Konten dari Pengguna

Psikotes Kok Hasilnya Bisa Berubah? Bukannya Harus Akurat dan Konsisten?

Naila Sakinah

Naila Sakinah

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naila Sakinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bingung dengan hasil psikotest (Sumber: https://www.pexels.com/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bingung dengan hasil psikotest (Sumber: https://www.pexels.com/)

“Dulu hasil IQ-ku 110, sekarang jadi 115. Berarti IQ-ku naik?”

“Atau jangan-jangan psikotest sebenernya nggak akurat?”

Pertanyaan seperti ini ternyata cukup sering muncul, terutama setelah seseorang menjalani psikotes lebih dari satu kali dalam hidupnya. Ada yang merasa hasil tesnya berubah, ada juga yang mulai meragukan keakuratan psikotes karena skor yang didapat tidak selalu sama. Akibatnya, muncul anggapan bahwa tes psikologi tidak konsisten atau bahkan “asal menilai”. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Tes psikologi memang disusun secara ilmiah dan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, yang diukur tetaplah manusia. Manusia merupakan makhluk yang dinamis, artinya terus berkembang, berubah, belajar, dan dipengaruhi oleh banyak pengalaman hidup. Karena itu, hasil psikotes tidak bisa dipahami sebagai label permanen yang akan selalu sama sepanjang hidup seseorang.

Dalam ilmu psikologi, terdapat bidang yang disebut psikodiagnostik. Menurut Suryabrata dalam Mulyono (2020), psikodiagnostik merupakan metode ilmiah yang digunakan untuk memahami kondisi psikis individu secara lebih mendalam. Artinya, pemeriksaan psikologis bukan hanya bertujuan memberi label tertentu kepada manusia, tetapi membantu memahami bagaimana seseorang berpikir, merasakan sesuatu, berperilaku, serta beradaptasi dengan lingkungannya.

Ilustrasi test psikologis (Sumber: https://www.pexels.com/)

Psikotes Tidak Hanya Mengukur IQ

Banyak orang mengira psikotes hanya berkaitan dengan kecerdasan atau IQ. Padahal, psikotes juga digunakan untuk memahami kepribadian, kondisi emosional, kemampuan konsentrasi, minat, bakat, hingga cara seseorang menghadapi tekanan.

Dalam dunia pendidikan, psikotes membantu memahami potensi belajar siswa. Dalam dunia kerja, psikotes digunakan untuk melihat kecocokan individu dengan suatu posisi, kemampuan bekerja di bawah tekanan, hingga kemampuan bekerja sama dalam tim. Sementara dalam bidang klinis, tes psikologi membantu memahami kondisi emosional seseorang secara lebih mendalam (Kaplan & Saccuzzo, 2018). Karena itu, hasil psikotes sebenarnya bukan sekadar angka, tetapi gambaran kondisi psikologis individu pada saat pemeriksaan dilakukan.

Kenapa Hasil Psikotes Bisa Berubah?

Salah satu alasan utama hasil psikotes bisa berubah adalah karena manusia sendiri terus berkembang. Cara berpikir, kondisi emosional, rasa percaya diri, hingga kemampuan bersosialisasi seseorang dapat berubah seiring waktu dan pengalaman hidup.

Lingkungan keluarga, pendidikan, hubungan sosial, tekanan pekerjaan, hingga pengalaman hidup tertentu juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Karena itu, ketika psikotes dilakukan pada waktu yang berbeda, hasilnya juga dapat berubah mengikuti perkembangan individu tersebut.

Menurut American Psychological Association atau APA (2020), hasil tes psikologi perlu dipahami sesuai konteks individu dan kondisi saat pemeriksaan dilakukan. Jadi, perubahan hasil tes sebenarnya merupakan hal yang wajar.

Ilustrasi kondisi yang memengaruhi hasil test (Sumber: https://www.pexels.com/)

Kondisi Saat Tes Sangat Berpengaruh pada Hasil Tes

Kondisi fisik dan mental saat menjalani psikotes sangat memengaruhi hasil pemeriksaan. Seseorang yang sedang kurang tidur, sakit, stres, cemas, burnout, atau kelelahan biasanya akan lebih sulit berkonsentrasi ketika mengerjakan tes.

Akibatnya, performa saat tes bisa menurun dan hasil yang diperoleh tidak menunjukkan kemampuan optimal yang sebenarnya dimiliki individu tersebut. Sebaliknya, ketika seseorang berada dalam kondisi lebih tenang dan fokus, performanya saat tes juga bisa lebih baik dan sesuai.

Karena itu, psikolog tidak langsung mengambil kesimpulan hanya dari satu skor tes saja. American Psychological Association (2020) menjelaskan bahwa kondisi emosional dan situasional individu memang dapat memengaruhi performa dalam pemeriksaan psikologis.

