Perempuan Bijak: Deteksi Dini Kanker Payudara 'Tuk Selamatkan Nyawa

Mahasiswi Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2022
Tulisan dari Naila Muthia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Yuk, Pahami Deteksi Dini Kanker Payudara Lebih Lanjut!

Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian paling sering di Indonesia. Kanker adalah kondisi di mana sel tubuh mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat, dan tidak terkendali. Kanker dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh seperti payudara, paru-paru, serviks, tulang, dan lainnya. Kanker juga bersifat metastasis, yang artinya dapat menyebar ke tempat lain atau organ dalam tubuh penderita.
Setiap tahun ada lebih dari delapan juta kasus baru kanker di seluruh dunia. Salah satu kanker yang perlu diwaspadai adalah kanker payudara. Data dari World Health Organization (WHO) Global Cancer Observatory menunjukkan bahwa hingga tahun 2020, ada 2,3 juta kasus baru kanker payudara dan ada 684.996 kasus kematian akibat kanker payudara yang terjadi baik pada pria maupun wanita. Selain itu, kanker payudara adalah kanker penyebab kematian yang menempati urutan pertama di Indonesia. Pada tahun 2018, kasus kanker terbanyak di Indonesia adalah kanker payudara. 58.256 orang ter diagnosis mengalami kanker payudara, meliputi 16,7% dari kasus kanker yang ada di Indonesia. Angka kejadian kanker payudara di Indonesia sebesar 42,1 per 100.000 orang dan angka kematiannya mencapai rata-rata 17 per 100.000 orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa kanker payudara perlu dicegah dan ditangani dengan baik. Sudah banyak kampanye yang dilakukan oleh pemerintah dan komunitas-komunitas di Indonesia. Contohnya, bulan Oktober lalu diperingati sebagai bulan kewaspadaan terhadap kanker payudara dan kanker serviks. Sayangnya, kewaspadaan dan pengetahuan masyarakat tentang kanker payudara masih kurang.
Kebanyakan orang berpikir bahwa mereka sudah aman dari kanker. Umumnya, mereka merasa aman karena kerabat-kerabat terdekatnya tidak ada atau belum ada yang pernah mengalaminya. Hal ini karena masyarakat mengetahui jika kanker adalah penyakit genetik, atau penyakit yang diturunkan. Faktanya, kanker bukan hanya dapat ditularkan melalui genetik dan keturunan. Kanker dapat muncul pada tubuh seseorang karena beberapa hal, seperti mutasi, radiasi, dan pola hidup yang buruk. Ada banyak faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kanker payudara, berikut faktor risiko kanker payudara:
Jarang melakukan aktivitas fisik
Rutin konsumsi alkohol, rokok, dan makanan berlemak
Pemakaian jangka panjang kontrasepsi oral
Tidak menyusui
Melakukan terapi hormon
Usia lanjut
Riwayat terkena radiasi pada daerah payudara
Mutasi genetik pada gen BRCA1 dan BRCA2
Meninjau beberapa faktor risiko yang telah disebutkan, ada beberapa faktor risiko yang dapat diubah atau dihindari sebagai upaya pencegahan kanker payudara. Contohnya, lebih banyak melakukan aktivitas fisik, menghindari konsumsi alkohol dan rokok, mengurangi makanan berlemak, dan menambah nutrisi-nutrisi di dalam makanan yang dikonsumsi. Khusus untuk wanita, tidak menyusui adalah salah satu faktor risiko kanker payudara. Hal inilah yang mendasari mengapa menyusui sangat dianjurkan bagi seorang wanita. Selain dapat memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, menyusui juga dapat mengurangi risiko kanker payudara.
Ketika upaya pencegahan sudah dilakukan dengan menghindari faktor risiko yang ada, selanjutnya dapat dilakukan upaya deteksi dini. Seberapa penting deteksi dini pada kanker payudara? Seperti yang sudah disebutkan di awal, kanker payudara memiliki tingkat kematian yang tinggi di Indonesia. Menurut Elvida Sariwati, Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hal ini disebabkan karena 70% penderita kanker payudara terdeteksi pada tahap lanjut sehingga penanganan dan pengobatannya lebih kompleks.
