Pola Makan Masyarakat yang Perlu Diperhatikan

Saya M. Najwan Muntadzar, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Pamulang.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari nazwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, makanan bukan hanya soal kebutuhan tubuh, tetapi juga soal kepraktisan, harga, dan kebiasaan. Banyak orang memilih makanan cepat saji, gorengan, mi instan, atau minuman manis karena mudah ditemukan, rasanya enak, dan tidak membutuhkan banyak waktu untuk disiapkan. Pilihan tersebut terasa wajar, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas padat dan anggaran terbatas.
Namun, ada persoalan yang sering luput dari perhatian. Ketika makanan yang praktis menjadi pilihan utama setiap hari, apakah kita masih benar-benar memperhatikan kebutuhan gizi tubuh?
Kebiasaan makan yang tidak sehat bukan sekadar persoalan pilihan pribadi. Lingkungan tempat tinggal, harga bahan pangan, kesibukan bekerja, iklan makanan, hingga pengetahuan mengenai gizi turut memengaruhi cara masyarakat menentukan makanan sehari-hari. Akibatnya, sebagian orang lebih mudah mendapatkan makanan tinggi gula, garam, dan lemak dibandingkan makanan bergizi seimbang.
Masalah ini perlu mendapat perhatian karena pola makan berpengaruh terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, membangun kebiasaan makan sehat tidak cukup hanya dengan menyuruh masyarakat mengurangi makanan tertentu. Kita juga perlu memahami mengapa kebiasaan tersebut terbentuk dan bagaimana menciptakan lingkungan yang mendukung pilihan makanan yang lebih baik.
1. Makanan Praktis Menjadi Pilihan, tetapi Gizinya Sering Terabaikan
Salah satu alasan masyarakat mengonsumsi makanan tidak sehat adalah kepraktisan. Di tengah pekerjaan, perkuliahan, dan berbagai aktivitas lainnya, memasak sendiri sering dianggap merepotkan. Membeli gorengan di pinggir jalan, memesan makanan cepat saji, atau mengonsumsi mi instan menjadi solusi yang mudah ketika waktu dan tenaga terbatas.
Masalahnya, makanan yang praktis belum tentu memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Jika pola makan sehari-hari terlalu banyak mengandalkan makanan tinggi garam, gula, dan lemak, sementara konsumsi sayur, buah, protein, dan sumber serat masih rendah, keseimbangan gizi dapat terganggu.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa pola makan sehat berperan penting dalam mencegah malnutrisi dan berbagai penyakit tidak menular. Konsumsi makanan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.
Hal yang perlu dipahami adalah bukan berarti setiap orang yang sesekali makan mi instan, gorengan, atau makanan cepat saji pasti akan mengalami penyakit. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan, frekuensi konsumsi, jumlah makanan, aktivitas fisik, serta faktor individu lainnya.
Menurut saya, persoalan utamanya terletak pada kebiasaan yang berlangsung terus-menerus. Ketika makanan tinggi kalori tetapi rendah serat dan zat gizi penting menjadi menu utama, tubuh mungkin memperoleh energi, tetapi belum tentu mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan.
Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan memilih makanan secara lebih seimbang. Tidak harus selalu membeli makanan mahal atau mengikuti tren diet tertentu. Mengonsumsi nasi secukupnya, menambahkan sayuran, memilih sumber protein seperti telur, tempe, tahu, atau ikan, serta membatasi minuman manis bisa menjadi langkah awal yang realistis.
2. Harga, Iklan, dan Gaya Hidup Ikut Membentuk Kebiasaan Makan
Sering kali, masyarakat diminta untuk hidup sehat seolah-olah semua orang mempunyai pilihan yang sama. Padahal, kondisi ekonomi dan lingkungan sangat memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih makanan.
Bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas, harga menjadi pertimbangan utama. Makanan yang mengenyangkan dan murah mungkin lebih diprioritaskan dibandingkan makanan dengan kandungan gizi yang lebih beragam. Bagi mahasiswa yang tinggal di kos atau pekerja yang pulang malam, keterbatasan waktu dan fasilitas memasak juga dapat membuat pilihan makanan semakin terbatas.
