Jebakan "Self-Reward": Pola Pikir Finansial Gen Z di Balik Doom Spending

Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nayara Audrey tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa lelah setelah seharian beraktivitas, lalu tanpa sadar membuka aplikasi e-commerce dan mulai memasukkan barang ke keranjang? Awalnya mungkin hanya ingin melihat-lihat, tetapi berakhir dengan menekan tombol checkout karena merasa, “Aku pantas mendapatkan ini setelah hari yang melelahkan.” Kebiasaan belanja untuk mencari rasa lega sesaat ini dikenal sebagai doom spending, yaitu perilaku membeli secara impulsif sebagai pelarian dari stres atau tekanan.
Masalahnya, rasa lega tersebut biasanya hanya bertahan sebentar. Setelah transaksi, muncul penyesalan ketika melihat saldo berkurang atau menyadari barang yang dibeli sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan belanja, tetapi juga dengan cara memandang uang, pengelolaan arus kas pribadi, dan kondisi emosional, sehingga penting untuk memahami dampaknya sekaligus cara mengatasinya agar kondisi keuangan tetap terjaga.
Ketika Belanja Menjadi Pelarian
Doom spending terasa menyenangkan karena memberikan kepuasan secara instan. Proses memilih barang, mendapatkan promo, hingga melihat tulisan “pesanan berhasil” dapat memberikan sensasi senang yang membuat seseorang sejenak melupakan stres. Ditambah lagi, kemudahan teknologi seperti paylater, one-click checkout, gratis ongkir, dan berbagai promo membuat keputusan untuk membeli terasa semakin mudah.
Namun, kemudahan tersebut juga membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian tanpa berpikir panjang. Setelah rasa senang menghilang, barulah muncul pertanyaan, “Tadi aku benar-benar membutuhkan barang ini atau hanya sedang ingin merasa lebih baik?” Jika kondisi ini terus berulang, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain atau ditabung justru ikut terpakai.
Cara Pandang terhadap Uang Berubah
Salah satu hal yang membuat doom spending sulit disadari adalah cara seseorang memandang uang. Misalnya, mengeluarkan Rp30.000 untuk kopi atau jajan mungkin terasa kecil karena dianggap sebagai bentuk self-reward. Namun, ketika Rp30.000 tersebut harus disisihkan untuk ditabung, nominal yang sama bisa terasa jauh lebih berarti.
Kondisi tersebut berkaitan dengan mental accounting, yaitu kecenderungan seseorang untuk membagi uang ke dalam kategori-kategori tertentu secara mental. Uang untuk “hiburan” atau “self-reward” sering dianggap berbeda dengan uang untuk tabungan, meskipun sebenarnya berasal dari sumber yang sama. Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering tidak terasa karena tidak langsung terlihat dampaknya.
Sedikit Demi Sedikit, Tabungan Ikut Terkikis
Doom spending pada akhirnya dapat mengganggu arus kas dan mengurangi kemampuan seseorang untuk menabung. Uang yang seharusnya dialokasikan untuk tabungan atau kebutuhan penting justru digunakan terlebih dahulu untuk memenuhi keinginan sesaat. Karena pengeluaran tersebut sering tidak direncanakan, anggaran bulanan pun menjadi lebih sulit dikendalikan.
Kondisi ini biasanya baru terasa ketika saldo mulai menipis. Saat itulah seseorang menyadari bahwa uang untuk kebutuhan dasar, tabungan, atau keperluan di akhir bulan ternyata sudah berkurang. Tanpa evaluasi arus kas secara rutin, pola pengeluaran seperti ini akan terus berulang tanpa benar-benar diketahui penyebabnya.
Mulai dari Kebiasaan Kecil
Meski terdengar sulit, doom spending sebenarnya bisa dikendalikan dengan menerapkan kebiasaan akuntansi pribadi yang sederhana namun konsisten. Langkah paling dasar adalah mencatat pengeluaran harian sekecil apa pun, karena catatan ini membantu memetakan ke mana sebenarnya uang self-reward pergi sehingga dana yang tidak perlu bisa langsung terlihat. Selain itu, alokasi anggaran sederhana, misalnya membagi porsi untuk kebutuhan, tabungan, dan hiburan akan membuat batas belanja emosional jadi lebih jelas dan tidak lagi mengambang di kepala.
Kebiasaan lain yang bisa dicoba adalah menunda checkout selama 24 jam sebelum membeli barang yang tidak direncanakan. Jeda ini dapat memberi ruang untuk mengecek ulang apakah pembelian tersebut masih sejalan dengan anggaran. Dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara rutin, dorongan belanja akibat stres tidak lagi otomatis berubah menjadi pengeluaran, dan uang yang seharusnya ditabung pun bisa terselamatkan.
Jangan Sampai Self-Reward Mengorbankan Masa Depan
Doom spending pada Gen Z bukan sekadar persoalan boros atau tidak bisa mengatur uang. Di baliknya terdapat hubungan antara kondisi emosional, cara memandang uang, kebiasaan mencatat arus kas, serta tekanan sosial dan ekonomi yang dihadapi sehari-hari.
Belanja memang bisa memberikan rasa senang, tetapi efeknya hanya sementara jika digunakan sebagai pelarian dari stres. Ketika pola stres, belanja, penyesalan, dan belanja kembali terus berulang, kondisi keuangan justru dapat semakin tertekan.
Karena itu, belajar mengelola uang bukan hanya tentang berapa banyak yang bisa ditabung, tetapi juga tentang memahami alasan di balik setiap pengeluaran. Tidak ada salahnya memberikan penghargaan kepada diri sendiri, selama rasa lega hari ini tidak harus dibayar dengan masalah keuangan di kemudian hari. Sebab, pada akhirnya, ketenangan finansial mungkin jauh lebih berharga daripada kepuasan sesaat setelah menekan tombol “checkout”.