Apa yang dikatakan Elvida Sariwati menunjukkan seberapa penting melakukan upaya deteksi dini sebelum terlambat. Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara paling mudah dilakukan untuk deteksi dini kanker payudara adalah pemeriksaan payudara sendiri, atau yang lebih sering dikenal sebagai SADARI. Studi Penyakit Tidak Menular (PTM) pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 53,7% masyarakat Indonesia belum pernah melakukan pemeriksaan SADARI. Padahal, SADARI sangat mudah untuk dilakukan. Berikut adalah tahap-tahap melakukan SADARI:
Berdiri tegak di depan cermin. Perhatikan kedua payudara dengan saksama. Cermati jika ada perubahan pada payudara. Jika bentuk atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak simetris, tidak perlu khawatir karena hal tersebut adalah hal yang normal terjadi.
Angkat kedua lengan ke atas kepala. Kemudian, lipat siku dan posisikan tangan di belakang kepala. Gerakkan siku ke depan dan ke belakang untuk melihat kondisi payudara.
Letakkan kedua tangan di pinggang. Lalu condongkan bahu ke depan hingga payudara menggantung. Setelah itu, Anda dapat mendorong kedua siku ke depan dan kencangkan otot dada.
Angkat salah satu lengan ke atas dan lipat siku Anda sehingga lengan menyentuh bagian atas punggung Anda. Kemudian, Anda dapat meraba dan menekan area payudara dengan lengan yang lain. Pastikan Anda meraba dan menekan hingga ke area ketiak. Ulangi prosedur ini pada sisi yang lain.
Cubit puting payudara. Perhatikan apakah puting terasa lebih keras dan apakah keluar cairan.
Berbaring di depan cermin. Kemudian letakkan bantal di bawah pundak Anda. Letakkan tangan di atas kepala dan cermati kedua payudara. Lakukan juga perabaan pada payudara hingga ke area ketiak.
Saat melakukan SADARI, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Perubahan ukuran salah satu payudara
Benjolan pada payudara
Bentuk dan tekstur kulit payudara
Puting payudara masuk ke dalam
Keluar cairan dari puting payudara
Jika Anda menemukan hal di atas pada payudara Anda, jangan langsung panik dan mengambil keputusan yang salah. Apa yang dapat dilakukan? Anda dapat langsung ke dokter untuk berkonsultasi. Di pelayanan kesehatan, masyarakat juga dapat melakukan SADANIS atau Pemeriksaan Payudara Klinis. Pemeriksaan SADANIS adalah pemeriksaan deteksi dini kanker payudara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Prosedurnya meliputi pemeriksaan fisik, USG payudara, hingga mammogram. SADANIS dapat dilakukan setiap tahun, sedangkan SADARI dapat dilaksanakan setiap bulan hingga setiap hari.
Setelah mencoba untuk mencegah dan mendeteksi dini, apa yang harus dilakukan jika sudah terkonfirmasi memiliki kanker payudara? Hal pertama yang paling penting adalah menerima dengan besar hati. Selain itu, jangan berpikir bahwa tidak ada harapan bagi Anda. Ada banyak metode pengobatan yang dapat dilakukan, seperti pembedahan lumpektomi dan mastektomi, radioterapi, kemoterapi, terapi target dan terapi hormon. BPJS Kesehatan juga telah berkomitmen menanggung biaya pengobatan kanker payudara. BPJS Kesehatan dapat membantu dalam biaya kemoterapi, radioterapi, hingga obat yang diperlukan.
Pencegahan yang dilakukan tidak hanya dapat mencegah diri sendiri dari kanker payudara, tetapi juga melindungi keturunan kita di masa yang akan datang. Oleh karena itu, mari waspada dan jangan lengah dengan kanker payudara. Mari saling bergotong royong untuk mensukseskan upaya pencegahan dan deteksi dini pada masyarakat Indonesia!