Di sisi lain, promosi makanan melalui media sosial dan layanan pesan antar membuat makanan tinggi gula, garam, dan lemak semakin mudah dijangkau. Foto makanan yang menarik, diskon, dan tren kuliner dapat mendorong seseorang membeli makanan berdasarkan keinginan sesaat, bukan kebutuhan tubuh.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan tidak sehat tidak selalu muncul karena seseorang tidak peduli terhadap kesehatannya. Ada faktor lingkungan yang membuat pilihan kurang sehat menjadi lebih mudah, murah, dan menarik.
Menurut saya, pendekatan kesehatan masyarakat perlu melihat persoalan ini secara lebih luas. Edukasi mengenai gizi tetap penting, tetapi masyarakat juga membutuhkan akses yang lebih baik terhadap bahan pangan bergizi dengan harga terjangkau.
Pemerintah, sekolah, kampus, dan pelaku usaha dapat berkontribusi melalui penyediaan pilihan makanan yang lebih sehat, informasi gizi yang mudah dipahami, serta lingkungan yang mendukung kebiasaan makan seimbang. Kantin sekolah dan kampus, misalnya, dapat menyediakan menu bergizi dengan harga yang sesuai kemampuan pelajar dan mahasiswa.
Dengan demikian, tanggung jawab menjaga kesehatan tidak hanya dibebankan kepada individu. Lingkungan yang baik juga perlu membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih sehat.
3. Mengubah Pola Makan Tidak Harus Mahal dan Ekstrem
Salah satu anggapan yang membuat orang enggan memulai pola makan sehat adalah keyakinan bahwa makanan sehat selalu mahal. Padahal, pola makan seimbang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi ekonomi, dan ketersediaan bahan pangan setempat.
Masyarakat dapat memulai perubahan melalui langkah sederhana. Misalnya, mengurangi frekuensi minuman berpemanis, memperbanyak konsumsi sayur dan buah sesuai kemampuan, memilih air putih sebagai minuman utama, serta memperhatikan ukuran porsi makanan. Membatasi makanan yang terlalu tinggi garam dan lemak juga dapat membantu membangun pola makan yang lebih baik.
Bagi mahasiswa atau anak kos, menyiapkan makanan sederhana seperti nasi, telur, tempe, tahu, dan sayuran bisa menjadi alternatif yang cukup terjangkau. Membuat rencana belanja mingguan dan mengurangi pembelian makanan secara impulsif juga dapat membantu menghemat pengeluaran sekaligus menjaga kualitas makanan.
Selain itu, penting untuk tidak terjebak dalam pola pikir bahwa hidup sehat berarti harus berhenti menikmati semua makanan favorit. Perubahan yang terlalu ekstrem justru dapat sulit dipertahankan. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan yang masuk akal dan bisa dilakukan secara konsisten.
Edukasi kesehatan juga perlu diberikan dengan cara yang tidak menghakimi. Orang yang memiliki kebiasaan makan kurang sehat tidak seharusnya langsung dicap malas atau tidak peduli terhadap tubuhnya. Informasi yang jelas, dukungan keluarga, serta akses terhadap makanan bergizi dapat membantu perubahan berlangsung lebih efektif.
Pada akhirnya, pola makan sehat bukan perlombaan untuk menjadi sempurna. Tujuannya adalah memastikan tubuh memperoleh nutrisi yang cukup dan mengurangi risiko penyakit melalui kebiasaan yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Penutup: Makan Bukan Hanya untuk Kenyang, tetapi Juga untuk Menjaga Masa Depan
Kebiasaan makan tidak sehat merupakan persoalan yang perlu diperhatikan karena dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Seseorang mungkin merasa baik-baik saja hari ini, tetapi pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa makanan bukan hanya tentang rasa kenyang, harga murah, atau kepraktisan. Makanan juga berperan dalam menjaga energi, mendukung fungsi tubuh, dan mempertahankan kualitas hidup.
Namun, perubahan pola makan tidak akan berjalan optimal jika masyarakat hanya diberi nasihat tanpa dukungan lingkungan. Akses terhadap makanan bergizi, edukasi yang tepat, dan pilihan yang terjangkau harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.
Menurut saya, hidup sehat seharusnya tidak menjadi hak istimewa bagi mereka yang memiliki banyak uang atau waktu luang. Setiap orang perlu mendapatkan kesempatan untuk mengonsumsi makanan yang layak dan bergizi.
