Konten dari Pengguna

Pendidikan di Indonesia: Banyak Sekolah, Tapi Apa Kualitasnya Terjaga?

Ajat Sudrajat
mahasiswa Universitas pamulang
13 Juni 2025 11:31 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Ajat Sudrajat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Gambar AI Sekolah: Tempat Belajar atau Lahan Bisnis?"Fenomena komersialisasi pendidikan menjadikan siswa sebagai target pasar.
zoom-in-whitePerbesar
"Gambar AI Sekolah: Tempat Belajar atau Lahan Bisnis?"Fenomena komersialisasi pendidikan menjadikan siswa sebagai target pasar.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, memiliki banyak sekolah seharusnya menjadi hal yang membanggakan. Semakin banyak sekolah, berarti semakin banyak anak yang bisa mengakses pendidikan, bukan? Namun, sayangnya, kenyataannya tidak selalu seindah itu. Justru, ketika jumlah sekolah bertambah, kualitas pendidikan malah terancam. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita bahas lebih dalam.
ADVERTISEMENT

1. Sekolah Ada, Tapi Proses Belajarnya Asal-Asalan

Bayangkan sebuah sekolah yang setiap Senin mengadakan upacara dengan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa," tapi di balik itu, gurunya sering absen, fasilitas belajar seadanya, dan kurikulumnya tidak jelas. Apakah sekolah seperti ini benar-benar bisa mencetak generasi yang berkualitas?
Banyak sekolah di Indonesia hanya sekadar memiliki gedung, tapi proses pembelajarannya sangat minim. Murid datang, duduk di kelas, tapi tidak mendapatkan pengajaran yang memadai. Akhirnya, mereka hanya "sekolah" tanpa benar-benar "belajar." Ini seperti membangun rumah tanpa pondasi—rapuh dan mudah runtuh.

2. Guru Terbagi-Bagi, Kualitas Pendidikan Tidak Merata

Ketika jumlah sekolah bertambah, guru-guru terbaik pun tersebar ke berbagai tempat. Akibatnya, ada sekolah yang dapat guru kompeten, sementara sekolah lain hanya mendapat guru yang sekadar memenuhi syarat administratif.
ADVERTISEMENT
Daerah terpencil sering kali menjadi korban. Sekolah di pelosok kesulitan mendapatkan guru berkualitas. Yang ada hanyalah guru "asal masuk," tanpa metode mengajar yang baik. Padahal, guru adalah ujung tombak pendidikan. Jika gurunya tidak kompeten, bagaimana murid bisa pintar?

3. Sekolah "Abal-Abal" yang Hanya Mengejar Untung

Tidak semua sekolah didirikan dengan niat mulia. Ada yang sekadar memanfaatkan proyek pemerintah atau mencari keuntungan semata. Sekolah seperti ini biasanya hanya mengejar jumlah murid tanpa memedulikan kualitas pengajaran.
Yang lebih memprihatinkan, pengawasan dari pemerintah sering kali lemah. Sekolah abal-abal ini tetap beroperasi, mencetak lulusan dengan ijazah tapi tanpa kompetensi. Akhirnya, banyak lulusan yang tidak siap menghadapi dunia kerja atau pendidikan lanjutan.

4. Mentalitas "Yang Penting Sekolah" di Kalangan Orang Tua

Banyak orang tua berpikir, "Asal anak saya sekolah, urusan nanti bagaimana." Mereka tidak terlalu memerhatikan kualitas sekolah, yang penting anaknya punya ijazah. Akibatnya, muncul generasi yang sekadar "lulus" tapi tidak memiliki keterampilan memadai.
ADVERTISEMENT
Ini berbahaya. Ketika lulusan sekolah tidak kompeten, mereka akan kesulitan bersaing di dunia kerja. Gelar mungkin ada, tapi kemampuan minim. Ujung-ujungnya, pengangguran pun bertambah.

Lalu, Bagaimana Solusinya?

Pendidikan bukan sekadar tentang jumlah sekolah atau gedung yang megah. Jika ingin meningkatkan kualitas, beberapa langkah ini bisa dipertimbangkan:

1.Jangan Asal Membuka Sekolah Baru

Pemerintah harus memastikan bahwa pembangunan sekolah baru disertai dengan kesiapan fasilitas dan tenaga pengajar yang memadai. Jangan sampai sekolah dibangun, tapi guru dan sarana pendukungnya tidak tersedia.

2.Tingkatkan Kualitas Guru

Pelatihan guru harus lebih serius, bukan sekadar bagi-bagi sertifikat. Guru perlu dibekali metode pengajaran yang efektif, terutama di daerah terpencil.

3.Perketat Pengawasan Sekolah

Pemerintah harus aktif memantau sekolah-sekolah, terutama yang diduga hanya mencari keuntungan. Sekolah abal-abal harus ditertibkan atau bahkan ditutup jika tidak memenuhi standar.
ADVERTISEMENT

4.Orang Tua Harus Lebih Kritis

Memilih sekolah untuk anak tidak boleh asal. Orang tua perlu memeriksa kualitas pengajaran, reputasi sekolah, dan kompetensi guru sebelum mendaftarkan anaknya.

Kesimpulan

Pendidikan adalah investasi terbesar untuk masa depan bangsa. Jika hanya mengejar kuantitas tanpa memperhatikan kualitas, yang terjadi adalah generasi "sekolah tapi tidak pintar." Kita tidak ingin anak-anak Indonesia hanya menjadi angka statistik, tapi benar-benar mendapatkan pendidikan yang bermakna.
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu pernah melihat sekolah yang "ada tapi seperti tidak ada"? Atau punya pengalaman terkait masalah ini? Mari berdiskusi di kolom komentar!