Tuan Putri, In This Economy

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah keadaan ekonomi yang semakin menantang, membangun hubungan asmara terkadang terasa seperti sebuah kemewahan yang harus dipikirkan berkali-kali. Bukan karena cinta sudah kehilangan maknanya, melainkan karena ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum seseorang merasa cukup layak untuk berbagi hidup dengan orang lain.
Hari ini, banyak orang sedang berjuang untuk memperbaiki kehidupannya. Ada yang sibuk mencari pekerjaan, berusaha meningkatkan keterampilan, mengejar pendidikan, atau sekadar bertahan menghadapi kebutuhan sehari-hari yang tidak pernah berhenti datang. Di tengah situasi seperti ini, muncul satu pertanyaan sederhana yang mungkin pernah terlintas di benak sebagian pria: apakah aku sudah cukup siap untuk menjalin hubungan?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah.
Ketika Keadaan Ekonomi Ikut Campur dalam Urusan Cinta
Kita hidup di masa ketika keinginan untuk berkembang sering kali berbenturan dengan kenyataan. Kita dituntut untuk terus meningkatkan kualitas diri, memiliki pekerjaan yang layak, mencapai kestabilan finansial, dan merencanakan masa depan. Namun, kesempatan untuk mencapai semua itu tidak selalu berjalan seiring dengan tuntutan yang ada.
Di tengah berbagai kebijakan pemerintah yang terkadang menimbulkan kebingungan dan keresahan masyarakat, sebagian anak muda harus memikirkan lebih banyak hal daripada sekadar mengejar cita-cita. Mereka harus memikirkan biaya hidup, peluang kerja, tabungan, dan masa depan yang masih terasa samar.
Dalam keadaan seperti itu, menjalin hubungan bukan lagi sekadar persoalan menemukan seseorang yang disukai. Ada tanggung jawab emosional, waktu, tenaga, dan terkadang biaya yang juga perlu dipertimbangkan.
Bagi sebagian pria, keinginan untuk memiliki pasangan sebenarnya tetap ada. Mereka juga ingin memiliki seseorang untuk berbagi cerita setelah menjalani hari yang melelahkan, seseorang yang bisa diajak tertawa di tengah kesulitan, atau seseorang yang membuat perjalanan hidup terasa sedikit lebih ringan.
Namun, keinginan tersebut sering kali berbenturan dengan perasaan belum cukup mapan. Mereka takut tidak mampu memberikan kehidupan yang baik, takut mengecewakan pasangan, atau bahkan takut dianggap tidak memiliki masa depan hanya karena keadaan mereka belum sesuai dengan ekspektasi.
Akhirnya, beberapa pria memilih untuk menunda hubungan. Bukan karena tidak ingin mencintai, tetapi karena sedang berusaha membangun kehidupan yang nantinya bisa mereka bagi dengan orang lain.
Standar TikTok dan Ekspektasi dalam Hubungan
Di sisi lain, media sosial turut membentuk cara sebagian orang memandang hubungan asmara. Melalui TikTok, Instagram, dan berbagai platform lainnya, kita disuguhi gambaran hubungan ideal: pasangan yang selalu memberikan kejutan, bunga setiap bulan, makan malam di tempat mewah, hadiah mahal, hingga laki-laki yang selalu tahu bagaimana memperlakukan pasangannya dengan sempurna.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Setiap orang berhak memiliki standar dan menginginkan hubungan yang membuatnya merasa dicintai. Persoalannya muncul ketika apa yang terlihat di media sosial mulai dijadikan ukuran mutlak untuk menilai kualitas seseorang dalam sebuah hubungan.
Kita perlu menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat hadiah yang diberikan, tetapi belum tentu mengetahui perjuangan untuk membelinya. Kita melihat pasangan yang terlihat bahagia, tetapi tidak selalu mengetahui bagaimana mereka menyelesaikan konflik di balik layar.
