Ekonomi Tumbuh, Mengapa Banyak Masyarakat Masih Merasa Kesulitan?

Saya M. Najwan Muntadzar, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Pamulang.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari nazwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa uang yang biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama seminggu, sekarang justru lebih cepat habis? Belanja kebutuhan sehari-hari terasa semakin mahal, biaya transportasi harus diperhitungkan, sementara keinginan untuk menabung sering kali harus ditunda. Situasi seperti ini menjadi pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak masyarakat.
Persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah seseorang yang kurang pandai mengatur uang. Ada kondisi ekonomi yang lebih luas dan ikut memengaruhi kehidupan sehari-hari, mulai dari perubahan harga barang, pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, hingga kebijakan pemerintah. Dalam ilmu ekonomi, persoalan ini berkaitan erat dengan ekonomi makro.
Ekonomi makro mempelajari kondisi perekonomian secara keseluruhan, termasuk inflasi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan daya beli masyarakat. Meskipun terdengar seperti pembahasan yang hanya ada dalam berita atau ruang kelas, dampaknya sebenarnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat ketika berbelanja di pasar, membayar kebutuhan rumah tangga, atau berusaha memenuhi biaya pendidikan.
Pertanyaannya, jika perekonomian suatu negara terus bertumbuh, apakah kehidupan masyarakat otomatis menjadi lebih sejahtera? Menurut saya, pertanyaan ini penting karena keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur melalui angka statistik, tetapi juga melalui perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
1. Inflasi dan Daya Beli: Ketika Uang yang Sama Tidak Lagi Cukup
Salah satu persoalan ekonomi makro yang paling dekat dengan masyarakat adalah inflasi. Secara sederhana, inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan. Ketika inflasi terjadi, nilai uang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat berkurang, terutama apabila pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia secara tahunan pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Sementara itu, inflasi bulanan pada periode yang sama tercatat sebesar 0,30 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan tingkat harga secara agregat dibandingkan periode sebelumnya. Namun, dampak yang dirasakan setiap rumah tangga bisa berbeda, tergantung pada jenis kebutuhan dan pola pengeluarannya. (BPS, 1 Oktober 2026).
Hal yang perlu dipahami adalah inflasi tidak selalu berarti seluruh barang mengalami kenaikan harga dengan persentase yang sama. Harga bahan makanan, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan pendidikan dapat bergerak secara berbeda. Karena itu, masyarakat yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kebutuhan pokok bisa merasakan tekanan yang lebih besar ketika harga kebutuhan tersebut meningkat.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang menerima uang bulanan dalam jumlah tetap harus membagi pengeluarannya untuk makan, transportasi, tugas kuliah, dan kebutuhan pribadi. Ketika biaya makan dan transportasi meningkat, ia mungkin harus mengurangi pengeluaran lain, mencari makanan yang lebih murah, atau menunda kebutuhan yang sebenarnya penting.
Kondisi serupa juga dialami keluarga dengan penghasilan terbatas. Ketika sebagian besar pendapatan sudah digunakan untuk kebutuhan dasar, ruang untuk menabung atau menghadapi keadaan darurat menjadi semakin sempit.
Menurut saya, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan dengan mengimbau masyarakat agar lebih hemat. Mengatur keuangan memang penting, tetapi kemampuan berhemat memiliki batas. Jika pendapatan terlalu kecil dibandingkan kebutuhan dasar, masyarakat tetap akan menghadapi kesulitan meskipun sudah berusaha mengurangi pengeluaran.
Oleh karena itu, pengendalian inflasi perlu berjalan bersama upaya menjaga ketersediaan barang, memperbaiki distribusi, meningkatkan produktivitas, dan menjaga pendapatan masyarakat agar mampu mengikuti perkembangan biaya hidup.
2. Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Berarti Semua Masyarakat Sejahtera
Dalam pemberitaan ekonomi, pertumbuhan ekonomi sering dijadikan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan nilai produksi barang dan jasa suatu negara dalam periode tertentu. Secara umum, pertumbuhan yang sehat dapat membuka peluang usaha, mendorong investasi, dan menciptakan lapangan kerja.
Namun, ada hal yang perlu dikritisi: pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat seluruh masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan dalam tingkat yang sama.
Sebuah negara dapat mengalami peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi sebagian pekerjanya masih menghadapi upah yang terbatas, pekerjaan yang tidak stabil, atau kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan mereka. Begitu pula dengan pelaku usaha kecil yang harus menghadapi biaya bahan baku, sewa tempat, dan persaingan yang semakin ketat.
