Kilas Balik dalam Membangun Tegangan Emosional pada Cerpen Kutukan Kartu Lebaran

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naila Aulia Rahmani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah karya sastra tidak hanya menarik karena peristiwa yang diceritakan, tetapi juga karena cara peristiwa tersebut disusun. Peristiwa yang sama dapat menghasilkan kesan yang berbeda apabila disajikan dengan urutan yang berbeda pula. Pengarang dapat menempatkan informasi tertentu di awal cerita, menunda bagian penting, atau menghadirkan kembali kejadian masa lalu agar cerita memberikan efek yang lebih kuat kepada pembaca. Oleh sebab itu, plot menjadi salah satu unsur penting dalam sebuah karya sastra karena melalui plot pengarang dapat mengatur pengalaman membaca seseorang.
"Plot cerpen pada umumnya tunggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir (bukan selesai, sebab banyak cerpen, juga novel, yang tidak berisi penyelesaian yang jelas, penyelesaian diserahkan kepada interpretasi pembaca). Urutan peristiwa dapat dimulai dari mana saja, misalnya dari konflik yang telah meningkat, tidak harus bermula dari tahap perkenalan (para) tokoh atau latar." (Nurgiyantoro 2002: 13)
Burhan Nurgiyantoro juga menjelaskan
"Plot Sorot-balik, Flash-back. Urutan kejadian yang dikisahkan dalam karya fiksi yang berplot regresif tidak bersifat kronologis, cerita tidak dimulai dari tahap awal (yang benar-benar merupakan awal cerita secara logika), melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan." (Nurgiyantoro 2002: 154)
Penggunaan teknik tersebut terlihat dalam cerpen “Kutukan Kartu Lebaran” karya Karisma Fahmi Y. yang diterbitkan di Kompas.id pada 27 April 2023. Cerpen ini tampak sederhana karena hanya memperlihatkan Murni yang sedang membaca kartu-kartu Lebaran dari murid-muridnya. Namun, di balik kesederhanaan tersebut pengarang menyusun cerita secara bertahap sehingga pembaca tidak langsung mengetahui latar belakang kehidupan Murni maupun alasan di balik perasaannya yang mendalam. Informasi mengenai kehidupan tokoh dimunculkan melalui kilas balik yang muncul sepanjang cerita. Tulisan ini bertujuan membahas bagaimana penggunaan kilas balik dalam cerpen tersebut mampu membangun ketegangan emosional bagi pembaca.
Cerita Tidak Dimulai dari Awal Peristiwa
Hal yang menarik dari cerpen ini terlihat sejak bagian awal cerita. Pengarang tidak membuka cerita dengan memperkenalkan latar belakang Murni atau menjelaskan kehidupannya sejak awal. Sebaliknya, pembaca langsung diperlihatkan situasi ketika Murni sedang membuka kartu-kartu Lebaran yang diberikan murid-muridnya.
“Murni tak pernah menyangka ia akan membaca kembali kartu Lebaran di malam Lebaran seperti ini. Ia seperti dihujani doa. Bibirnya terkatup menahan senyum yang tak dapat menahan isi perasaannya.” (Karisma Fahmi Y., 2023)
Kutipan tersebut langsung memperlihatkan suasana emosional tokoh, tetapi pembaca belum mengetahui alasan di balik perasaan yang dialaminya. Kalimat tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai alasan Murni begitu tersentuh oleh kartu-kartu yang diterimanya. Pengarang sengaja tidak memberikan penjelasan secara langsung sehingga pembaca dibuat penasaran dan terdorong untuk terus mengikuti cerita.
Cara seperti ini menunjukkan bahwa pengarang tidak sekadar menyampaikan peristiwa secara urut, tetapi juga mengatur kapan informasi diberikan. Ketika pembaca belum mengetahui keseluruhan cerita, rasa ingin tahu akan muncul dengan sendirinya. Rasa ingin tahu tersebut kemudian menjadi bagian yang mendorong pembaca untuk terus mengikuti jalannya cerita hingga akhir.
