Konten dari Pengguna

Sekolah Gratis, Tapi Kenapa Anak Tetap Bisa Putus Sekolah?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natasya Indira Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang siswi berdiri di depan gerbang sekolah dengan seragam dan ransel, sementara spanduk “Sekolah Gratis” terpampang di latar belakang, menggambarkan ironi bahwa pendidikan gratis belum tentu menghilangkan seluruh hambatan untuk tetap bersekolah. Foto: Dok. ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Seorang siswi berdiri di depan gerbang sekolah dengan seragam dan ransel, sementara spanduk “Sekolah Gratis” terpampang di latar belakang, menggambarkan ironi bahwa pendidikan gratis belum tentu menghilangkan seluruh hambatan untuk tetap bersekolah. Foto: Dok. ChatGPT

Ketika mendengar istilah sekolah gratis, hal yang mungkin langsung terbayang adalah anak-anak yang bisa belajar tanpa harus membayar uang sekolah. Secara sederhana, persoalan biaya pendidikan seolah sudah selesai. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Sekolah mungkin tidak meminta uang untuk biaya pendidikan tertentu, tetapi anak tetap membutuhkan biaya untuk bisa datang ke sekolah, belajar, dan bertahan sampai menyelesaikan pendidikannya.

Setiap pagi, seorang anak membutuhkan ongkos untuk pergi ke sekolah jika jaraknya cukup jauh. Ia membutuhkan seragam yang layak, sepatu, tas, buku, alat tulis, dan terkadang uang untuk makan. Ketika ada tugas yang membutuhkan bahan tertentu atau kegiatan sekolah di luar kelas, muncul lagi pengeluaran yang harus dipikirkan oleh keluarga. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi yang terbatas, pengeluaran tersebut bukan sekadar uang kecil yang bisa dikeluarkan begitu saja.

Di sinilah persoalan sekolah gratis menjadi menarik untuk dilihat dari sisi ekonomi. Pendidikan memang dapat diberikan tanpa pungutan biaya sekolah, tetapi proses untuk mengakses pendidikan tetap membutuhkan sumber daya. Ada biaya langsung dan ada biaya tidak langsung. Biaya tidak langsung inilah yang sering kali tidak terlihat ketika kita hanya melihat apakah sekolah memungut uang atau tidak.

Bayangkan sebuah keluarga yang pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika anak harus pergi ke sekolah setiap hari, orang tua tetap perlu menyediakan biaya transportasi dan makan. Jika dalam waktu yang sama keluarga harus membayar kebutuhan rumah, listrik, kesehatan, atau kebutuhan lainnya, pendidikan anak dapat menjadi salah satu pengeluaran yang harus dipertimbangkan. Bukan karena orang tua tidak menginginkan anaknya sekolah, tetapi karena kemampuan ekonomi mereka memiliki batas.

Dalam kondisi seperti itu, anak bisa berada pada situasi yang sulit. Mereka mungkin mulai mengurangi kehadiran di sekolah, memilih bekerja untuk membantu orang tua, atau mengambil lebih banyak tanggung jawab di rumah. Pada akhirnya, sekolah yang secara biaya mungkin sudah gratis tetap terasa sulit dijangkau karena ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi agar anak dapat terus bersekolah.

Masalah ini juga menunjukkan bahwa putus sekolah tidak selalu dapat dilihat hanya dari kemauan anak untuk belajar. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhinya, dan kondisi ekonomi keluarga merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Ketika kebutuhan dasar keluarga belum terpenuhi, pendidikan dapat berada dalam posisi yang harus bersaing dengan kebutuhan sehari-hari.

Ada sebuah anggapan bahwa selama sekolah sudah gratis, setiap anak seharusnya bisa bersekolah. Padahal, akses terhadap pendidikan bukan hanya tentang ada atau tidaknya biaya sekolah. Jarak rumah ke sekolah, transportasi, perlengkapan belajar, kondisi keluarga, hingga kebutuhan untuk membantu orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan seorang anak untuk bertahan dalam pendidikan.

Karena itu, persoalan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah sekolah sudah gratis. Pertanyaan berikutnya adalah apakah anak benar-benar mampu mengakses dan mengikuti pendidikan tersebut sampai selesai. Sebab, memberikan akses masuk ke sekolah merupakan satu hal, sedangkan memastikan seorang anak mampu bertahan di dalamnya merupakan persoalan yang berbeda.

Dukungan terhadap pendidikan juga perlu melihat kondisi keluarga secara lebih menyeluruh. Ketika sebuah keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan yang hanya berfokus pada biaya sekolah mungkin belum cukup. Dukungan transportasi, perlengkapan sekolah, makanan, maupun bantuan sosial bagi keluarga yang membutuhkan dapat menjadi bagian dari upaya agar anak tidak terpaksa meninggalkan pendidikan.

Pada akhirnya, sekolah gratis merupakan langkah penting untuk memperluas akses pendidikan, tetapi tidak otomatis menghapus seluruh hambatan ekonomi. Pendidikan berlangsung setiap hari, bukan hanya ketika anak membayar atau tidak membayar uang sekolah. Selama masih ada kebutuhan untuk pergi ke sekolah, makan, memiliki perlengkapan belajar, dan memenuhi kebutuhan lainnya, selama itu pula pendidikan tetap memiliki biaya yang perlu dipikirkan.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara melihat istilah "sekolah gratis". Bukan hanya bertanya apakah anak bisa masuk sekolah tanpa membayar, tetapi juga apakah anak tersebut memiliki kondisi yang memungkinkan untuk tetap bersekolah. Karena bagi sebagian keluarga, persoalannya bukan ingin atau tidak ingin menyekolahkan anak. Persoalannya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan hidup hari ini sambil memastikan anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan membangun masa depannya.