Menyingkap Manifestasi ‘Bahagia’ Dari Buku Be The Love

Naufal Al Rafsanjani
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirayasa. Antusias dalam mengamati fenomena sosial yang berkaitan dengan kebahasaan, politik dan kebijakan publik.
Konten dari Pengguna
20 Desember 2022 19:54 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Naufal Al Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Bahagia merupakan sebuah kata yang diinginkan oleh setiap orang dalam hidupnya. Banyak orang mencari-cari arti sebuah kebahagiaan, akan tetapi sebetulnya parameter kebahagiaan yang dicari itu juga perlu di cek lagi, siapa tau masih menggunakan ukuran atau pendefinisian yang diberikan oleh orang lain, alih-alih diri kita sendiri.
Foto representasi diambil dari unsplash.com oleh Austin Schmid
Padahal ‘bahagia’ sendiri dalam bahasa termasuk ke dalam ajektiva, yang artinya kata tersebut akan selalu menerangkan subjek yang diacunya. Dan jika dihubungkan dalam kehidupan, itu artinya penentuan bahagia atau tidaknya seseorang terletak dari penilaian orang itu sendiri terhadap perasaan yang dirasakannya, bukan yang datangnya dari penilaian orang lain.
ADVERTISEMENT
Oke kita akan masuk ke dalam topik utama dalam tulisan ini, penulis akan mencoba menilik makna bahagia yang disampaikan oleh Sarah Prout dalam bukunya yang berjudul Be The Love: Seven ways to Unlock Your Heart and Manifest Happiness.
Dewasa ini buku-buku yang membahas mengenai self-love, self-improvement sebetulnya banyak sekali dan mulai hangat untuk diperbincangkan seiring dengan meningkatnya kesadaran manusia terhadap kesehatan mentalnya.
Dan buku ini akan mencoba memberikan prespektif cara untuk membuka hati dan mendefiniskan suatu kebahagiaan.

Percaya Diri

Hal pertama yang perlu dirawat dalam hidup ini adalah rasa percaya diri. Sarah dalam bukunya mengirimkan pesan kepada pembaca bahwa apapun yang ingin kita wujudkan dalam hidup dimulai melalui pancaran energi dan perasaan yang kita miliki, jadi semua dimulai dari kita, dan kita layak menerima perubahan positif atas apa yang kita ciptakan.
ADVERTISEMENT
Kita perlu mengafirmasi diri kita, bahwa kita layak untuk mendapatkan kebahagiaan dan afirmasi posistif ini bisa sangat efektif dalam mengubah pola pikir dalam mewujudkan realitas baru.
Meskipun dalam beberapa waktu kita mendapati pribadi kita, ‘seperti kurang berharga,’ namun sekali lagi kita perlu percaya terhadap diri kita sendiri, mencoba mendapatkan kendali atas emosi, sehingga terdapat jeda sebelum akhirnya bereaksi, karena tidak ada seorangpun yang mampu mendikte reaksi kita terhadap suatu keadaan.
Jadi daripada kita cepat bereaksi atas apa yang baru saja terjadi, bahkan reaksi tersebut timbul dari ketidaksadaran, lebih baik kita mengambil jeda dan melihat alternatif prespektif, dan memikirkannya secara baik-baik.

