Konten dari Pengguna

Tersesat di Gunung? Ini Alasan Mengapa Jangan Turun ke Lembah

Nandi

Nandi

Lulusan Magister Ilmu Hukum UNISBA. Berprofesi sebagai penulis, vlogger, dan pendaki gunung. Menuangkan refleksi filosofis alam ke dalam gagasan hukum tata negara untuk mengedukasi masyarakat.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto pemandangan Tebing Soni di Gunung Papandayan (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Nandi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto pemandangan Tebing Soni di Gunung Papandayan (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Nandi)

Mitos lama yang kerap beredar di kalangan pendaki pemula menyebutkan bahwa ketika tersesat di gunung, mengikuti aliran air ke bawah akan membawa seseorang menuju permukiman warga. Anggapan ini terdengar logis, tetapi dalam praktiknya justru sering berujung pada situasi berbahaya. Di medan pegunungan tropis, aliran air tidak selalu bermuara pada desa atau jalan setapak. Sebaliknya, jalur tersebut bisa berakhir di jurang curam, air terjun, atau lembah tertutup vegetasi rapat yang menyulitkan pergerakan dan proses evakuasi.

Secara topografi, kawasan gunung terdiri atas punggungan dan lembahan. Banyak pendaki yang tanpa sadar memilih turun karena secara fisik terasa lebih ringan. Padahal, lembah umumnya menjadi area resapan air dengan tanaman lebih lebat, tanah lebih licin, serta minim paparan sinar matahari. Kondisi ini meningkatkan risiko cedera, tersesat lebih jauh, hingga hipotermia saat malam hari karena udara dingin cenderung berkumpul di area cekungan. Selain itu, posisi di lembah menyulitkan korban terlihat oleh tim pencari.

Dalam situasi kehilangan arah, pakar keselamatan alam bebas dan praktisi pencarian dan pertolongan (SAR) menekankan pentingnya menerapkan teknik STOP. Metode ini merupakan langkah dasar untuk mengendalikan kepanikan dan menyusun strategi rasional sebelum mengambil keputusan lanjutan. STOP merupakan akronim dari Stop (berhenti), Think (berpikir), Observe (mengamati), dan Plan (merencanakan).

Langkah pertama adalah berhenti total begitu menyadari keluar dari jalur. Terus berjalan dalam keadaan panik hanya akan memperluas radius pencarian dan menguras energi. Setelah itu, pendaki perlu berpikir jernih dengan mengingat kembali titik terakhir melihat penanda jalur, memperkirakan sisa logistik, serta mempertimbangkan waktu menuju gelap. Tahap berikutnya adalah mengamati kondisi sekitar, termasuk kontur tanah, arah cahaya matahari, suara di kejauhan, atau kemungkinan jejak yang dapat menjadi petunjuk arah semula.

Setelah proses observasi dilakukan, barulah rencana disusun secara terukur. Jika hari mulai gelap, bertahan di tempat yang relatif aman dan membuat perlindungan darurat menjadi pilihan lebih bijak dibanding memaksakan diri bergerak. Namun jika kondisi masih terang dan arah diyakini, pergerakan sebaiknya dilakukan perlahan dengan pertimbangan matang.

Banyak pegiat alam bebas menyarankan agar pendaki yang tersesat justru berupaya naik ke area punggungan. Di lokasi yang lebih tinggi, vegetasi biasanya tidak terlalu rapat sehingga jarak pandang lebih luas. Posisi terbuka juga meningkatkan peluang terlihat oleh tim SAR serta memungkinkan suara peluit atau sinyal darurat menjangkau lebih jauh. Bahkan, kemungkinan menangkap sinyal telepon seluler cenderung lebih besar di titik yang lebih tinggi dibanding di lembah tertutup.

Meningkatnya minat masyarakat untuk mendaki gunung dalam beberapa tahun terakhir perlu diimbangi dengan pemahaman keselamatan dasar. Mengandalkan aplikasi navigasi tanpa bekal pengetahuan kontur medan dapat menjadi celah risiko ketika perangkat kehabisan daya atau kehilangan sinyal. Teknik STOP menjadi pengingat bahwa keselamatan di alam terbuka tidak semata ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan kemampuan mengendalikan kepanikan dan mengambil keputusan rasional.

Dengan persiapan yang matang, pemahaman medan, serta disiplin menerapkan prosedur keselamatan, risiko tersesat dapat ditekan. Ketika kehilangan arah terjadi, berhenti dan berpikir jernih sering kali menjadi langkah paling cepat untuk menemukan jalan pulang.