Belajar Dewasa di Kota Orang: Realita yang Tidak Diajarkan di Kampus

Mahasiswa fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Muthiah Naurah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hidup di kota orang bukan cuma soal mengejar nilai A atau lulus tepat waktu. Ada juga pelajaran lain yang tidak diajarkan di kampus yaitu cara bertahan hidup saat uang kiriman telat, belajar memasak supaya nggak terus-terusan makan mie instan, menangis diam-diam karena banyaknya masalah atau karena rindu rumah, hingga memendam sakit sendirian tanpa tahu harus cerita ke siapa. Inilah realita mahasiswa rantau yang keras, tapi diam-diam membuat kita belajar jadi dewasa.
Uang kiriman bukan segalanya. Diawal bulan, saldo rekening masih terasa aman. Tapi ketika pertengahan bulan tiba, semuanya berubah. kita dituntut untuk belajar cara mengatur uang. Menimbang mana yang untuk kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Kita menjadi lebih bijak dalam memilih masak sendiri daripada beli makan di luar, memanfaatkan promo aplikasi, hingga rela menunda nongkrong demi memastikan tagihan kos tetap aman. Tanpa disadari, inilah jalan hidup yang perlahan mendewasakan kita.
Masakan rumah dan rindu yang mengendap. Bagi anak kos, aroma masakan ibu adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli. Rindu itu bisa datang tiba-tiba, kadangkala saat membuka bekal seadanya atau ketika masak mie instan untuk yang ketiga kalinya dalam sehari. Diam-diam perjuangan ini membuat kita lebih menghargai rumah, ibu, dan meja makan sederhana di kampung halaman.
Jatuh bangun dalam pergaulan. Di kota asing, mencari teman yang benar-benar bisa diajak berbagi suka dan duka tidak semudah yang dibayangkan. Kadang, ada rasa jadi "orang asing" di lingkaran pertemanan baru. Ada juga momen ketika kita menyadari bahwa tidak semua orang harus dibuat senang dan tidak semua obrolan harus diikuti. Tapi dari sanalah kita belajar memilih mana lingkaran yang sehat dan siapa saja yang layak untuk ditemani.
KESIMPULAN
Dewasa tidak datang tiba-tiba, ia tumbuh perlahan lewat kesulitan-kesulitan kecil yang kita temui di kota orang. Menjadi perantau memang tak mudah, tapi dari sini kita belajar bahwa pulang tak selalu berarti kembali ke rumah, tapi kembali sebagai diri yang lebih kuat.
