Ada Sejak Abad ke-17, Ini Sejarah di Balik Berdirinya Sam Poo Kong Semarang

Nama saya Najla Dara. Saya merupakan mahasiswa BINUS University dengan jurusan Ilmu Komunikasi.
Konten dari Pengguna
15 Januari 2023 7:45
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Najla Dara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://www.shutterstock.com/sam-poo-kong
zoom-in-whitePerbesar
https://www.shutterstock.com/sam-poo-kong
Apakah kamu seorang yang memiliki hobi traveling? Baik solo traveling ataupun bersama teman dan keluarga. Selain menyenangkan, ternyata traveling itu bisa menambah wawasan untuk bahan obrolan dengan teman-temanmu, lho.
Salah satu destinasi wisata yang bisa kamu datangi adalah Sam Poo Kong. Kuil yang menjadi saksi sejarah penting yang pernah ada di Indonesia ini terletak di Semarang, Jawa Tengah.
Kuil ini didirikan oleh Laksamana Zheng He yang memiliki nama Ma San Bao. Sam Poo Kong sendiri memiliki dialek Hokkien, sedangkan untuk dialek Mandarin namanya San Bao Dong yang artinya Gua San Bao.

Sejarah Sam Poo Kong di Semarang

Pengunjung berwisata di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/8). Foto: Antara/R. Rekotomo
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung berwisata di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/8). Foto: Antara/R. Rekotomo
Candi ini didirikan ketika Laksamana Zheng He dan pasukannya sedang menutup kapal mereka di wilayah Semarang. Tak hanya itu, di tempat ini Laksamana Zheng He juga merawat juru mudinya yang sedang sakit Wang Jing Hong, sambil mencari rempah-rempah, dan juga menjalankan misi perdamaian.
Laksamana Xheng He dan Wang sebenarnya tidak hanya tinggal sebentar di kawasan yang menjadi bangunan candi ini, tetapi mereka juga membangun rumah, menggarap lahan, dan membuka hubungan dengan masyarakat sekitar. Dari situlah awal mula pembangunan Sam Poo Kong.
Bangunan yang sudah ada sejak abad ke-17 ini tentunya telah mengalami pemugaran dan renovasi oleh pihak yayasan. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 2002 oleh yayasan Sam Poo Kong.
Kemudian pemugaran dan renovasi selesai pada tahun 2005 kelenteng ini masih aktif sebagai pusat pemujaan bagi saudara-saudara kita yang beragama Buddha dan Konghucu.
Bukan hanya itu, candi ini juga merupakan wujud dari persatuan Indonesia, di mana kelenteng ini tidak hanya milik satu agama saja, tetapi untuk agama lain sangat terbuka untuk masuk ke kawasan kelenteng ini.

Wisata Sejarah di Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong di Semarang.
 Foto: gungpri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Klenteng Sam Poo Kong di Semarang. Foto: gungpri/Shutterstock
Di area kelenteng ini, kamu bisa mendatangi beberapa titik lokasi yang terdapat di pura ini. Tempat pertama adalah tempat pemujaan dewa bumi, yaitu tempat orang berdoa kepada Tian (Dewa/langit) dan kemudian kepada Tei (dewa bumi).
Dewa Bumi atau Hok Tek Ceng Sin adalah dewa rezeki dan berkah. Tujuan pemujaan terhadap Dewa Bumi sendiri adalah sebagai upaya untuk memohon kesuburan tanah, hasil panen yang melimpah, keselamatan, dan kesehatan.
Bagian depan tempat Dewa Bumi terdapat sebuah pintu bernama Ue Tek Kiong dan Sie Sok Pok yang kemudian hari ulang tahunnya diperingati setiap tanggal 2 bulan kedua penanggalan Imlek.
Area kedua adalah Makam Kyai Juru Mudi yang telah dibahas sebelumnya. Makam ini banyak dikunjungi orang untuk berziarah dan juga dipercaya sebagai tempat berdoa memohon berkah, terutama pada malam-malam tertentu, yaitu malam Selasa kliwon dan malam Jumat kliwon.
Sejumlah warga memainkan ular naga di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (4/8). Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga memainkan ular naga di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (4/8). Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Ada juga makam Kyai Djangkar, tempat ibadah Khonghucu dan rumah Ruh Hoo Ping. Makam Kyai Djangkar sendiri merupakan posisi jangkar sekoci milik armada Zheng He saat pertama kali muncul.
Banyak yang datang untuk meminta berkah untuk bisnis atau pekerjaan. Di bagian tengah ada pemujaan terhadap pendiri sekte Kong Hu Cu, dan posisinya paling besar.
Kemudian, di paling kanan adalah Rumah Roh Hoo Ping. Arwah Hoo Ping adalah arwah orang mati yang tidak dirawat oleh keluarganya. Mereka ditampung di sini untuk didoakan
Banyak tempat dan area yang dianggap keramat dan keramat di Kelenteng Sam Poo Kong, tetapi area ini terbuka untuk agama apa pun tanpa kecuali. Maka tidak salah jika kawasan ini dianggap sebagai tempat bersejarah yang harus dilestarikan.
Wisatawan sedang mengagumi keindahan Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wisatawan sedang mengagumi keindahan Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Terlebih lagi dengan mengenal tempat yang menjadi salah satu situs sejarah yang tentunya hal tersebut dapat menjadi bagian atau hal yang menarik.
Dengan mengunjungi tempat yang bersejarah pun akan mampu membuat wisatawan tersebut menyadari bahwa banyak keindahan dan juga hal yang bisa diambil hikmahnya.
Sebagai travel enthusiast, saya memilih Sam Poo Kong ini menjadi salah satu tempat sejarah yang wajib dikunjungi saat akan liburan nanti.
Sejumlah warga etnis Tionghoa mengikuti kirab Peringatan Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke-613 di Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (12/8).  Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga etnis Tionghoa mengikuti kirab Peringatan Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke-613 di Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (12/8). Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Tentunya hal tersebut dikarenakan makna dan juga setiap filosofi yang terkandung di dalamnya menjadi aspek yang penting. Tidak hanya itu saja, Sam Poo Kong sendiri mengajarkan bahwa kita sebagai generasi yang masih hidup pun harus mampu menghormati para leluhur yang telah mendahului kita.
Menurut saya, hal tersebut menjadi salah satu aspek yang harus dijaga serta makna kelestariannya. Maka dari itu penting untuk sesekali mengunjungi tempat wisata yang bersejarah.
Sebab, hal ini bisa membuat kita sadar akan posisi kita dan juga sebagai generasi yang memiliki leluhur untuk terus saling berupaya untuk menghormati meskipun telah tiada. Dengan adanya refleksi tersebut, bisa menjadi kemampuan kita untuk bisa terus menyikapi hidup yang terjadi.