Bukan Tentang Bayaran: Kisah Nyata Guru Ngaji dan Keikhlasan Sejati

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nazwa Aulia Sutisna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengajar ngaji tanpa mengharapkan imbalan materi adalah bentuk pengabdian yang mulia dan penuh keikhlasan. Banyak guru ngaji di Indonesia yang rela menyisihkan waktu dan tenaga hanya untuk menyalurkan ilmu Al-Qur’an kepada generasi muda, tanpa pamrih dan tanpa meminta bayaran. Keikhlasan ini bukan hanya soal tidak menerima upah, tetapi juga menempatkan niat mengajar sebagai ibadah semata, mencari ridha Allah SWT.
Kisah Inspiratif Guru Ngaji yang Ikhlas
Ustadz Asep, misalnya, mengabdikan dirinya mengajar ngaji anak-anak setiap hari di Masjid Al-Hidayah tanpa membebankan biaya kepada muridnya. Baginya, ilmu agama adalah amanah yang harus disebarkan tanpa hambatan finansial. Begitu pula dengan seorang guru ngaji di Desa Darmaraja, Sumedang, yang mengajar puluhan murid tanpa meminta imbalan sepeserpun dan rela bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia percaya bahwa Allah lah yang akan mencukupkan segala keperluannya.
Abi, guru ngaji di Bogor, selama 10 tahun mengajar tanpa meminta bayaran. Ia mengaku ikhlas karena mengajar ngaji adalah bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Meski hidup sederhana, semangatnya dalam mendidik anak-anak tetap menyala.
Keikhlasan dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, mengajar Al-Qur’an adalah amalan mulia yang pahalanya besar. Meskipun ada perbedaan pendapat ulama tentang boleh tidaknya guru ngaji menerima bayaran, keikhlasan tetap menjadi nilai utama. Kyai Zulfa Mustofa menjelaskan bahwa guru ngaji boleh menerima upah, namun guru yang wara’ (saleh) biasanya mengajar tanpa mengharapkan bayaran demi menjaga keikhlasan.
Sikap ikhlas adalah menerima segala keadaan dan memberikan tanpa pamrih, sebagaimana yang diajarkan oleh para sahabat dan ulama besar. Melatih hati untuk ikhlas mengajar merupakan cara agar pengajaran menjadi ladang pahala yang terus mengalir, bahkan setelah guru tersebut tiada.
Manfaat Keikhlasan Mengajar Ngaji
• Menjaga kemurnian niat dalam berdakwah dan mendidik.
• Membuka pintu keberkahan dan pahala yang berlipat.
• Menjadi teladan bagi murid dan masyarakat sekitar.
• Memperkuat ikatan sosial dan ukhuwah Islamiyah.
Keikhlasan mengajar ngaji tanpa mengharapkan imbalan materi adalah wujud nyata dari pengabdian yang tulus kepada Allah dan umat. Guru ngaji seperti Ustadz Asep, Abi, dan banyak lainnya adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang terus menebar cahaya ilmu dan kebaikan demi masa depan generasi bangsa.