Libatkan Intuisi

Di dalam hidup, kita memerlukan sebuah intuisi, sebagai upaya terakhir untuk memutuskan melalui nurani, apa yang menurut kita tepat maupun juga tidak tepat, apa yang menurut kita benar maupun juga kesalahan. Kita perlu jujur terhadap diri kita sendiri, agar kita sadar posisi, apakah jalan yang kita ambil sudah sesuai jalur atau justru melintang dari jalur.
ADVERTISEMENT
Cara kita memandang media sosial juga turut memengaruhi parameter arti dari sebuah kebahagiaan, seringkali kita melihat postingan di media sosial dan kita tertarik untuk membandingkan fakta yang terjadi di dunia maya dengan kehidupan nyata yang kita jalani. Alih-alih mengikuti kata hati, justru kita tergoda akan asumsi “itulah kehidupan yang saya inginkan.”
Tentu jika asumsi itu ditafsirkan sebagai sebuah motivasi, tidak akan menjadi masalah, akan tetapi jika asumsi itu hanya membawa kita untuk melupakan rasa syukur.... “Ya buat apa?”
Dan pada akhirnya kita memang perlu membatasi informasi yang diterima melalui media sosial, kita perlu menghindari jebakan gelembung informasi yang justru hanya akan mendistorsi realitas dan juga agar kita tetap terhubung dengan intuisi.
ADVERTISEMENT

Siap akan Konsekuensi

Banyak dari kita takut keluar dari zona nyaman, terjebak dalam kebiasaan yang memunculkan anggapan bahwa perubahan itu menakutkan.
Tentunya asumsi itu tidak sepenuhnya salah, karena memang ide yang membawa perubahan agak menakutkan, dikatakan “agak menakutkan,” karena dalam konteks ini perubahan menyiratkan hal-hal yang belum pernah diketahui dampaknya.
Akan tetapi Sarah Prout mencoba memberikan prepektif, bahwa terdapat sebuah fenomena ajaib sekaitan dengan transformasi. Alam semesta akan memberi penghargaan terhadap mereka yang memiliki ketekunan untuk bangkit kembali, belajar dari kesalahan, dan mencoba lagi, sehingga transformasi yang sebelumnya ditakuti akan seolah menjadi hal yang alamiah.
Ketika kita dihadapkan pada pilihan yang menakutkan (karena menyiratkan nafas perubahan), kita perlu bertanya pada diri sendiri “apa kemungkinan terburuk yang dapat terjadi secara realistis, jika saya memilih yang satu dan mengabaikan pilihan lainnya?”
ADVERTISEMENT
Yang diperlukan untuk menyadari ini adalah pengalaman. Pada gilirannya, pengalaman baru akan memberikan kesempatan kita untuk belajar, dan memperoleh keterampilan baru sekaitan dengan cara kita menciptakan zona nyaman yang baru dengan pelibatan hal yang lebih besar.
Di samping itu kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa kita seringkali mendapati narasi-narasi palsu dalam kepala yang kemudian membenarkan situasi kita (saat ini) meskipun terhadap hal-hal yang perlu dibenahi.
Dan hal-hal seperti ini menurut Sarah Prout bisa terjadi karena pernah mengalami trauma di masa lalu, dan kemudian hal ini yang memberatkan langkah kaki menuju perubahan. Ketika sedang depresi atau mengalami banyak masalah kita seolah berdiri di antara kabut tebal yang tidak pernah hilang.
ADVERTISEMENT
Di dalam bukunya juga dikatakan bahwa hidup bukan cuma soal satu hal, karena terkadang hidup memberi kita hujan lebat, akan tetapi dalam situasi yang lain sinar matahari akan selalu muncul di waktu yang tepat dan memberi energi kebahagiaan.
Pada akhirnya kita akan mencapai pada sebuah simpulan, tidak ada parameter yang absolut untuk mencapai bahagia, karena bahagia adalah cara kita mereaksi hal yang terjadi pada hidup kita, bukan orang lain.
Setiap individu berhak mendefinisikan bahagia menurut nuraninya, tidak ada rumus yang menyiratkan kerumitan dalam mencapai bahagia, bahagia bisa datang walaupun dengan cara yang sederhana.
Buku yang berjudul Be The Love: Seven Ways to Unlock Your Heart and Manifest Happiness berisikan 288 lembar halamn dan diterbitkan pada bulan Mei 2022.
ADVERTISEMENT
Daftar Pustaka
Prout, S. (2022). Be the Love: Seven Ways to Unlock Your Heart and Manifest Happiness. New York: St. Martin's Essentials.