Bahagia Itu Sederhana, Mulailah dengan Bijak Bermedia Sosial

Lulusan MSDM. Mantan Kreatif. Memproses Sustainable Motherhood // @salamnasha
Konten dari Pengguna
20 Maret 2023 17:58
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Nasha UJ tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock
Pernah dengar ungkapan, "we are what we eat"? Sebenarnya itu tidak hanya berlaku untuk apa yang secara harfiah kita makan, namun juga berarti apa yang keseluruhan tubuh kita konsumsi, apa yang masuk ke tubuh kita, apa yang setiap indera kita ini terima.
Objek seperti apa yang mata kita sering lihat, suara apa yang telinga kita banyak dengar, udara bagaimana yang hidung kita hirup, tekstur apa yang kulit kita raba, jadi bukan hanya tentang apa yang lidah kita kecap saja. Semua itu berpadu menentukan hidup seperti apa yang kita jalani, kualitas hidup dan tingkat kebahagiaan individual kita.
Setiap kita memilki waktu yang sama, yakni 24 jam setiap harinya. Dari 24 jam itu, menurut data yang dihimpun oleh Statista, rata-rata kita sebagai orang Indonesia menggunakan lebih dari 8 jam setiap hari untuk internet-an, di mana tiga jam lebih di antaranya kita gunakan untuk bermedia sosial.
Waktu yang cukup panjang, sepertiga hari, mungkin bisa melebihi waktu kita melaksanakan kebutuhan dasar diri seperti tidur. Memang, globalisasi dan kemajuan teknologi mengubah banyak hal dalam hidup kita, salah satunya bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.
Hubungan belakangan tidak lagi dijalin antarmuka, namun antarteks pesan beserta beragam emotikonnya. Tidak bisa ditampik, bahwa ini bisa sebagai jalur untuk mendekatkan yang jauh berkat kepraktisannya.
Sayangnya segala manfaat baik itu juga dapat menimbulkan beragam efek negatif baik itu secara langsung maupun tidak langsung, berdasarkan bagaimana penggunaannya. Apa yang diakses, berapa lama mengaksesnya, dan apa saja yang hilang dalam aktivitas tersebut.
Berbagai peneliti berusaha mencari tahu efek yang ditimbulkan dengan landasan terukur berupa banyaknya waktu yang dihabiskan dengan media sosial dan hubungannya dengan kesehatan mental.
Ulasan yang dilakukan oleh Karim, et al (2020) dalam jurnal PubMed Central terhadap enam belas jurnal terpilih, menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial berpengaruh pada kesehatan mental khususnya kecemasan dan depresi.
Bukan itu saja, penggunaan media sosial yang tidak tepat juga membuat kita kehilangan kualitas hubungan sosial, mengurangi dukungan sosial yang sebenarnya, serta berbagai masalah yang mengarah pada gangguan kesehatan mental. Efek samping yang dimaksud antara lain sebagai berikut.

1. Meningkatkan Kecanduan

Bukan hanya pada alkohol, nikotin, ataupun judi, aktif di media sosial juga menimbulkan efek candu serupa di otak. Notifikasi, likes, shares, dan comments memicu pelepasan instan hormon dopamin, yang mendorong kita untuk menginginkan lagi, lagi, dan lagi.

2. Menurunkan Kepercayaan Diri

Seseorang memang sudah tahu bahwa kulitnya tidak putih, namun melihat orang lain menampilkan kulit yang dipoles menjadi putih dan cerah akan memperbesar masalah yang sebenarnya.
Semakin lama, semakin sering, masuk ke dalam bawah sadar hingga mulai kehilangan percaya diri. Padahal perbandingan diri sendiri yang sebenarnya dengan apa yang dipilih untuk ditampilkan di media sosial bukanlah perbandingan yang setara.

3. Menurunkan Kualitas Hubungan Sosial Sebenarnya

Otak manusia dirancang dengan keterbatasan untuk bisa mempertahankan hubungan berkualitas dengan beberapa orang saja diluar keluarga. Interaksi ini akan mendorong pelepasan hormon oksitosin yang meningkatkan kebahagiaan.
Namun, stimulasinya bukan sekadar pertukaran kata, tapi juga termasuk ekspresi wajah, intonasi suara, posisi tubuh, serta berbagai ekspresi emosional, yang ujungnya dapat meningkatkan nilai persahabatan seperti kepercayaan dan empati. Begitulah hubungan yang sehat, yang sayangnya tidak bisa didapat hanya dari interaksi di media sosial.

