Pajak dan Kepercayaan Publik: Mengapa Masyarakat Perlu Melihat Manfaatnya?

Mahasiswa di Universistas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan jurusan Akuntansi Perpajakan D4
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazwa Sabilah Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pajak sering kali menjadi hal yang kurang menyenangkan untuk dibicarakan. Bagi sebagian masyarakat, pajak identik dengan uang yang harus dikeluarkan, baik ketika menerima penghasilan, membeli barang, maupun menjalankan usaha. Tidak heran jika pajak kerap dipandang sebagai beban yang mengurangi pendapatan.
Namun, apakah persoalan pajak hanya berkaitan dengan kesediaan masyarakat membayar kewajibannya? Menurut saya, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana masyarakat memahami manfaat pajak dan seberapa besar kepercayaan mereka terhadap pengelolaannya.
Pajak bukan sekadar persoalan membayar, melainkan juga persoalan kepercayaan. Masyarakat perlu memahami alasan mereka membayar pajak, sementara pemerintah perlu menunjukkan bahwa penerimaan tersebut dikelola secara bertanggung jawab.
Manfaat Pajak yang Tidak Selalu Terlihat
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sebenarnya dapat menemukan berbagai manfaat yang didukung oleh penerimaan negara, termasuk pajak. Jalan raya, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan pemerintah, dan bantuan sosial merupakan contoh kebutuhan publik yang memerlukan pembiayaan.
Akan tetapi, manfaat tersebut tidak selalu dirasakan secara langsung oleh setiap orang. Seseorang yang membayar pajak hari ini belum tentu melihat perubahan nyata pada hari yang sama. Pembangunan fasilitas umum membutuhkan proses, perencanaan, anggaran, dan pengawasan.
Kondisi ini membuat sebagian masyarakat lebih mudah menyadari uang yang mereka keluarkan daripada manfaat yang diperoleh secara kolektif. Padahal, fungsi pajak tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan individu, tetapi juga untuk membiayai berbagai layanan yang dibutuhkan masyarakat luas.
Meski demikian, pemahaman mengenai manfaat pajak tidak cukup dibangun melalui imbauan bahwa setiap warga negara harus taat membayar pajak. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai penggunaan anggaran dan hasil pembangunan yang dibiayai oleh negara.
Kepatuhan Pajak Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Kewajiban
Membayar pajak merupakan kewajiban yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun, kepatuhan yang baik idealnya tidak hanya muncul karena adanya aturan atau kekhawatiran terhadap sanksi.
Kesadaran juga tumbuh ketika masyarakat memahami tujuan perpajakan dan melihat adanya tanggung jawab dalam pengelolaan uang negara. Ketika informasi mengenai anggaran mudah diakses dan hasil penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat memiliki alasan yang lebih kuat untuk berpartisipasi.
Sebaliknya, ketika informasi sulit dipahami atau muncul persoalan dalam pengelolaan anggaran, kepercayaan publik dapat terganggu. Dalam situasi seperti ini, meminta masyarakat untuk terus meningkatkan kepatuhan tanpa memperkuat transparansi bukanlah pendekatan yang cukup.
Menurut saya, pemerintah dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan. Masyarakat perlu memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai ketentuan, sedangkan pemerintah harus memastikan penerimaan negara dikelola secara efektif, transparan, dan akuntabel.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan. Kepatuhan masyarakat dan tanggung jawab pemerintah justru perlu berjalan beriringan.
Pentingnya Transparansi di Era Digital
Perkembangan teknologi memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan keterbukaan informasi perpajakan. Layanan digital dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi, memenuhi kewajiban administrasi, dan memperoleh penjelasan mengenai ketentuan pajak.
Namun, kemudahan administrasi bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan. Transparansi mengenai penggunaan anggaran juga penting agar masyarakat tidak berhenti pada pemahaman tentang cara membayar pajak, tetapi mengetahui peran penerimaan negara dalam mendukung pembangunan.
Informasi publik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Penjelasan mengenai anggaran tidak harus selalu menggunakan istilah teknis yang sulit dimengerti masyarakat awam.
Selain itu, literasi perpajakan perlu diperkuat sejak dini, termasuk di lingkungan pendidikan. Generasi muda perlu memahami bahwa pajak berkaitan dengan pembiayaan layanan publik dan keberlangsungan pembangunan. Dengan pemahaman tersebut, pembahasan pajak tidak hanya muncul ketika seseorang mulai bekerja atau memiliki kewajiban perpajakan.
Di sisi lain, teknologi juga perlu diimbangi dengan perlindungan data dan pelayanan yang responsif. Digitalisasi akan memberikan manfaat lebih besar apabila masyarakat merasa terbantu, bukan justru kesulitan menghadapi prosedur yang tidak mereka pahami.
Pajak sebagai Tanggung Jawab Bersama
Menurut saya, sudah saatnya pembicaraan mengenai pajak tidak hanya berpusat pada kewajiban membayar. Pembahasan tersebut perlu diperluas dengan pertanyaan mengenai kualitas pelayanan publik, keterbukaan anggaran, dan tanggung jawab dalam menggunakan uang negara.
Masyarakat dapat berkontribusi dengan mempelajari ketentuan perpajakan, memenuhi kewajiban sesuai aturan, dan mencari informasi dari sumber yang tepercaya. Sementara itu, pemerintah perlu terus memperbaiki pelayanan, membuka akses terhadap informasi anggaran, serta memastikan pengawasan berjalan dengan baik.
Pajak memang tidak selalu memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh setiap pembayar. Namun, penerimaan pajak dapat mendukung kepentingan bersama apabila dikelola dengan tepat dan diarahkan pada kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, membangun kesadaran pajak bukan hanya tentang mengajak masyarakat untuk membayar. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun hubungan yang sehat antara warga negara dan pemerintah melalui keterbukaan, tanggung jawab, dan kepercayaan.
Sebab, pajak yang dipahami sebagai kontribusi bersama akan memiliki makna lebih besar daripada pajak yang hanya dipandang sebagai kewajiban. Kepercayaan publik tidak dapat dibangun melalui kata-kata semata, tetapi perlu diwujudkan melalui pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
