Konten dari Pengguna

Di Balik Gelombang, Demi Merah Putih

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Nur Nawawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah pengabdian dan perjuangan ASN yang bertugas di tengah samudera menjaga sumberdaya kelautan dan perikanan, mereka adalah Awak Kapal Negara yang bertugas di Kapal Pengawas Perikanan.

Foto awak kapal negara Kapal pengawas perikanan Ditjen PSDKP sedang mengamankan awak kapal perikanan asing (Foto:Moh Nur Nawawi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto awak kapal negara Kapal pengawas perikanan Ditjen PSDKP sedang mengamankan awak kapal perikanan asing (Foto:Moh Nur Nawawi)

Di tengah hamparan Laut Natuna Utara yang seolah tak berujung, suara ombak menghantam lambung Kapal Pengawas Perikanan ORCA 03 tanpa henti. Angin laut membawa aroma garam bercampur solar, sementara langit kelabu menggantung rendah seakan ikut menguji setiap insan yang bertugas di atasnya.

Di salah satu lorong kapal, Nawawi menggenggam telepon genggamnya erat. Ia adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berhari-hari berada di tengah laut membuat komunikasi dengan keluarga menjadi kemewahan. Hanya jaringan satelit yang sesekali muncul memberi harapan untuk mendengar suara orang-orang tercinta.

"Papa..."

Suara kecil putrinya, Bening, terdengar terputus-putus.

"Papa video call, dong. Bening kangen."

Permintaan sederhana itu terasa begitu berat. Nawawi menatap hamparan laut melalui jendela kapal yang terus bergoyang diterjang ombak.

"Belum bisa ya, Nak. Sinyalnya jelek. Papa masih di tengah laut."

Di balik jawaban singkat itu tersimpan kerinduan yang tak pernah mudah diucapkan. Menjadi ASN sering kali dipandang sebagai pekerjaan yang identik dengan meja kantor dan tumpukan administrasi. Namun, bagi Nawawi dan rekan-rekannya, pengabdian berarti menghadapi gelombang, cuaca ekstrem, dan berbagai risiko demi menjaga wilayah laut Indonesia.

Belum sempat percakapan berlanjut, sirene panjang memecah keheningan.

"Peran pemeriksaan! Seluruh personel menempati pos masing-masing."

Suasana kapal berubah seketika. Langkah kaki berlari memenuhi lorong. Mesin utama meningkatkan putaran. Informasi dari radar menunjukkan dua kapal ikan asing berbendera Vietnam diduga melakukan penangkapan ikan secara ilegal di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 711.

Tanpa ragu, Nawawi mengakhiri panggilan.

"Papa harus bertugas dulu, ya."

"Papa hati-hati."

Kalimat itu menjadi bekal yang dibawanya menuju geladak.

Dalam hitungan menit, seragam dinas lapangan, loreng kerapu kebanggaan, rompi pelindung, helm pelindung, radio komunikasi, senjata, hingga perlengkapan keselamatan telah dikenakan. Semua dilakukan dengan gerakan yang nyaris otomatis, hasil dari latihan dan pengalaman panjang. Sebelum meninggalkan kabin, Nawawi sempat mengirim pesan singkat kepada keluarganya.

"Papa sedang bertugas. Doakan selalu sehat."

Tak ada penjelasan tentang operasi yang akan dijalankan. Tak ada cerita mengenai lokasi maupun sasaran. Menjaga rahasia negara adalah bagian dari sumpah pengabdian yang dipegang teguh.

Hari itu, Senin, 14 April 2025, ORCA 03 yang dikomandani M. Ma'ruf sedang melaksanakan Operasi Terpadu Bakamla Patma Yudhistira 2025. Pengamatan visual memastikan dua kapal ikan asing bernomor lambung 936 TS dan 5762 TS tengah menggunakan pair trawl, alat tangkap yang dilarang karena mampu menyapu sumber daya ikan sekaligus merusak ekosistem dasar laut.