4. Berpengaruh Buruk pada Fisik Tubuh

Penggunaan media sosial hingga larut malam dapat mengganggu siklus tidur sehingga penggunanya bisa mengalami gangguan tidur dan social jet lag. Kondisi ini menyebabkan tubuh rentan mengalami kenaikan berat badan dan obesitas. Di sisi lain, obesitas merupakan faktor risiko dari berbagai penyakit seperti kolesterol, penyakit jantung, dan stroke.

5. Meningkatkan Depresi

Garis besarnya, akan berujung pada depresi. Hal ini disebabkan oleh mudahnya membandingkan diri dengan apa yang ditampilkan orang lain dalam media sosial. Kecepatan pergerakan dan obrolan di media sosial juga menimbulkan perasaan takut tertinggal pada apa yang jadi tren.
Tidak membatasi diri di media sosial juga menurunkan kualitas hubungan dengan orang terdekat, menimbulkan perasaan kesepian, menghindarkan dari mendapat dukungan sosial yang sebenarnya, sampai ke perasaan kurang menganggap diri sendiri berharga.

Bijak Bermedia Sosial

Tidak ada waktu yang pasti tentang lama waktu ideal untuk dihabiskan bermedia sosial. Meskipun rata-rata penelitian mengambil waktu dua jam per hari, lebih dari itu efek samping yang tadi disebutkan dapat berkali lipat timbulnya.
Begitu juga dengan cara terbaik untuk bijak bermedia sosial, tidak ada rumusan pasti bagaimana cara terbaik melakukannya untuk menghindarkan diri dari efek-efek negatif tersebut. Namun, seorang psikolog Dr. Packer dalam laman Parade memberi masukan cukup menarik yang bisa dipraktikkan oleh pengguna media sosial.
Ia menyarankan untuk kita mencari tahu sendiri batas waktu personal dan efek apa yang kita rasakan setelah bermedia sosial. Setelah berselancar cukup lama, scrolling di media sosial, tanya ke diri sendiri, apa yang dirasa, apakah itu perasaan yang diinginkan.
Perhatikan juga siapa dan konten apa yang diikuti, apakah itu memberi pengaruh yang positif atau negatif. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu bisa menjadi titik awal bagaimana kita bisa bijak bermedia sosial.
Kiat lain yang bisa dilakukan antara lain menentukan batas waktu untuk bermedia sosial, memilih hari bebas media sosial di mana kita tidak perlu mengakses media sosial di hari itu, secara berkala non-aktifkan salah satu platform selama beberapa saat, coba untuk non-aktifkan notifikasi di handphone, serta gunakan media sosial hanya di tablet atau pc bukan di handphone.
Bicara tentang kebahagiaan, sejak 2012 lalu, United Nation menetapkan 20 Maret sebagai International Happiness Day, hari untuk mengingatkan kita tentang keseluruhan hidup ini. Mungkin tidak sepenuhnya diisi dengan kebahagiaan, tapi setidaknya ke arah sanalah kita seharusnya menuju.
Tahun ini tema happiness day-nya adalah Be Mindful, Be Grateful, Be Kind. Maknanya jelas, agar kita bisa hidup dengan lebih sadar, banyak bersyukur, dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan baik. Ini adalah bentuk perasaan yang ditimbulkan dari hubungan dalam dan luar.
Hubungan dengan diri sendiri, dan hubungan dengan orang lain sesama manusia. Maka sebagai pengguna media sosial, mengendalikan apa yang kita akses tentu menjadi hal yang penting. Begitu juga dengan membagi waktu yang kita miliki dengan seimbang sesuai dengan porsi kebutuhannya masing-masing.
Apa yang kita konsumsi dari media sosial akan banyak mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan. Saking banyaknya kita konsumsi, saking seringnya, itu masuk hingga ke alam bawah sadar yang akhirnya semakin sulit untuk kita kendalikan. Pendek kata, semua kembali pada bagaimana kita bijak dan mampu bertanggung jawab terhadap waktu yang kita miliki.