Konten dari Pengguna

Inspirasi: Disiplin Mencari, Bukan Dinanti

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: Shutterstock

Pernah dengar hambatan untuk berkreasi? Creative block bukan hanya terjadi pada pekerja seni atau penulis fiksi, tetapi bisa terjadi pada kita semua di berbagai profesi.

Ada bagian dari pekerjaan yang ingin kita lakukan dan mudah untuk dilakukan, ada yang tidak ingin kita lakukan dan terlepas dari sulit atau mudahnya jadi selalu ditunda dengan berbagai alasan--yang paling sering disalahkan? Kehabisan inspirasi.

Senyatanya, inspirasi memang datang dan pergi. Alih-alih menanti, ada berbagai strategi yang bisa kita lakukan untuk membuatnya hadir rutin sehari-hari dan membuat karier dan karya kita berarti. Mengingat kembali alasan berkarier dan berkarya, mendengarkan umpan balik dari yang menerima manfaatnya, kadang cukup untuk membuat keinginan kembali membara. Akan tetapi, dari pengalaman saya, yang paling penting adalah disiplin diri untuk mencari inspirasi dengan melakukan hal-hal berikut ini:

  • Olahraga, waktu tersering inspirasi yang hilang datang kembali? Saat saya bangkit dari kursi dan berkonsentrasi pada aktivitas fisik yang memacu diri. Berkeringat, lebih ideal lagi berada di luar ruangan selalu terbukti efektif membuat keinginan beraksi muncul kembali.

  • Menulis apa saja ide yang muncul, kalaupun kita menganggapnya jelek sekali. Menulis semua ide tanpa menilainya penting sekali di masa inkubasi, karena banyak ide yang terlalu cepat mati karena dibunuh oleh pencetusnya sendiri. Menuliskannya - ide alur, solusi masalah, desain kemasan, dan lain-lainnya - memberi kita kesempatan menstrukturkan sedikit ide yang terlalu mentah dalam formulasi kalimat atau visualisasi. Tulisan ini dikumpulkan di jurnal ide yang kalaupun tak langsung memicu inspirasi instan di saat butuh, bisa dibolak-balik di saat jenuh dan bisa dielaborasi lebih jauh lagi. Tak terhitung banyaknya runtutan pikiran yang terlupa dan jadi berguna setelah dibaca ulang di jurnal saya.

  • Rapi-rapi! Buat saya ini selalu jadi cara jitu menyiapkan diri untuk kerja kreatif. Di permukaan, mengorganisir barang atau ruangan kelihatannya justru mengambil waktu yang diperlukan untuk mendapatkan inspirasi yang jadi tujuan. Yang saya rasakan, memindahkan penyimpanan, mengelompokkan alat kerja dan lain-lainnya memberi waktu untuk fokus pada yang di depan mata dan sesudahnya justru pikiran bisa lebih bebas mengembara untuk berkarya.

  • Membaca buku, ini sumber energi nomor satu. Bukan hanya jendela dunia di luar sama, tapi pintu ke berbagai eksplorasi dan imajinasi ke dalam diri. Bacaan membuat saya mampu mensintesa dan melihat hubungan ide atau inovasi yang sebelumnya “berserakan”.

  • Jalan kaki adalah hobi yang memungkinkan saya mengobservasi banyak sekali detail sensori. Setiap kali berjalan, saya selalu dapat banyak sekali kesempatan memusatkan perhatian pada apa yang perlu diprioritaskan. Sejak pandemi, sambil berjalan bahkan jadi cara utama saya saat harus janjian rapat tatap muka dan menular ke anak-anak yang berputar jalan keliling rumah saat harus menyelesaikan tugas sekolah.

Setiap orang berbeda prosesnya, tetapi belajar dari pengalaman yang beragam justru jadi kunci kita untuk mencapai tujuan. Lima cara di atas banyak riset pelengkapnya, tetapi yang pasti sudah dites dan dicoba dalam konteks saya. Kita perlu konsisten melakukannya bersama, mengumpulkan cadangan untuk terus bersemangat, apa pun tantangannya! #merdekaberkarier #merdekaberkarya