Ketika gambaran tersebut terus dikonsumsi, hubungan yang sederhana bisa terasa kurang istimewa. Perhatian yang tulus dianggap biasa saja jika tidak disertai hadiah. Usaha yang dilakukan dengan kemampuan terbatas terasa tidak cukup jika dibandingkan dengan standar romantis yang beredar di media sosial.
Fenomena ini kemudian memunculkan apa yang bisa disebut sebagai standar TikTok, yaitu ekspektasi hubungan yang terbentuk dari tren, konten romantis, dan gambaran kehidupan ideal di media sosial.
Tentu saja, tidak semua perempuan memiliki pola pikir seperti itu. Banyak perempuan yang justru memahami keadaan pasangannya dan tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran cinta. Namun, bagi pria yang merasa harus selalu memenuhi ekspektasi tertentu, keberadaan standar yang tampak tinggi di media sosial dapat menambah rasa tidak percaya diri.
Mereka mulai bertanya-tanya: apakah perhatian sederhana masih cukup? Apakah usaha yang dilakukan dengan kemampuan saat ini akan dihargai? Dan apakah seseorang masih bisa dicintai ketika kehidupannya belum sesempurna yang terlihat di media sosial?
Memperlakukan Pasangan Seperti Putri, Tanpa Harus Menjadi Pangeran
Aku percaya bahwa memperlakukan pasangan dengan baik adalah bagian penting dari sebuah hubungan. Jika seorang pria ingin memiliki pasangan yang dicintai dan dihargai, ia juga perlu belajar memberikan rasa aman, perhatian, kesetiaan, serta penghormatan.
Perempuan yang ingin diperlakukan seperti seorang putri tentu bukanlah sesuatu yang salah. Setiap orang ingin merasa istimewa bagi orang yang dicintainya. Mereka ingin didengarkan, diperhatikan, dihargai, dan sesekali mendapatkan perlakuan romantis yang membuat mereka merasa berarti.
Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan: seorang pria yang diminta memperlakukan pasangannya seperti putri juga tetaplah manusia biasa.
Ia bisa mengalami hari yang buruk. Ia bisa kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah keluarga, merasa lelah, atau mengalami masa ketika kondisi keuangannya tidak memungkinkan untuk memberikan sesuatu yang istimewa. Ia bisa saja ingin membahagiakan pasangannya, tetapi pada saat yang sama sedang berjuang agar kehidupannya sendiri tetap berjalan.
Tidak setiap saat seseorang mampu memberikan bunga, mengajak makan malam di tempat mahal, atau menghadirkan kejutan yang terlihat romantis. Ada kalanya bentuk cinta yang paling besar justru hadir melalui hal-hal sederhana: meluangkan waktu di tengah kesibukan, mendengarkan keluh kesah, menemani ketika keadaan sedang sulit, atau tetap berusaha meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
Bagiku, memperlakukan pasangan seperti putri bukan berarti seorang pria harus selalu memenuhi semua keinginan pasangannya. Lebih dari itu, ia harus mampu membuat pasangannya merasa dihargai tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Begitu pula sebaliknya. Seorang perempuan yang mencintai pasangannya tidak harus mengabaikan kebutuhannya sendiri, tetapi ia juga perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun dari tuntutan sepihak. Ada ruang untuk menyampaikan keinginan, ada ruang untuk berusaha, dan ada ruang untuk menerima kenyataan bahwa kemampuan setiap orang memiliki batas.
Cinta bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak memberi. Cinta adalah proses dua orang untuk saling memahami, tanpa menjadikan kekurangan satu sama lain sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Aku Tidak Mencari Seseorang yang Menurunkan Standarnya, Aku Mencari Seseorang yang Memahami Keadaan
Jika suatu hari nanti aku memiliki pasangan, aku tentu ingin membahagiakannya. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan, yang mampu memberikan perhatian, dan yang membuatnya merasa bahwa kehadirannya berarti dalam hidupku.
