Konten dari Pengguna

Kontras Dua Konsep Feminitas

Lu'lu Naura Nur Syahidah

Lu'lu Naura Nur Syahidah

Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lu'lu Naura Nur Syahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Feminitas seperti identitas budaya—cair dan kompleks." (sumber: dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
"Feminitas seperti identitas budaya—cair dan kompleks." (sumber: dokumen pribadi)

Novel klasik Abdul Muis ini bukan sekadar kisah cinta tragis, tapi cermin tajam bagaimana kolonialisme membentuk pandangan kita terhadap perempuan.

Hampir seabad berlalu sejak novel "Salah Asuhan" karya Abdul Muis terbit pada 1928, namun relevansinya terhadap dinamika gender dan identitas di Indonesia kontemporer masih menggelitik untuk diperbincangkan. Di balik kisah cinta segitiga yang tragis, novel ini menyimpan kritik mendalam tentang bagaimana kolonialisme membentuk persepsi terhadap feminitas dan identitas budaya.

Hanafi dan Krisis Identitas Generasi Terdidik

Hanafi, tokoh utama yang berasal dari Solok, merepresentasikan dilema generasi pribumi terdidik pada masa kolonial. Pendidikannya di HBS (Hogere Burgerschool)—sekolah bergengsi yang didominasi orang Eropa—justru membuatnya terasing dari akar budayanya sendiri. Ia mulai memandang rendah tradisi Melayu dan mengagungkan nilai-nilai Barat.

Melalui karakter ini, Abdul Muis mengkritik sistem pendidikan kolonial yang menciptakan pribumi "tercerahkan" namun kehilangan jati diri. Ironi pendidikan yang seharusnya membebaskan, justru menciptakan belenggu mental yang berujung tragedi.

Dua Wajah Feminitas: Corrie vs Rapiah

Yang membuat novel ini menarik untuk dikaji hingga kini adalah kontras dua konsep feminitas yang diwakili oleh Corrie du Busse dan Rapiah.

Corrie merepresentasikan feminitas "modern" ala Eropa—terpelajar, mandiri, dan bebas bergaul. Ia bisa bermain tenis, berjalan-jalan dengan laki-laki, bahkan memiliki pendidikan tinggi tanpa dianggap melanggar norma sosial komunitasnya.

Di sisi lain, Rapiah mewakili feminitas tradisional Melayu—santun, patuh, dan domestik. Meski tidak berpendidikan formal, ia memiliki ketangguhan batin yang membuatnya bertahan menghadapi perlakuan kasar suami yang tidak mencintainya.

Namun, Abdul Muis cerdik tidak menempatkan kedua karakter ini dalam posisi hitam-putih. Justru ia menunjukkan kompleksitas dan kontradiksi di balik masing-masing representasi feminitas tersebut.

Kebebasan yang Semu

Penolakan awal Corrie terhadap cinta Hanafi bukan sekadar urusan hati, melainkan cermin struktur sosial kolonial yang rasis. Corrie menolak karena tidak ingin statusnya sebagai perempuan Eropa "turun" akibat menikah dengan pribumi.

Ketika akhirnya menikahi Hanafi, Corrie justru diasingkan oleh komunitasnya sendiri. Perempuan Eropa yang tampak "bebas" ternyata tetap dikontrol oleh aturan sosial yang menuntut mereka menjaga segregasi rasial. Feminitas Eropa yang terlihat progresif pada akhirnya juga terjebak dalam ekspektasi kolonial.

Resistensi dalam Kepatuhan

Sementara itu, pernikahan paksa Rapiah—yang diatur ibunya—menunjukkan posisi perempuan pribumi dalam masyarakat patriarkal. Tanpa bisa memilih pasangan, ia harus menerima perlakuan buruk dari suami yang mencintai perempuan lain.

Namun di balik kepatuhannya, Abdul Muis menggambarkan kekuatan tersembunyi. Keteguhan Rapiah menjaga harga diri meski diperlakukan buruk bisa dibaca sebagai bentuk resistensi diam-diam terhadap dominasi maskulin.

Relevansi di Era Digital

Perdebatan tentang feminitas dalam "Salah Asuhan" memiliki gema kuat di Indonesia kontemporer. Di era globalisasi dan media sosial, dikotomi antara perempuan "tradisional" versus "modern" masih kerap muncul.

Perempuan yang memilih berkarier atau berpakaian sesuai selera sering dicap meninggalkan nilai keperempuanan "asli". Sebaliknya, yang mempertahankan gaya hidup konvensional kadang dianggap kolot. Pembagian biner ini mengingatkan pada jebakan yang dialami Corrie dan Rapiah—sama-sama terkurung dalam ekspektasi sosial yang kaku.

Melampaui Kategorisasi Sempit

Novel ini mengajak kita berpikir kritis tentang kategorisasi sederhana (tradisional/modern, Timur/Barat) dalam memahami identitas gender. "Salah Asuhan" menunjukkan bahwa feminitas, seperti identitas budaya, adalah ruang yang cair dan kompleks.

Kematian tragis Corrie akibat kolera dan bunuh diri Hanafi bisa diinterpretasikan sebagai kritik terhadap konstruksi sosial yang membatasi ruang gerak individu. Keduanya menjadi korban sistem yang tidak memberi ruang bagi negosiasi identitas yang lebih fleksibel.

Pelajaran untuk Hari Ini

Di tengah perdebatan identitas nasional versus global yang terus bergulir, karya Abdul Muis yang hampir berusia seabad ini mengingatkan bahwa pergulatan identitas dan gender bukanlah fenomena baru. Ia telah menjadi bagian dari sejarah bangsa sejak era kolonial.

"Salah Asuhan" mengajarkan bahwa alih-alih terjebak dalam dikotomi sempit, kita perlu mengembangkan pemahaman yang lebih nuansif tentang feminitas dan identitas. Perempuan Indonesia hari ini, seperti Corrie dan Rapiah di masa lalu, berhak mendefinisikan diri mereka sendiri tanpa harus memilih antara menjadi "tradisional" atau "modern".

Novel klasik ini mengingatkan bahwa keragaman cara menjadi perempuan adalah kekayaan, bukan ancaman yang harus diseragamkan.