Konten dari Pengguna

Manfaat Puasa bagi Kesehatan Menurut Al-Qur'an dan Sains

Atria Putri Nalendra

Atria Putri Nalendra

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atria Putri Nalendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manfaat puasa bagi kesehatan bukan sekadar klaim tradisional yang diwariskan turun-temurun. Jauh sebelum para ilmuwan mengenal istilah autofagi atau intermittent fasting, Al-Qur'an sudah memberikan landasan yang kokoh tentang mengapa puasa itu baik bagi manusia. Dan kini, sains modern sedang membuktikannya satu per satu dengan data yang semakin sulit untuk diabaikan.

Ilustrasi manfaat puasa bagi kesehatan metabolisme autofagi ramadan.Photo by Gemini
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi manfaat puasa bagi kesehatan metabolisme autofagi ramadan.Photo by Gemini

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ

Q.S. Al-Baqarah: 185

"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu."

Ayat ini bukan hanya perintah ibadah ia adalah undangan untuk memahami hikmah di balik sebuah praktik yang ternyata menyimpan manfaat biologis yang sangat dalam. Mari kita telusuri apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh selama berpuasa.

Perubahan Metabolisme yang Terjadi Saat Berpuasa

Ketika seseorang berpuasa, tubuh tidak berhenti bekerja justru sebaliknya, ia beralih ke mode operasional yang berbeda dan dalam banyak hal lebih efisien. Pada jam-jam pertama puasa, tubuh menggunakan cadangan glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Setelah cadangan ini habis biasanya setelah 8–12 jam tubuh beralih ke pembakaran lemak sebagai sumber energi utama melalui proses yang disebut lipolisis.

Peralihan ini memicu produksi keton senyawa yang dihasilkan dari pemecahan lemak dan menjadi sumber bahan bakar alternatif yang sangat efisien, terutama bagi otak. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Nutrition menunjukkan bahwa puasa Ramadan secara signifikan mengoptimalkan metabolisme tubuh, memperbaiki profil lipid darah, dan menurunkan kadar glukosa serta insulin puasa semua indikator utama kesehatan metabolisme jangka panjang.

Autofagi "Pembersih Sel" yang Dianugerahi Nobel

Salah satu manfaat puasa bagi kesehatan yang paling revolusioner adalah aktivasi autofagi. Kata "autofagi" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "memakan diri sendiri" dan itulah persis yang terjadi secara biologissel-sel tubuh mendaur ulang komponen-komponen yang sudah rusak, tua, atau tidak berfungsi, lalu menggunakannya sebagai bahan baku untuk membangun komponen baru yang lebih sehat.

Penelitian tentang autofagi ini begitu penting sehingga Yoshinori Ohsumi dari Jepang dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2016 atas penemuannya tentang mekanisme autofagi. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Endocrinology and Metabolism secara khusus menemukan bahwa puasa Ramadan memicu peningkatan penanda autofagi yang signifikan yang menjelaskan mengapa banyak orang merasa lebih segar dan berenergi setelah menjalani puasa secara rutin.

Manfaat bagi Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

Penelitian dari berbagai universitas di Indonesia termasuk kajian dari ahli gizi Universitas Gadjah Mada mengonfirmasi bahwa puasa berkontribusi nyata terhadap perbaikan kesehatan kardiovaskular. Mekanismenya berlapis puasa menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida, meningkatkan kolesterol baik (HDL), serta menurunkan tekanan darah dan penanda inflamasi yang berkaitan dengan aterosklerosis.

Selain itu, penelitian Adlouni et al. menemukan bahwa puasa Ramadan berkontribusi terhadap penurunan kadar homosistein dalam darah senyawa yang dalam kadar tinggi dikaitkan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Jurnal Cell Biochemistry and Biophysics (2024) juga mengonfirmasi bahwa puasa intermiten meregulasi homeostasis metabolisme dan memperbaiki kesehatan kardiovaskular melalui mekanisme yang melibatkan jalur molekuler AMPK, mTOR, dan SIRT1.

Dampak pada Kesehatan Otak dan Mental

Yang sering terlewat dari diskusi tentang manfaat puasa bagi kesehatan adalah dampaknya pada otak dan kesejahteraan psikologis. Studi dari Neurology International menemukan peningkatan produksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) protein yang berperan sebagai "pupuk" bagi sel-sel saraf otak pada orang yang berpuasa Ramadan. BDNF yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan fungsi kognitif, memori yang lebih baik, dan perlindungan terhadap penyakit neurodegeneratif.

Pada tingkat hormonal, puasa terbukti menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan meningkatkan produksi serotonin serta endorfin yang secara langsung berkontribusi pada perbaikan suasana hati, pengurangan kecemasan, dan peningkatan rasa tenang. Ini adalah penjelasan biologis dari ketenangan batin yang sering dilaporkan oleh mereka yang menjalani puasa secara khusyuk.