Saat menyadari kehadiran ORCA 03, kedua kapal berusaha melarikan diri. Sirene kapal pengawas menggema di atas lautan.

"Vietnam Boat, stop engine!"

Tak ada respons. Mesin kapal asing justru meraung lebih keras,perintah pun diberikan.

"Tim Pelumpuhan aksi, Turunkan RIB!"

Perahu cepat meluncur menghantam ombak. Air laut menyembur membasahi seluruh personel. Berdiri di haluan RIB, Nawawi menatap lurus ke arah kapal sasaran. Ombak membuat perahu melonjak tinggi, tetapi tak seorang pun surut.

Ilustrasi personel Kapal pengawas perikanan menangkap kapal ikan asing berbendera vietnam (Gambar:Moh Nur Nawawi)

Sesaat setelah merapat, tim segera melakukan boarding ke kapala ikan asing.

"Stop engine! Hands up!"

Situasi berhasil dikendalikan dengan cepat. Pemeriksaan menunjukkan kedua kapal menggunakan alat tangkap ilegal. Di dalam palka ditemukan sekitar 4.500 kilogram ikan campur, sementara 30 anak buah kapal berkewarganegaraan Vietnam diamankan untuk proses hukum lebih lanjut.

Keberhasilan operasi itu bukan sekadar angka dalam laporan. Negara berhasil menyelamatkan potensi kerugian sumber daya kelautan dan perikanan senilai sekitar Rp152,8 miliar. Lebih dari itu, operasi tersebut menjadi bukti bahwa negara hadir menjaga kedaulatan laut Indonesia.

Namun, keberhasilan itu lahir dari pengorbanan yang jarang terlihat. Ada malam-malam panjang tanpa kabar kepada keluarga. Ada ulang tahun anak yang hanya bisa disaksikan melalui foto. Ada panggilan video yang harus ditunda karena sinyal hilang di tengah samudra.

Empat hari kemudian, saat dua kapal hasil tangkapan dipublikasikan kepada media di Pangkalan PSDKP Batam, sorotan kamera tertuju kepada para pejabat yang memberikan keterangan pers. Sementara itu, Nawawi berdiri beberapa langkah di belakang. Seragamnya masih menyimpan bekas garam laut. Wajahnya menghitam terbakar matahari. Tangannya masih dipenuhi goresan tali kapal.

Ia kemudian berjalan menjauh dari keramaian. Sinyal telepon kali ini penuh. Video call akhirnya tersambung.

"Papaaa!"

Suara Bening terdengar riang.

Di layar, putrinya memperlihatkan gambar sebuah kapal besar dengan bendera Merah Putih. Di samping kapal itu berdiri seorang laki-laki berseragam.

"Aku sedang gambar Papa."

Nawawi tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

Saat itulah ia menyadari bahwa pengabdiannya tidak pernah benar-benar berjalan sendiri. Di rumah, ada keluarga yang setia menunggu. Ada doa yang tak pernah putus mengiringi setiap pelayaran.

Menjadi ASN di garda terdepan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Mereka adalah penjaga kedaulatan yang memastikan kekayaan laut Indonesia tidak dijarah oleh praktik illegal fishing. Mereka menjaga keberlanjutan sumber daya laut agar tetap menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Barangkali nama mereka tak selalu muncul di pemberitaan. Wajah mereka jarang menghiasi layar televisi. Namun, setiap kali Merah Putih berkibar di tiang kapal pengawas, ada tekad yang terus hidup di dada mereka, menjaga laut Indonesia dengan segenap kemampuan.

Sebab di balik setiap gelombang yang dihadapi, tersimpan pengabdian yang tak pernah meminta tepuk tangan. Dan di balik setiap keberhasilan menjaga laut Nusantara, selalu ada ASN yang bekerja dalam senyap, mempertaruhkan kenyamanan bahkan keselamatannya, demi memastikan samudra Indonesia tetap menjadi milik bangsa.