk memiliki agensi kreatif tanpa supervisi maskulin.

Penulisan sejarah perfilman kita cenderung bersifat maskulin dan selektif. Ratna Asmara adalah korban nyata dari invisible contribution. Meskipun ia menyutradarai beberapa film lain setelah Sedap Malam, seperti Musim Bunga di Selabintana (1951) dan Dr. Samsi (1952). Namun, namanya tetap gagal bersaing dengan kanon sutradara laki-laki yang dipuja-puji oleh para kritikus sejarah yang juga mayoritas laki-laki.

Kritik ini bukan bermaksud mengecilkan peran tokoh laki-laki, melainkan untuk menunjukkan bahwa ada bias dalam cara kita mengingat. Sejarah yang kita konsumsi hari ini adalah hasil kurasi yang dipengaruhi oleh struktur kekuasaan zaman tersebut. Ketika kurator sejarahnya adalah mereka yang memiliki perspektif patriarki, maka tokoh seperti Ratna Asmara akan selalu ditempatkan di pinggiran. Dianggap sebagai pembeda yang menarik namun tidak esensial. Padahal pembeda tersebut adalah fondasi utama industri.

Mengapa Ratna Asmara Penting Hari Ini?

Membicarakan Ratna Asmara di abad ke-21 bukanlah sebuah upaya nostalgia yang cengeng. Ini adalah bagian dari perjuangan untuk memperbaiki cara kita memahami jati diri bangsa. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender dan representasi perempuan di industri kreatif saat ini, sosok Ratna menjadi sangat krusial.

Kritikus dan aktivis bell hooks dalam bukunya Ain't I a Woman?: Black Women and Feminism (1981) menekankan pentingnya melihat marginalisasi yang berlapis. Ia pernah menulis: "Feminism is a movement to end sexism, sexist exploitation, and oppression." (Feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi seksis, dan penindasan.)

Tanpa pengakuan yang layak terhadap tokoh seperti Ratna, narasi tentang kemajuan perempuan Indonesia akan selalu terasa timpang. Kita seolah-olah merasa bahwa kehadiran sutradara perempuan hebat masa kini seperti Kamila Andini, Mouly Surya, atau Gina S. Noer adalah fenomena baru yang muncul dari ruang hampa. Padahal, jalan terjal itu sudah dibuka sejak tujuh dekade lalu oleh Ratna Asmara. Mengakui Ratna berarti mengakui bahwa perempuan telah memiliki kapasitas kepemimpinan kreatif sejak bayi republik ini dilahirkan.

Ratna Asmara adalah role model yang hilang. Pengakuan terhadapnya merupakan bentuk keadilan simbolik. Hal ini memberikan pesan kuat kepada generasi muda perempuan di sekolah film bahwa mereka tidak sedang mencoba menjadi pendatang baru di wilayah asing. Mereka sedang mengklaim kembali rumah yang pondasinya telah dibangun oleh nenek moyang mereka sendiri.

Jika kita melihat kondisi industri film hari ini, apakah perempuan benar-benar sudah setara? Meski jumlah pekerja film perempuan meningkat, posisi-posisi pengambil keputusan strategis dan akses terhadap pendanaan besar masih sering kali menunjukkan bias gender. Dengan mempelajari kegigihan Ratna Asmara dalam menembus tembok dominasi laki-laki di tahun 1950, kita mendapatkan energi dan strategi untuk terus mendobrak hambatan-hambatan struktural yang masih tersisa hingga kini. Mengingat Ratna adalah sebuah tindakan perlawanan terhadap amnesia sejarah yang sengaja dipelihara.

Mengoreksi Ingatan, Menata Masa Depan

Ratna Asmara telah menjalankan perannya dengan gemilang di masa lalu. Ia telah menanam benih keberanian dalam setiap bingkai film yang ia arahkan. Namun, adalah kesalahan kita sebagai pewaris sejarah jika kita membiarkan benih itu tertimbun oleh debu ketidakpedulian. Sejarah telah menutup pintu atas namanya, menyembunyikan kontribusinya di balik bayang-bayang besar tokoh-tokoh laki-laki.

Jika hari ini kita dengan bangga berbicara tentang keadilan, inklusivitas, dan kesetaraan, maka langkah konkret pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi ingatan kita sendiri. Kita tidak bisa membangun masa depan yang adil jika pondasi sejarah kita masih timpang dan bias. Kita berhutang pada Ratna Asmara, bukan sekadar sebuah nama dalam daftar penghargaan, tetapi sebuah pengakuan penuh bahwa ia adalah arsitek dari apa yang kita sebut sebagai sinema Indonesia.

Keadilan bukan hanya tentang apa yang akan kita capai di masa depan, tetapi juga tentang keberanian untuk menengok ke belakang dan mengakui siapa yang telah lebih dulu berdarah-darah membuka jalan, meski selama ini mereka dibiarkan hilang dari catatan. Sudah saatnya Ratna Asmara dipulangkan ke tempat yang seharusnya: di barisan terdepan para pelopor bangsa. Karena sebuah bangsa yang besar tidak hanya menghargai pahlawannya, tetapi juga memastikan tidak ada pahlawan yang dihapus paksa dari memorinya.