Jika Sakit, Katakan Sakit

Mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya - Prodi Psikologi
Tulisan dari Nasywa Azzahra Kamal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
It’s okay to not be okay – direktur Park Shin Woo dan penulis Jo Yong
Saat ditanya seseorang “kamu mengapa?”, kira-kira apa sih jawaban yang bakal kamu berikan? apakah kamu akan jawab “aku sedih” “aku marah” atau malah “aku tidak apa-apa kok”. Dari beberapa pernyataan itu, kira-kira jawaban kamu yang mana nih? Kalau jawaban kamu “aku sedih, aku marah” maka selamat, kamu berhasil melakukan “validasi” atas emosi yang sedang kamu rasakan. Tetapi kalau jawaban kamu “aku tidak apa-apa”, apakah perasaan itu benar “tidak apa-apa” atau sebenarnya kamu sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja padahal kenyataannya tidak begitu?

“Tidak apa-apa”, satu kalimat yang memiliki banyak arti. Tentunya semua orang pasti pernah berusaha terlihat baik-baik saja padahal kenyataannya berbanding terbalik dari itu. Karena, saya pribadi juga pernah mengalami fase di mana saya mengatakan “aku tidak apa-apa” kepada orang lain dan tanpa sadar saya menunjukkan sikap tidak mengakui/menolak emosi yang sedang saya rasakan. Saya akan menunjukkan kalau saya kuat, saya bisa, semua akan baik-baik saja. Saya merasa orang lain tidak perlu tahu sisi lemah dari diri saya. Tentunya kata-kata positif tersebut memang bagus diterapkan dalam kehidupan kita, tetapi jika terusmenerus dilakukan hal tersebut akan membawa dampak negatif bagi diri kita sendiri. Menolak emosi yang sedang dirasakan dinamakan toxic positivity. Daripada melakukan toxic positivity, alangkah lebih baik jika kita mulai melakukan “validasi emosi”. Validasi emosi merupakan cara yang kita lakukan untuk mengakui emosi yang sedang kita rasakan.
Apa sih Toxic Positivity?
Menurut Lukin (2019) seorang psychologist asal Ridgewood dan Hoboken, NJ toxic positivity merupakan konsep agar seseorang tetap memiliki pikiran positif sebagai proses yang tepat dalam menjalani hidup. Toxic positivity juga mencakup suatu tindakan di mana kita hanya fokus padahal-hal positif dan menghiraukan emosi negatif yang menjadi pemicu, menurut Quintero & Long (2019). Jika dilihat dari pendapat kedua ahli, toxic positivity dapat disimpulkan sebagai proses di mana kita menolak segala emosi-emosi negatif yang sedang kita rasakan. Kita hanya akan memilih untuk berpikiran positif dan beranggapan bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang mengganggu. Quintero & Long (2019) juga menambahkan bahwa dalam prosesnya, toxic positivity ini dapat menghasilkan penolakan, meminimalisir dan menyangkal emosi-emosi yang sebenarnya sedang dirasakan oleh manusia. Dengan melakukan hal tersebut secara terusmenerus, dapat menyebabkan individu merasa mati rasa karena terusmenerus menolak emosi yang sedang dirasakan.
Tanda-tanda seseorang mengalami Toxic Positivity
Sekarang kita akan membahas bagaimana sih tanda-tanda seseorang mengalami toxic positivity? Menurut Kendra Cherry, seorang educational consultant menuliskan Signs of Toxic Positivity pada artikelnya yang berjudul What is Toxic Positivity? terdapat 4 tanda-tanda yang dapat menunjukkan seseorang mengalami hal tersebut, yaitu:
1. Individu cenderung menyingkirkan/melupakan masalah daripada menyelesaikannya
2. Menutupi perasaan yang sebenarnya dibalik kutipan kata-kata menyenangkan yang biasanya dapat diterima oleh sosial
3. Individu cenderung memikirkan perkataan orang lain akan dirinya
4. Individu cenderung akan menghakimi seseorang jika mereka tidak menunjukkan perilaku positif
Jika dilihat dari ke 4 tanda-tanda ini, apakah kalian pernah melakukan salah satu nya? Kalau disimpulkan, hal-hal yang merujuk pada toxic positivity ini ternyata tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga merugikan orang lain. Lalu apa sih yang harus kita lakukan untuk menghindari toxic positivity?
Validasi emosi untuk menghindari Toxic Positivity
Dengan melihat bahwa toxic positivity bukan perilaku yang baik, maka ada baiknya kita belajar bagaimana sih cara menghindari hal tersebut. Tentunya banyak sekali hal yang dapat kita lakukan, salah satunya adalah validasi emosi atau emotional validation. Nana Alhamid, seorang Founder dari Layanan Psikologi Soul Healer mengatakan bahwa validasi emosi adalah mengakui suatu emosi yang sedang dirasakan. Apakah emosi tersebut sedang marah, kecewa, sedih ataupun senang. Jika sedang kecewa atau sedih kita harus menerima emosi tersebut dan mencari tahu apa penyebabnya daripada menolak (denial) bahwa kita merasakan emosi tersebut dan malah berpikir sebaliknya. Penolakan itu akan berdampak buruk bagi kesehatan mental kita.
Bagaimana langkah-langkah untuk memvalidasi emosi kita
Nah, jika kita sudah tahu apa itu validasi emosi, selanjutnya kita akan belajar bagaimana langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menerapkan “validasi emosi” tersebut. Menurut Mallory Frayn Ph.D dalam psychology today, terdapat beberapa langkah yang dapat kita terapkan untuk memvalidasi emosi kita.
1. Menyadari emosi yang sedang kita rasakan
2. Mengakui emosi apa yang sedang kita rasakan
3. Biarkan diri kita untuk mengalami emosi itu
4. Validasi hak kita untuk merasakan apa yang sedang kita rasakan
5. Jika perlu, rencanakan langkah apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan emosi tersebut
Jika dilihat dari beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memvalidasi emosi, dapat disimpulkan bahwa kita harus menyadari dan mengakui terlebih dahulu emosi atau perasaan yang sedang kita rasakan. Kita tidak boleh menolak bahkan berpura-pura berpikir bahwa kita tidak merasakan emosi tersebut. Jika sudah mengakui emosi tersebut lalu baru kita bisa memikirkan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Janika Veasley, seorang terapis pernikahan yang sudah berlisensi mengatakan bahwa, “Validasi emosi merupakan saat di mana kamu memberikan upaya untuk belajar, mengerti dan menerima perasaan diri sendiri maupun orang lain”.
Setelah membaca dan mengetahui bahwa kebiasaan “aku tidak apa-apa” padahal kenyataannya tidak seperti itu merupakan kebiasaan yang tidak baik, apakah kalian tetap akan melakukan hal itu? Apakah kalian tetap akan membiasakan toxic positivity terusmenerus terjadi dalam kehidupan kalian? Apakah kalian akan tetap membohongi dan menolak segala emosi-emosi negatif maupun emosi positif yang sedang kalian rasakan? Saya harap kalian berhenti melakukan toxic positivity dan mulai membiasakan validasi emosi untuk mendapatkan kesejahteraan baik secara mental maupun fisik. Merasa sedih itu normal, merasa marah itu normal, merasa kecewa itu normal. Tidak ada yang salah atas emosi-emosi negatif yang datang pada diri kita. Semua emosi tersebut merupakan hal normal yang pasti dirasakan oleh setiap manusia. Menerima segala emosi yang sedang kita rasakan merupakan salah satu cara yang kita lakukan untuk menghargai dan mencintai diri kita sendiri.