Alat Ukur IQ dalam Psikologi Itu Banyak

Hal yang sering tidak diketahui masyarakat adalah dalam psikologi terdapat banyak alat ukur untuk mengukur intelligensi atau IQ. Karena alat ukurnya berbeda, hasil yang diperoleh seseorang juga bisa sedikit berbeda. Beberapa alat ukur inteligensi yang umum digunakan dalan praktik psikologi, diantaranya yakni:

  1. WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale)

  2. Stanford-Binet Intelligence Scale

  3. CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

  4. Raven Progressive Matrices

  5. WISC (Wechsler Intelligence Scale for Childern)

Setiap alat ukur memiliki pendekatan pengukuran yang berbeda. Ada alat tes yang lebih menekankan kemampuan verbal, ada yang lebih fokus pada penalaran logis, dan ada juga yang lebih banyak mengukur kemampuan analitis non-verbal (Kaplan & Saccuzzon, 2018). Karena fokus pengukurannya berbeda, hasil skor IQ seseorang juga bisa sedikit berbeda meskipun dilakukan pada orang yang sama. Penting untuk dipahami bahwa alat ukur psikologis hanya boleh digunakan oleh profesional yang memiliki kewenangan agar hasil pemeriksaan akurat, dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak disalahgunakan (HIMPSI, 2010).

Kenapa Skor IQ bisa berubah?

Banyak orang panik ketika hasil IQ mereka berubah beberapa poin. Misalnya, dulu IQ 110 lalu beberapa tahun kemudian menjadi 115. Padahal, perubahan kecil seperti ini sebenarnya masih tergolong wajar.

Dalam psikologi terdapat istilah margin of error atau batas kesalahan pengukuran. Artinya, setiap alat tes memiliki kemungkinan perbedaan skor kecil yang masih dianggap normal. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh kondisi saat tes, tingkat fokus, kondisi emosional, alat ukur yang digunakan, hingga prosedur pelaksanaan tes.

Karena itu, selisih kecil seperti 110 menjadi 115 biasanya masih dianggap berada dalam rentang kemampuan yang relatif sama. Perubahan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa seseorang tiba-tiba menjadi jauh lebih cerdas atau mengalami penurunan kecerdasan. Menurut Anastasi dan Urbina (1997), hasil tes psikologi perlu dipahami sebagai estimasi kemampuan individu, bukan angka mutlak yang sepenuhnya tetap. Oleh sebab itu, psikolog biasanya tidak hanya melihat satu angka IQ saja, tetapi juga melihat pola kemampuan individu secara keseluruhan.

Ilustrasi orang sedang berpikir (Sumber: https://www.pexels.com/)

Apakah Berarti Psikotes Tidak Akurat?

Jawabannya adalah akurat. Tes psikologi tetap disusun berdasarkan prinsip ilmiah yang ketat. Sebelum digunakan secara profesional, alat tes psikologi harus melalui proses validitas, reliabilitas, dan standardisasi (Anastasi & Urbina, 1997).

Validitas berarti tes benar-benar mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Reliabilitas berarti hasil tes cenderung konsisten jika dilakukan dalam kondisi yang relatif sama. Sementara standardisasi berarti prosedur tes dibuat seragam agar hasil pemeriksaan dapat dibandingkan secara adil. Namun, penting dipahami bahwa “konsisten” bukan berarti hasil manusia harus selalu sama sepanjang hidupnya. Tesnya bisa konsisten, tetapi manusia yang diukur dapat berubah.

Psikolog Tidak Hanya Melihat Satu Skor Tes

Banyak orang mengira hasil psikotes hanya ditentukan dari satu angka atau satu jenis tes saja. Padahal, dalam praktik profesional, psikolog tidak langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu skor tes.

Pemeriksaan psikologis biasanya dilakukan menggunakan beberapa metode sekaligus, seperti wawancara, observasi, riwayat hidup, serta kombinasi beberapa alat tes psikologi. Hal ini dilakukan karena manusia terlalu kompleks jika hanya dipahami melalui satu angka.

Misalnya, seseorang bisa saja memiliki kemampuan intelektual yang baik, tetapi sedang mengalami tekanan emosional berat sehingga performanya saat tes menurun. Karena itu, psikolog biasanya melihat gambaran individu secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu hasil tes saja (Kaplan & Saccuzzo, 2018).

Jadi, Wajar Tidak Kalau Hasil Psikotes Berubah?

Sangat wajar. Psikotes bukan alat yang menentukan identitas permanen seseorang. Psikotes adalah alat bantu ilmiah untuk memahami kondisi psikologis individu pada waktu tertentu. Karena manusia terus berkembang dan dipengaruhi banyak faktor, maka hasil psikotes juga dapat berubah.

Yang perlu dipahami, manusia bukan sekadar angka. Nilai IQ atau hasil tes lainnya hanyalah salah satu gambaran kecil dari diri seseorang. Pada akhirnya, tujuan psikotes bukan memberi label permanen, tetapi tujuan utamanya adalah membantu individu memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, mengenali potensi yang dimiliki, memahami tantangan dalam dirinya, serta mengetahui aspek-aspek apa saja yang masih dapat berkembang.

Karena itu, ketika hasil psikotes berubah, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “kenapa hasil tesku berubah?”, melainkan “apa yang sedang berkembang dalam diriku?”.

Referensi

Anastasi, A., & Urbina, S. (1997). Psychological Testing (7th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

American Psychological Association American Psychological Association. (2020). Understanding Psychological Testing and Assessment. Washington, DC: APA.

Himpunan Psikologi Indonesia Himpunan Psikologi Indonesia. (2010). Kode Etik Psikologi Indonesia. Jakarta: HIMPSI.

Kaplan, R. M., & Saccuzzo, D. P. (2017). Psychological testing: Principles, applications, & issues (9th ed.). Cengage Learning.

Mulyono, R. (2020). PSIKODIAGNOSTIK: Suatu Pengantar.