Ipuh Hasil Maskulinitas yang Rapuh

Seorang mahasiswa full-time UPNVJ yang berkutat dengan tugas.
Tulisan dari Naomi Zefanya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah tidak bisa diragukan, diversitas penduduk, khususnya pada sejumlah kota besar, sedikit banyak berdampak pada tingkat pemakluman mereka akan segenap budaya baru. Beberapa produk perawatan diri, misalnya, kini sudah memperluas target pasar mereka dengan menyasar para lelaki. Komoditas serum, toner, moisturizer dan kawan-kawannya tercipta begitu rupa untuk menyelesaikan permasalahan kulit para kaum pria.
Begitu pula dengan industri mode. Keterbukaan akan gaya berpakaian akibat globalisasi turut mengukir dampak dalam keseharian para lelaki Indonesia. Norma maskulinitas seolah ‘bergeser’ dengan munculnya garmen-garmen keluaran brand besar berwarna identik ‘feminin’ seperti pink nan lembut pada bagian khusus pria.
Peristiwa sejenis ini tentu menimbulkan sejumlah perdebatan di kalangan masyarakat. Tak sedikit yang berpendapat bahwa lelaki harus tetap pada ‘kodratnya’ dengan berpenampilan lebih maskulin melalui penggunaan warna, model, bahkan bahan pakaian tertentu. Meski demikian, banyak pula yang berpandangan bahwa pakaian tak ayal sebuah kain penutup pelindung tubuh sehingga tidak akan memengaruhi kadar maskulinitas seseorang.
Dari kutipan jurnal berjudul Representasi Maskulinitas dalam Iklan karya Novi Kurnia (2004), maskulinitas adalah gambaran kejantanan, ketangkasan, keperkasaan / keberanian untuk menantang bahaya, hingga keringat yang menetes, otot laki-laki yang menyembul atau bagian tubuh tertentu dari kekuatan daya tarik laki-laki secara ekstrinsik. Karakter ini berkaitan erat dengan sifat kuat serta keras, atau singkatnya, ‘macho’.
Citra ini tentu tidak secara serta-merta terbentuk dalam kehidupan sehari-hari. Tontonan di televisi, berbagai dongeng bahkan pengajaran orang tua tempo dulu sarat akan konsolidasi konsep laki-laki harus maskulin, sehingga tentu aneh bahkan tabu rasanya bila kita melihat seorang laki-laki mengenakan atribut ‘berbau feminin'. Perawatan kulit, warna-warna tertentu pada pakaian serta berbagai benda lainnya seolah-olah sudah terbagi menurut kepemilikan gender yang spesifik.
Pemikiran semacam ini, bila terus dipupuk, dapat membentuk karakter seorang pria dengan maskulinitas rapuh yang mampu berkembang menjadi ‘racun’.
Dilansir dari laman Halodoc, toxic masculinity (maskulinitas yang beracun) merupakan sebuah istilah mengacu pada perilaku dan sikap kasar terkait kejantanan laki-laki, seperti tuntutan untuk bersikap tegas, berpenampilan macho, tidak cengeng, punya jiwa kepemimpinan, serta ahli dalam berbagai macam hal yang kental dengan kesan ‘laki’. Keyakinan seperti ini tentu bisa membebani setiap laki-laki, bahkan konstruksi budaya yang berdasar pada toxic masculinity bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Misalnya, dalam dunia pernikahan, kerapuhan dari maskulinitas (fragile masculinity) ini termanifestasi dalam gengsi seorang ayah yang menolak untuk terlibat dalam mengerjakan urusan rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyapu, hingga mengurus anak yang sepertinya hanya menjadi tugas serta kewajiban sang ibu. Selain itu, perilaku beracun ini juga dapat terwujud dalam kecenderungan agresif seorang laki-laki untuk mengadu kekuatan fisik dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Selain itu, mereka yang maskulinitasnya rapuh juga kerap merasa diri superior, terbukti dari pembawaan mereka dalam bergaul hingga tutur bahasa ketika berkomunikasi yang tak jarang terkesan merendahkan serta menyinggung perasaan dari sang lawan bicara. Topik pembahasan mengenai perawatan diri seperti skincare, selera fashion, bahkan preferensi seksualitas juga tak luput menjadi ajang cemooh saat seseorang dengan maskulinitas rapuh ini terlibat dalam suatu interaksi dengan orang lain.
