Ketika Televisi Harus Menemui Penontonnya di Era Media Digital

Saya Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang dengan ketertarikan pada bidang media, broadcasting, komunikasi, dan publikasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Najwa Krisnawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan cara menonton membuat televisi harus hadir di tenggah kebiasaan konsumsi media yang semakin beragam.
Televisi pernah menjadi salah satu media hiburan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada waktu tertentu, penonton akan duduk di depan televisi dan mengikuti program yang sudah disusun berdasarkan jadwal siaran. Pilihan tontonan memang belum sebanyak sekarang, sehingga kebiasaan menonton lebih banyak mengikuti apa yang tersedia di layar.
Situasi tersebut perlahan berubah.
Kehadiran internet membuat penonton memiliki lebih banyak pilihan. Video dapat ditonton melalui ponsel, komputer, maupun berbagai platform digital. Penonton juga memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan kapan dan melalui perangkat apa mereka menikmati sebuah tayangan.
Perubahan tersebut bukan berarti televisi langsung kehilangan penonton.
Berdasarkan Nielsen Consumer & Media View kuartal III 2022, televisi masih memiliki jangkauan sebesar 81,1 persen di Indonesia, sedangkan internet mencapai 76,7 persen. Pada periode yang sama, Nielsen juga mencatat pertumbuhan konsumsi video online dan aktivitas menonton TV melalui streaming dalam tiga tahun sebelumnya di berbagai kelompok usia.
Data tersebut memperlihatkan bahwa televisi dan media digital dapat berjalan bersamaan. Persoalannya bukan hanya mengenai media mana yang digunakan, tetapi bagaimana kebiasaan penonton dalam menikmati sebuah tayangan ikut mengalami perubahan.
Salah satu program yang dapat digunakan untuk melihat perubahan tersebut adalah Brownis atau Obrolan Manis yang ditayangkan Trans TV.
Brownis dan Identitas Sebuah Program Talkshow
Brownis merupakan program talkshow Trans TV yang menghadirkan obrolan bersama figur publik dan berbagai segmen hiburan. Dalam informasi resminya, Trans TV menjelaskan bahwa program tersebut menghadirkan obrolan mengenai kabar selebritas, tantangan, perubahan penampilan, serta kejutan.
Format tersebut membuat Brownis memiliki identitas yang bertumpu pada interaksi dan hiburan. Percakapan antara pembawa acara dan bintang tamu dapat berkembang menjadi candaan, tantangan, maupun berbagai kejadian yang menjadi bagian dari sebuah episode.
Karakter seperti ini menarik ketika ditempatkan dalam konteks perubahan konsumsi media.
Sebuah program talkshow tidak hanya dapat dinikmati sebagai satu episode utuh. Bagian tertentu dari sebuah tayangan juga berpotensi menjadi materi yang dapat dikonsumsi secara terpisah ketika tersedia dalam bentuk digital.
Namun, perubahan bentuk konsumsi tersebut tidak berarti semua penonton Brownis telah berpindah dari televisi ke internet. Data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan hal tersebut.
Yang dapat dilihat adalah bahwa akses terhadap program kini tidak hanya tersedia melalui siaran televisi.
Penonton Sekarang Memiliki Lebih Banyak Pilihan
Pada televisi konvensional, jadwal siaran memiliki peranan penting. Jika ingin menyaksikan sebuah program pada waktu tertentu, penonton perlu mengikuti jadwal yang telah ditentukan stasiun televisi.
Kehadiran layanan streaming dan video online kemudian memberikan pilihan tambahan.
Nielsen menjelaskan bahwa konsumsi audiens semakin tersebar antara televisi linear dan layanan streaming. Karena itu, Nielsen pada 2022 meluncurkan Streaming Content Ratings di Indonesia untuk membantu mengukur konsumsi video pada televisi linear dan mobile streaming.
Menurut Nielsen, TV dan internet merupakan dua media dengan jangkauan tinggi dalam data Consumer & Media View Q3 2022. TV mencapai 81,1 persen, sedangkan internet mencapai 76,7 persen.
Dengan semakin banyaknya pilihan tersebut, penonton memiliki lebih banyak kesempatan untuk menentukan bagaimana mereka mengakses sebuah konten.
Bagi program televisi seperti Brownis, kondisi ini menciptakan lingkungan persaingan yang berbeda.
Program tersebut tidak hanya berada di antara program televisi lainnya. Kontennya juga berada dalam lingkungan media yang menyediakan berbagai pilihan hiburan lain.
Satu Program, Lebih dari Satu Jalur Akses
Perubahan tersebut dapat dilihat dari cara Trans TV menyediakan akses terhadap Brownis.
Pada halaman episode Brownis, Trans TV mencantumkan akses melalui kanal YouTube Trans TV dan layanan live streaming di situs resminya.
Hal ini menunjukkan bahwa sebuah program televisi dapat memiliki lebih dari satu jalur akses.
Namun, keberadaan akses digital tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa penonton Brownis lebih banyak menggunakan internet dibandingkan televisi. Tidak terdapat data publik yang cukup untuk membuat kesimpulan tersebut.
Yang dapat dianalisis adalah adanya perubahan dalam cara sebuah program didistribusikan.
Jika sebelumnya siaran televisi menjadi jalur utama untuk menyaksikan program, kini terdapat jalur tambahan yang memungkinkan audiens mengakses konten melalui internet.
Dengan demikian, keberadaan digital dapat dipahami sebagai bagian dari perluasan akses terhadap program, bukan sebagai bukti bahwa televisi telah ditinggalkan.
Ketika Sebuah Episode Dapat Dinikmati dengan Cara Berbeda