Namun, aku juga berharap bisa menemukan seseorang yang memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Aku ingin memiliki pasangan yang tidak hanya hadir ketika keadaan sedang baik, tetapi juga mampu memahami ketika aku sedang berusaha memperbaiki keadaan. Seseorang yang tidak langsung meragukan perasaanku hanya karena aku belum mampu memberikan sesuatu yang ia inginkan. Seseorang yang bisa membedakan antara pria yang tidak mau berusaha dan pria yang sedang berusaha, tetapi belum sampai pada hasil yang diharapkan.
Aku tidak sedang mengatakan bahwa seorang pria tidak perlu memiliki tanggung jawab atau berhenti berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Justru sebaliknya, aku ingin terus berkembang, memperbaiki diri, dan membangun masa depan yang lebih baik. Aku ingin memiliki kemampuan untuk memenuhi tanggung jawabku, termasuk ketika kelak harus berbagi kehidupan dengan seseorang.
Namun, aku juga ingin perjalanan itu dijalani bersama seseorang yang mengerti bahwa proses berkembang tidak selalu indah. Ada kegagalan, ada penundaan, ada rencana yang harus diubah, dan ada masa ketika yang bisa dilakukan hanyalah bertahan sambil mencari jalan keluar.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang menghapus seluruh ekspektasinya demi diriku. Aku hanya berharap menemukan seseorang yang bisa membicarakan ekspektasi tersebut dengan realistis, yang bersedia tumbuh bersama, dan yang memahami bahwa hubungan bukan hanya tentang apa yang bisa diberikan seseorang hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kedua orang di dalamnya saling mendukung untuk menjadi lebih baik.
Sebab, menurutku, hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus berpura-pura menjadi kaya, kuat, atau sempurna agar pantas dicintai.
Pada Akhirnya, Aku Hanya Ingin Kita Saling Mengerti
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, ketika banyak orang masih berusaha menemukan pijakan yang kokoh untuk masa depannya, aku berharap cinta tidak menjadi beban tambahan yang membuat seseorang semakin takut melangkah.
Aku berharap kelak bisa bertemu dengan seseorang yang memahami bahwa di balik seorang pria yang terlihat biasa saja, mungkin ada banyak perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan. Ada mimpi yang sedang ia kejar, tanggung jawab yang sedang ia pikul, dan ketakutan yang berusaha ia atasi sendirian.
Aku ingin menjadi pria yang mampu memperlakukan pasanganku seperti seorang putri. Namun, aku juga berharap ketika suatu hari aku tidak mampu menjadi sosok yang selalu kuat, aku tetap memiliki tempat untuk pulang.
Tempat di mana aku tidak harus selalu datang dengan membawa sesuatu yang mewah. Tempat di mana percakapan sederhana tetap berarti, kejujuran lebih dihargai daripada pencitraan, dan usaha kecil tidak dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Mungkin aku memang belum memiliki semua yang kuinginkan saat ini. Mungkin masih banyak hal yang harus kupelajari, banyak kemampuan yang harus kukembangkan, dan banyak bagian dari kehidupanku yang perlu kubenahi. Aku tidak ingin menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Aku hanya berharap, ketika waktunya tiba, aku tidak perlu menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri demi mendapatkan cinta.
Karena pada akhirnya, aku tidak hanya ingin menemukan seseorang yang ingin diperlakukan seperti putri. Aku ingin menemukan seseorang yang juga bersedia menjadi teman seperjalanan, seseorang yang memahami bahwa di dunia yang semakin sulit ini, dua orang tidak harus selalu menjadi raja dan ratu untuk bisa saling membahagiakan.
Terkadang, dua orang yang sama-sama sedang berjuang, saling menguatkan, dan tetap memilih untuk bertahan bersama sudah lebih dari cukup.
Dan jika suatu hari nanti aku menemukan seseorang seperti itu, aku harap kami bisa saling berkata: kita mungkin belum memiliki segalanya, tetapi setidaknya kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