Padahal, melalui penelusuran yang lebih dalam, budaya Indonesia sendiri kaya akan tradisi dan kebiasaan yang tidak gender-exclusive (terbatas pada satu gender), seperti pada kesenian tari Lengger Lanang dari Banyumas. Tarian ini, secara etimologi, tersusun dari dua kata, leng dan jengger yang berarti laksana perempuan ternyata seorang laki-laki, sehingga penari Lengger Lanang harus berbusana, berias, serta melakukan ronggeng dalam pentas layaknya seorang wanita.
Suku Bugis di Sulawesi Selatan bahkan mengakui adanya 5 sebutan bagi jenis kelamin dalam tatanan masyarakat mereka, salah satunya ialah Calabai. Dilansir dari BBC Indonesia, Calabai lahir dengan tubuh laki-laki namun mengambil peran gender perempuan, mengenakan gaun dan riasan, serta memanjangkan rambut mereka.
Hal ini tentu menjadi sebuah ironi. Meski limpah akan keragaman budaya, masyarakat Indonesia sejak dulu masih cukup lekat dengan penanaman nilai patriarki yang menjadi sebab mengapa gerak laki-laki maupun perempuan terpatok pada sektor tertentu. Bidang pekerjaan, hak, kewajiban serta tugas kerap menjadi ‘jatah’ satu gender, sehingga biasanya seseorang akan menerima respons negatif dari masyarakat ketika ia mencoba keluar dari batas itu.
Meski demikian, tradisi dan kebudayaan Indonesia ini sekaligus membuktikan bahwa sekalipun pria kerap melakukan kebiasaan yang identik dengan kata feminin, tak serta-merta berarti ia akan langsung kehilangan sisi maskulinitas yang ia miliki. Merawat diri, melakukan hobi, hingga memilih warna serta gaya berbusana tak menentukan kadar kejantanan seseorang, sebab arogansi, perilaku kasar, serta superiority-complex (perilaku merasa diri superior) juga bukanlah manifestasi sikap maskulin.
Laki-laki yang mengurus pekerjaan rumah tangga bukanlah ‘suami yang takut istri’, sama halnya dengan laki-laki yang memakai rangkaian skincare pun laki-laki yang memakai busana / atribut berwarna cerah dengan model tertentu juga tak selalu berwatak feminin. Selain contoh, kegiatan sejenis juga tidak khusus menjadi kepemilikan perempuan yang akan menyebabkan maskulinitas seseorang hilang begitu saja.
Tak peduli perbedaan, semua orang bisa melakukan apapun yang mereka mau, selama tidak ada pelanggaran terhadap aturan tertentu maupun penawanan terhadap hak orang lain. Pekerjaan, hobi, serta pakaian tak lebih dari sekadar pengisi dalam kehidupan sehari-hari, tercipta dengan menyasar pada semua gender dan ekspresi.
Saatnya bagi kita sebagai masyarakat majemuk untuk membuka batas yang mengekang agar tak lagi terjadi diskriminasi dan cela bagi setiap orang yang mau melintasi sekat tersebut.
Sumber :
Handayani, V. V. Toxic Masculinity Berdampak pada Kesehatan Mental Anak. URL : https://www.halodoc.com/artikel/toxic-masculinity-berdampak-pada-kesehatan-mental-anak. Diakses tanggal 22 Maret 2022.
Izzhaty, R. 2019. 5 Tanda Kamu Punya Maskulinitas Rapuh. URL : https://magdalene.co/story/lima-tanda-maskulinitas-rapuh. Diakses tanggal 22 Maret 2022.
Kurnia, N. 2004. Representasi Maskulinitas dalam Iklan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 8(1):19-20.
Nugroho, A. 2021. Mahasiswa UGM Teliti Tari Lengger Lanang. URL : https://www.ugm.ac.id/id/berita/21549-mahasiswa-ugm-teliti-tari-lengger-lanang#:~:text=Tari%20Lengger%20Lanang%20Banyumas%20merupakan,laki%20yang%20berpenampilan%20seperti%20perempuan. Diakses tanggal 22 Maret 2022.
Stables, D. 2021. Mengenal lima gender dalam Suku Bugis di Sulawesi yang kerap alami stigma dan diskriminasi, 'Di masa depan, bissu akan terancam punah'. URL : https://www.bbc.com/indonesia/vert-tra-56854166. Diakses tanggal 22 Maret 2022.
