Teknologi Mempermudah Administrasi, tetapi Belum Tentu Meringankan Beban Guru

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rasya Farha Nadzira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Digitalisasi administrasi sekolah seharusnya meringankan beban guru, bukan menambah pekerjaan dan mengurangi waktu untuk mendampingi siswa.

Teknologi digital semakin banyak digunakan dalam dunia pendidikan, mulai dari platform pembelajaran hingga aplikasi untuk mengelola administrasi sekolah. Kehadirannya diharapkan membuat pekerjaan lebih praktis dan efisien. Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan: apakah digitalisasi benar-benar membantu guru mengajar, atau justru memindahkan beban administrasi ke layar komputer?
Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi di kelas. Mereka juga perlu memahami kesulitan belajar siswa, membimbing perkembangan karakter, serta membangun suasana belajar yang nyaman. Di sisi lain, guru harus menyusun perangkat pembelajaran, mengisi laporan, mendokumentasikan kegiatan, dan memenuhi berbagai tuntutan penilaian kinerja. Ketika pekerjaan administratif terus bertambah, waktu untuk berinteraksi dengan siswa berpotensi semakin berkurang.
Di sinilah teknologi perlu dilihat secara lebih kritis. Digitalisasi sering dianggap sebagai jawaban atas persoalan birokrasi karena mampu mempercepat pengolahan data dan penyusunan laporan. Padahal, penggunaan aplikasi tidak otomatis membuat pekerjaan menjadi lebih ringan. Jika guru harus memasukkan data yang sama ke beberapa platform, mempelajari sistem baru tanpa pendampingan, atau menghadapi aplikasi yang rumit, teknologi justru dapat menciptakan pekerjaan tambahan.
Penelitian Nadifa, Supriyanto, dan Rochmawati dalam *Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru* (2025) mengkaji penggunaan aplikasi digital SIDIKMU untuk mengoptimalkan beban administratif guru di SD Muhammadiyah 3 Pandaan. Penelitian tersebut menemukan manfaat aplikasi dalam mendukung efisiensi administrasi dan membantu guru lebih fokus pada pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi solusi, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan guru dan kondisi sekolah.
Persoalan tersebut dapat dipahami melalui teori birokrasi Max Weber dalam sosiologi pendidikan. Weber menjelaskan bahwa birokrasi dibangun melalui aturan, pembagian tugas, prosedur, dan sistem yang terstruktur. Dalam pendidikan, mekanisme ini dibutuhkan untuk menjaga ketertiban, transparansi, dan pertanggungjawaban. Namun, masalah muncul ketika kepatuhan terhadap prosedur lebih diutamakan daripada tujuan utama pendidikan.
Misalnya, sekolah dapat dengan mudah memeriksa kelengkapan laporan pembelajaran melalui aplikasi. Akan tetapi, laporan tersebut belum tentu menunjukkan apakah siswa memahami materi, berani menyampaikan pendapat, atau memperoleh pendampingan ketika mengalami kesulitan. Jika keberhasilan guru lebih banyak dinilai berdasarkan kelengkapan dokumen, ada risiko pekerjaan yang mudah diukur justru lebih dihargai daripada proses mendidik yang sebenarnya.
Dalam konteks ini, digitalisasi bahkan dapat memperkuat apa yang dapat dipahami sebagai dominasi birokrasi. Sistem yang awalnya dibuat untuk membantu pekerjaan perlahan berubah menjadi tuntutan yang harus selalu dipenuhi. Guru bukan hanya dituntut mengajar, tetapi juga memastikan seluruh aktivitasnya tercatat sesuai format yang ditentukan. Akibatnya, perhatian guru berpotensi bergeser dari kebutuhan siswa menuju pemenuhan administrasi.
Perspektif sosiologi pendidikan mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses menyampaikan pengetahuan. Pendidikan juga merupakan proses sosial yang melibatkan interaksi, pembentukan nilai, dan hubungan antara guru dengan siswa. Ketika waktu guru habis untuk menyelesaikan laporan, kesempatan untuk mengenali kondisi sosial siswa, memahami hambatan belajar, dan memberikan perhatian secara langsung dapat ikut berkurang. Dampaknya bukan hanya dirasakan guru, melainkan juga siswa yang membutuhkan pendampingan.
Karena itu, solusi digitalisasi tidak cukup dengan menyediakan lebih banyak aplikasi. Pemerintah dan sekolah perlu mengevaluasi apakah setiap sistem benar-benar dibutuhkan, mengintegrasikan platform yang fungsinya serupa, serta menghapus pengisian data berulang. Pelatihan dan pendampingan juga perlu diberikan agar teknologi tidak menjadi beban baru, terutama bagi guru yang belum terbiasa menggunakannya. Sekolah pun perlu memastikan tersedianya tenaga administrasi yang memadai sehingga semua pekerjaan tidak bertumpu pada guru.
Pada akhirnya, keberhasilan teknologi pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat laporan terkumpul atau seberapa banyak aplikasi yang digunakan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi membantu guru bekerja lebih efektif dan memberi lebih banyak ruang untuk mendampingi siswa.
Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat pendidikan, bukan sekadar mempercepat birokrasi. Sebab, sekolah tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan dokumen yang lengkap, tetapi juga membentuk manusia yang mampu berpikir, berkembang, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Jangan sampai pendidikan semakin canggih secara digital, tetapi guru justru semakin kehilangan waktu untuk mendidik.