Persoalan ini menunjukkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama indikator lainnya. Selain melihat seberapa besar perekonomian berkembang, kita juga perlu memperhatikan kualitas lapangan kerja, perkembangan pendapatan riil, tingkat kemiskinan, dan distribusi manfaat pembangunan.
Bagi masyarakat, pertanyaan yang lebih nyata bukan sekadar apakah ekonomi tumbuh, melainkan apakah pertumbuhan tersebut membantu mereka memperoleh pekerjaan yang layak, memenuhi kebutuhan dasar, dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Pemerintah dan dunia usaha memiliki peran penting dalam menjawab persoalan ini. Peningkatan investasi perlu diikuti penciptaan lapangan kerja yang produktif. Usaha mikro, kecil, dan menengah juga membutuhkan akses pembiayaan, pendampingan, teknologi, dan pasar agar mampu berkembang. Sementara itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Jika pertumbuhan ekonomi hanya terlihat dalam angka, tetapi tidak cukup dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat wajar mempertanyakan siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat dari pembangunan tersebut.
Menurut saya, keberhasilan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pencapaian angka pertumbuhan. Perekonomian yang baik juga harus memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk bekerja, memperoleh pendapatan yang layak, dan meningkatkan kualitas hidupnya.
3. Kebijakan Ekonomi Harus Menyentuh Kebutuhan Nyata Masyarakat
Ekonomi makro tidak hanya membahas persoalan yang terjadi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana pemerintah dan otoritas ekonomi meresponsnya. Berbagai kebijakan, seperti pengaturan suku bunga, pengelolaan anggaran negara, bantuan sosial, dan pengendalian harga, dapat memengaruhi kondisi perekonomian serta kehidupan masyarakat.
Misalnya, kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia berperan dalam menjaga stabilitas harga dan kestabilan ekonomi. Sementara itu, kebijakan fiskal pemerintah melalui pendapatan dan belanja negara dapat mendukung pembangunan, pelayanan publik, perlindungan sosial, serta berbagai program ekonomi.
Namun, kebijakan ekonomi tidak selalu menghasilkan dampak yang sama bagi setiap kelompok masyarakat. Kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas ekonomi perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap pekerja, pelaku usaha, keluarga berpenghasilan rendah, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap perubahan harga.
Ketika harga kebutuhan pokok mengalami tekanan, pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan ketepatan program bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam jangka panjang, penguatan sektor pertanian, perbaikan infrastruktur, dan peningkatan produktivitas juga penting untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak harga.
Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja yang berkualitas harus menjadi perhatian utama. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kesempatan bekerja, tetapi juga pekerjaan yang memberikan penghasilan memadai dan perlindungan yang layak. Tanpa hal tersebut, kenaikan biaya hidup dapat semakin membebani kelompok yang memiliki ruang keuangan terbatas.
Masyarakat juga memiliki peran dalam menghadapi kondisi ekonomi. Meningkatkan literasi keuangan, menyusun anggaran, membangun dana darurat sesuai kemampuan, dan mengembangkan keterampilan merupakan langkah yang bermanfaat. Meski begitu, upaya individu tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab pemerintah dalam menciptakan kondisi ekonomi yang adil dan stabil.
Pada akhirnya, kebijakan ekonomi perlu dinilai bukan hanya dari tujuan yang tertulis atau angka yang diumumkan, tetapi juga dari dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat. Apakah harga kebutuhan pokok lebih terkendali? Apakah lapangan kerja semakin terbuka? Apakah pendapatan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi bagian penting dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan ekonomi.
Penutup: Ekonomi yang Baik Harus Terasa dalam Kehidupan Sehari-hari
Ekonomi makro mungkin terdengar sebagai pembahasan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Padahal, inflasi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan kebijakan pemerintah memiliki hubungan langsung dengan cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan harga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk membeli barang. Terbatasnya kesempatan kerja dapat menghambat kemandirian ekonomi keluarga. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti pemerataan manfaatnya dapat membuat sebagian masyarakat merasa tertinggal di tengah perkembangan negara.
Menurut saya, tantangan terbesar perekonomian bukan hanya bagaimana menciptakan pertumbuhan, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Masyarakat memang perlu belajar mengelola keuangan dan menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi. Namun, mereka juga membutuhkan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan dasar, kesempatan kerja yang layak, serta sistem ekonomi yang memberikan kesempatan lebih adil bagi semua orang.