Kilas Balik sebagai Penyusun Plot
Kilas balik menjadi bagian penting dalam penyusunan plot cerpen ini. Informasi mengenai kehidupan Murni tidak diberikan sekaligus, tetapi disampaikan secara perlahan melalui ingatan tokoh.
Melalui kenangan tersebut, pembaca mulai mengetahui suasana masa kecil Murni bersama keluarganya.
“Seluruh keluarganya, ayah, ibu, kakak, serta adiknya akan berkumpul di ruang makan untuk membuka hadiah dan parcel yang mereka terima saat takbir pertama berkumandang pada malam itu.” (Karisma Fahmi Y., 2023)
Kutipan tersebut memperlihatkan suasana keluarga yang hangat dan penuh kebersamaan. Pengarang menghadirkan kenangan yang menyenangkan sebelum kemudian memperlihatkan pengalaman pahit yang dialami tokoh. Cara tersebut membuat pembaca perlahan memahami kehidupan Murni tanpa harus menerima semua informasi sekaligus.
Penggunaan kilas balik juga membuat pembaca tidak hanya mengetahui masa lalu tokoh, tetapi juga merasakan perubahan suasana yang muncul dalam cerita. Dari suasana yang hangat, cerita kemudian bergerak menuju kenyataan yang lebih menyakitkan.
Informasi yang Ditunda Membangun Ketegangan Emosional
Pengarang tidak langsung memperlihatkan tragedi yang dialami Murni. Informasi tersebut muncul setelah pembaca mulai mengenal tokoh melalui kenangan-kenangan yang dimunculkan sebelumnya.
“Keluarga yang dicintainya pun kini telah tiada. Kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa mereka saat bus yang mereka tumpangi melintasi jalur kereta. Mereka akan berangkat mengikuti wisuda Murni saat itu.” (Karisma Fahmi Y., 2023)
Informasi tersebut menghasilkan dampak emosional yang lebih kuat karena pembaca terlebih dahulu diperlihatkan kebahagiaan Murni bersama keluarganya. Apabila informasi mengenai tragedi tersebut disampaikan sejak awal cerita, kemungkinan efek yang dirasakan pembaca tidak akan sebesar itu.
Cara penyusunan peristiwa seperti ini membuat pembaca tidak hanya menerima informasi secara langsung, tetapi juga ikut membangun pemahamannya sendiri terhadap tokoh. Sejak awal, pembaca hanya mengetahui bahwa Murni tampak emosional ketika membaca kartu-kartu Lebaran. Namun, setelah berbagai kilas balik dimunculkan, pembaca mulai memahami bahwa perasaan tersebut berkaitan dengan pengalaman kehilangan yang pernah dialaminya.
Dengan demikian, pengarang tidak hanya menyampaikan cerita mengenai kehidupan Murni, tetapi juga mengajak pembaca mengalami proses memahami tokoh secara perlahan. Teknik seperti ini membuat pengalaman membaca terasa lebih dekat dan emosional.
Berdasarkan pembahasan tersebut, cerpen “Kutukan Kartu Lebaran” menggunakan teknik kilas balik sebagai bagian penting dalam penyusunan plot cerita. Pengarang menyampaikan informasi mengenai kehidupan Murni secara bertahap melalui berbagai kenangan yang muncul sepanjang cerita.
Penggunaan teknik tersebut berhasil menciptakan rasa penasaran sekaligus membangun ketegangan emosional. Pembaca tidak hanya mengetahui pengalaman hidup tokoh, tetapi juga ikut merasakan perubahan emosi yang hadir dalam cerita. Penggunaan kilas balik dalam cerpen ini juga menunjukkan bahwa urutan penceritaan dapat memengaruhi cara pembaca memaknai sebuah peristiwa. Dengan demikian, kekuatan cerita tidak hanya terletak pada peristiwa yang disampaikan, tetapi juga pada cara pengarang mengatur urutan penceritaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Karisma Fahmi Y. (2023, 27 April). Kutukan Kartu Lebaran. Kompas.id.
Nurgiyantoro, B. (2002). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
