Student Hidjo: Sebuah Kekayaan Wacana Tentang Identitas Nasional

Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lu'lu Naura Nur Syahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel karya Mas Marco Kartodikromo ini menggambarkan dilema yang masih relevan hingga kini—bagaimana mempertahankan jati diri di tengah gempuran modernitas.
Di era globalisasi seperti sekarang, berapa banyak dari kita yang merasa terjebak antara menjadi "anak Indonesia" dan "warga dunia"? Pertanyaan ini ternyata sudah diajukan sejak lebih dari satu abad lalu melalui novel "Student Hidjo" karya Mas Marco Kartodikromo.
Ditulis sekitar 1918, novel ini sempat dicap sebagai "bacaan liar" oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun justru di balik label kontroversial itulah tersimpan kritik sosial yang tajam tentang pergulatan identitas—tema yang masih sangat relevan di Indonesia kontemporer.
Hidjo: Prototipe Generasi Sandwich
Hidjo adalah pemuda priyayi Jawa yang berkesempatan melanjutkan pendidikan ke Belanda. Seperti generasi muda Indonesia saat ini yang mendapat beasiswa ke luar negeri, Hidjo menghadapi dilema: bagaimana memanfaatkan kesempatan global tanpa kehilangan identitas lokal.
Pesan sang ibu, Raden Nganten, begitu menohok:
"Kalau kamu pergi di Negeri Belanda sampai nakal seperti anak-anak Jawa yang ada di Negeri Belanda lainnya, kamu saya tinggal mati."
Kecemasan ini mencerminkan kegelisahan masyarakat pribumi terhadap "westernisasi"—ketika generasi muda kembali dari luar negeri dengan mentalitas yang berubah drastis.
Transformasi yang Tak Terelakkan
Di Belanda, perubahan Hidjo terjadi secara menyeluruh. Mulai dari ganti outfit tradisional ke setelan Eropa, mengubah pola makan dari nasi ke roti, hingga menyerap nilai-nilai individualisme yang kontras dengan budaya Jawa.
Yang paling kompleks adalah kehidupan percintaannya. Di tanah air, Hidjo sudah ditunangkan dengan Biroe yang merepresentasikan nilai tradisional. Sementara di Belanda, ia menjalin hubungan dengan Betje yang melambangkan kebebasan Barat.
Konflik ini mirip dengan yang dialami anak muda Indonesia masa kini—terjebak antara ekspektasi keluarga yang menginginkan mereka tetap memegang nilai tradisional dengan realitas pergaulan global yang lebih liberal.
Mencari Jalan Tengah di Era Digital
Hidjo akhirnya memilih pulang ke Jawa, namun bukan sebagai pribadi yang sama. Ia berhasil menemukan jalan tengah: mengadaptasi pengetahuan Barat sambil mempertahankan kesadaran kritis terhadap kolonialisme.
Resolusi ini sangat relevan dengan tantangan generasi milenial dan Gen Z Indonesia. Era digital memungkinkan akses informasi dan peluang global tanpa batas, tetapi juga membawa risiko kehilangan identitas lokal.
Fenomena brain drain—di mana talenta terbaik Indonesia memilih berkarier di luar negeri—menimbulkan pertanyaan serupa: bagaimana berkontribusi untuk Indonesia sambil mengejar kesempatan global?
Pelajaran untuk Indonesia Masa Kini
Novel Mas Marco mengajarkan bahwa menjadi "modern" tidak harus berarti meninggalkan identitas kultural. Sebaliknya, mempertahankan identitas nasional juga tidak harus berarti menolak kemajuan global.
Yang diperlukan adalah sikap kritis dan selektif dalam berinteraksi dengan pengaruh global—pelajaran yang sangat relevan di era media sosial saat ini.
Di tengah gencarnya tren K-pop, Western lifestyle, dan budaya pop global lainnya, generasi muda Indonesia perlu belajar dari Hidjo: bagaimana mengambil yang baik dari luar sambil tetap memiliki akar yang kuat di tanah sendiri.
"Student Hidjo" membuktikan bahwa sastra Indonesia memiliki kekayaan wacana tentang identitas nasional yang layak digali kembali. Pergulatan identitas yang dialami Hidjo satu abad lalu ternyata masih bergema kuat dalam Indonesia modern.
Di era transformasi digital yang begitu cepat ini, mungkin sudah saatnya kita kembali membaca "Student Hidjo" untuk menemukan inspirasi dalam menavigasi kompleksitas identitas modern. Seperti Hidjo yang berhasil menemukan jalan tengahnya, generasi Indonesia saat ini juga perlu menemukan formula yang tepat untuk menjadi global citizen yang tetap berjiwa Indonesia.
