Konten dari Pengguna

Mulai Investasi Demi Masa Depan Si Kecil: Emas, Saham, atau Reksa Dana?

Isi Pembahasan

Isi Pembahasan

chevron-up
Sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: freepik.com

Nilai tukar rupiah telah mengalami pelemahan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada Rabu, 23 April 2025, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 16.880 per dolar AS. Pelemahan rupiah dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan yang baru-baru ini ditetapkan mengenai kenaikan tarif impor Amerika Serikat yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Investor terpaksa untuk mengalihkan aset mereka ke aset yang lebih stabil, seperti dolar AS, sebagai akibat dari kebijakan ini, yang menghasilkan peningkatan permintaan untuk dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.

Harga barang-barang terus meningkat, tidak terkecuali barang kebutuhan pokok, sementara kenaikan penghasilan tidak sebanding. Kondisi ini semakin membebani masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah. Melihat kondisi ekonomi saat ini, setiap orang perlu memiliki aset dalam hal investasi sebagai persiapan diri dengan menghadapi ketidakpastian keadaan ekonomi di masa yang akan mendatang.

Sebagai orang tua, memilih instrumen investasi yang tepat menjadi langkah penting. Tiga pilihan yang cukup banyak diminati dan sesuai untuk perencanaan jangka panjang adalah emas, saham, dan reksa dana.

Emas

Emas merupakan hasil bumi yang melimpah di Indonesia. Emas banyak diolah menjadi perhiasan dan sering kali digunakan sebagai bagian investasi oleh orang tua zaman dulu. Namun, perlu diketahui bahwa perhiasan emas biasanya memiliki kadar emas yang bervariasi. Dilansir dari situs Lakuemas, perhiasan emas pada umumnya memiliki di bawah 23 karat karena memang harus dicampur dengan logam lain agar tidak mudah rusak. Artinya, nilai emas murninya tidak sepenuhnya 100%.

Kini, seiring meningkatnya kesadaran finansial, banyak orang tua mulai beralih ke logam mulia sebagai bentuk investasi yang lebih optimal. Logam mulia (seperti emas batangan dari Antam atau UBS) memiliki kadar emas 99,99%, yang menjadikannya lebih bernilai tinggi. Berdasarkan data pada situs Logam Mulia, harga emas batangan 1 gram di Butik Emas LM Grahadipta, Jakarta, tercatat sebesar Rp 1.524.000 pada awal tahun 2025, dan kini telah naik menjadi Rp 1.951.000 pada 13 Juni 2025.

Reksa Dana

Reksa dana merupakan wadah investasi yang dikelola oleh manajer investasi profesional, di mana dana dari para investor dikumpulkan dan kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau deposito. Reksa dana dapat menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin mulai berinvestasi pada instrumen pasar uang namun memiliki keterbatasan modal dan pemahaman mengenai analisis pasar. Dengan reksa dana, Anda cukup menyetorkan dana, dan pengelolaan investasinya akan ditangani oleh para ahli di bidangnya.

Bagi pemula, terdapat jenis reksa dana yang cukup aman, yaitu pasar uang. Jenis reksa dana ini memiliki risiko penurunan nilai yang sangat kecil, biasanya hanya sekitar nol koma sekian persen. Hal ini karena instrumen yang digunakan, seperti deposito dan surat utang jangka pendek, cenderung stabil dan nilainya meningkat seiring waktu. Oleh karena itu, reksa dana pasar uang sangat cocok untuk pemula yang baru ingin memulai berinvestasi pada instrumen pasar uang dengan risiko rendah.

Selain itu, reksa dana memiliki keunggulan dari sisi perpajakan. Reksa dana yang akan dicairkan investor, tidak ada potongan pajak atas keuntungan yang diterima, berbeda dengan deposito. Keuntungan dari reksa dana, tidak dikenakan pajak tambahan kepada investor, karena pajak atas instrumen di dalamnya (seperti obligasi) sudah dipotong di tingkat pengelolaan.

Saham

Saham merupakan bukti kepemilikan seseorang atau badan usaha terhadap suatu perusahaan. Dengan membeli saham, artinya Anda turut memiliki sebagian dari perusahaan tersebut dan berhak atas keuntungan (dividen) serta potensi kenaikan nilai saham seiring pertumbuhan perusahaan.

Saham bisa menjadi pilihan menarik, asal dipilih dengan bijak dan disesuaikan dengan profil risiko, karena saham termasuk instrumen investasi yang memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan emas atau reksa dana. Jika perusahaan yang sahamnya Anda miliki mengalami kerugian, maka nilai saham Anda juga bisa turun, yang akan memengaruhi nilai modal Anda. Bahkan, jika perusahaan dinyatakan bangkrut oleh pengadilan atau dibubarkan, dan ternyata tidak memiliki sisa kekayaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari proses likuidasi tersebut. Hal ini karena pemegang saham merupakan prioritas terakhir dalam pembagian aset setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi.

Dalam dunia investasi saham, dikenal istilah saham blue chip, yaitu saham dari perusahaan besar yang memiliki kinerja keuangan stabil, reputasi baik, dan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten. Contoh saham blue chip Indonesia antara lain: Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), Unilever Indonesia (UNVR), dan Astra International (ASII). Harga saham-saham ini umumnya cukup tinggi, sehingga membutuhkan modal lebih besar untuk mulai berinvestasi. Perlu diingat, saham-saham blue chip tidak sepenuhnya bebas risiko. Namun, saham blue chip cenderung lebih aman dibanding saham-saham kecil.

Sehingga, menyiapkan masa depan si kecil bukan hanya soal menabung, tetapi juga soal bagaimana mengelola uang agar nilainya terus bertumbuh. Baik emas, saham, maupun reksa dana memiliki kelebihan dan risiko masing-masing.

Emas cocok untuk tujuan jangka panjang dengan risiko rendah. Nilainya cenderung naik dalam jangka panjang, namun memiliki pergerakan naik turun dalam jangka pendek.

Saham memiliki potensi keuntungan yang lebih tinggi, tetapi membutuhkan pemahaman yang baik dan kesiapan mental menghadapi fluktuasi nilainya yang dipengaruhi oleh kondisi pasar dan performa perusahaan.

Sementara itu, reksa dana cocok untuk orang tua yang baru memulai investasi. Modal yang ditanamkan akan dikelola manajer investasi ke dalam berbagai jenis aset. Risiko tetap ada, tetapi lebih rendah karena tersebar ke banyak instrumen.