Konten dari Pengguna

Kesehatan Perempuan Bukan Urusan Pribadi, tapi Urusan Negara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nenden Nuraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesehatan perempuan perlu dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab sistem kesehatan, bukan hanya urusan pribadi.(Ilustrasi: MART PRODUCTION/Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Kesehatan perempuan perlu dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab sistem kesehatan, bukan hanya urusan pribadi.(Ilustrasi: MART PRODUCTION/Pexels)

Ada cara pandang yang masih sering muncul ketika membicarakan kesehatan perempuan. Seolah-olah tubuh perempuan adalah urusan pribadi. Jika sakit, itu urusan dirinya. Jika hamil, itu urusan keluarganya. Jika mengalami komplikasi, itu dianggap bagian dari risiko yang harus diterima.

Padahal, kesehatan perempuan tidak pernah berdiri sendiri.

Ketika seorang perempuan sulit mengakses layanan kesehatan yang aman, yang terganggu bukan hanya kondisi tubuhnya. Keluarga ikut terdampak. Anak ikut merasakan akibatnya. Produktivitas bisa menurun. Bahkan masa depan generasi dapat dipengaruhi sejak sebelum seorang anak dilahirkan.

Karena itu, kesehatan perempuan bukan sekadar urusan pribadi. Ia adalah urusan negara.

Tubuh Perempuan dan Wajah Pelayanan Publik

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering berada di banyak peran sekaligus. Ia bisa menjadi ibu, pekerja, pengasuh, pengelola rumah tangga, pendidik pertama bagi anak, sekaligus penopang ekonomi keluarga.

Namun, di balik banyaknya peran itu, kebutuhan kesehatan perempuan sering kali justru tidak selalu mendapat ruang yang cukup.

Perempuan hamil, misalnya, tidak hanya membutuhkan pemeriksaan rutin. Ia membutuhkan layanan antenatal yang bermutu, informasi yang jelas, tenaga kesehatan yang kompeten, sistem rujukan yang siap, serta lingkungan keluarga dan sosial yang mendukung.

Persalinan bukan hanya peristiwa biologis, tetapi ujian kesiapan sistem kesehatan.

Ada keselamatan ibu, keselamatan bayi, ketersediaan fasilitas, kemampuan deteksi dini risiko, serta kecepatan penanganan jika terjadi kegawatdaruratan.

Di titik ini, kita perlu berhenti melihat kesehatan perempuan sebagai urusan domestik semata. Sebab setiap keterlambatan dalam pelayanan dapat berubah menjadi risiko yang sangat serius.

Akses Layanan Masih Menjadi Persoalan

Tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan. Sebagian tinggal dekat fasilitas kesehatan, tetapi sebagian lain harus menempuh jarak jauh dengan transportasi terbatas. Sebagian mampu membayar biaya tambahan, sebagian lain harus berpikir berkali-kali bahkan untuk biaya perjalanan.

Masalah kesehatan perempuan juga tidak selalu soal ketersediaan fasilitas. Kadang fasilitas ada, tetapi informasinya tidak mudah dipahami. Kadang layanan tersedia, tetapi perempuan tidak cukup berdaya untuk mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri. Kadang keluarga justru terlambat membawa ibu ke fasilitas kesehatan karena menganggap keluhan sebagai hal biasa.

Di sinilah negara harus hadir bukan hanya sebagai pembuat aturan, tetapi sebagai penjamin sistem.

Negara tidak cukup hanya menyediakan fasilitas kesehatan. Negara juga harus memastikan layanan itu mudah dijangkau, bermutu, ramah perempuan, dan responsif terhadap kondisi sosial masyarakat.

Kehamilan Bukan Sekadar Urusan Ibu

Masih ada anggapan bahwa kehamilan adalah tanggung jawab ibu semata. Padahal, kehamilan adalah fase penting yang menentukan kualitas kesehatan generasi berikutnya.

Apa yang dialami perempuan sebelum hamil, selama hamil, saat melahirkan, dan setelah melahirkan akan memengaruhi kehidupan anak. Gizi ibu, kesehatan mental, dukungan keluarga, akses pemeriksaan kehamilan, hingga kesiapan menghadapi persalinan adalah bagian dari fondasi tumbuh kembang anak.

Karena itu, berbicara tentang kesehatan perempuan berarti juga berbicara tentang masa depan bangsa.

Jika perempuan hamil tidak mendapatkan layanan yang layak, risiko tidak hanya berhenti pada dirinya. Bayi bisa lahir dengan masalah kesehatan. Anak dapat tumbuh dengan hambatan. Keluarga bisa kehilangan penopang. Negara pun menanggung beban sosial dan ekonomi yang lebih besar.

Maka, investasi pada kesehatan perempuan bukan beban anggaran. Ia adalah investasi jangka panjang.

Kesehatan Reproduksi Tidak Boleh Dianggap Tabu

Salah satu tantangan besar dalam kesehatan perempuan adalah masih adanya rasa malu, tabu, atau sungkan membicarakan kesehatan reproduksi.

Banyak perempuan menunda memeriksakan diri karena takut dinilai berlebihan. Ada yang mengabaikan keluhan karena merasa itu bagian dari kodrat. Ada pula yang tidak memiliki ruang aman untuk bertanya tentang tubuhnya sendiri.

Padahal, kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari hak kesehatan.

Perempuan berhak memahami tubuhnya. Perempuan berhak mendapatkan informasi yang benar. Perempuan berhak mengakses layanan tanpa stigma. Perempuan berhak dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut kesehatan dirinya.

Ketika kesehatan reproduksi dianggap tabu, risiko justru semakin besar. Keluhan yang seharusnya dapat dideteksi sejak awal bisa terlambat diketahui. Masalah yang semestinya dapat dicegah dapat berubah menjadi komplikasi.

Bidan, Puskesmas, dan Garda Terdepan Pelayanan

Dalam banyak situasi, bidan dan puskesmas menjadi wajah pertama pelayanan kesehatan perempuan. Mereka hadir di ruang-ruang yang dekat dengan masyarakat. Mereka mendampingi ibu hamil, memberikan edukasi, memantau risiko, dan menjadi penghubung antara keluarga dengan sistem kesehatan yang lebih luas.

Namun, garda terdepan tidak boleh dibiarkan bekerja sendirian.

Tenaga kesehatan membutuhkan dukungan regulasi, fasilitas, sistem rujukan, pembiayaan, pelatihan, dan perlindungan kerja yang memadai. Keselamatan ibu tidak bisa hanya dibebankan pada ketulusan petugas di lapangan.

Jika negara menuntut pelayanan yang aman, negara juga harus membangun sistem yang memungkinkan pelayanan itu benar-benar aman.

Forum dan Kebijakan Harus Menyentuh Lapangan

Berbagai forum, kampanye, dan kebijakan tentang kesehatan perempuan tentu penting. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan gagasan besar itu sampai ke tingkat paling nyata: ruang tunggu puskesmas, rumah ibu hamil, desa terpencil, kelas remaja putri, dan keluarga yang sedang mengambil keputusan saat terjadi kegawatdaruratan.

Kebijakan kesehatan perempuan tidak boleh berhenti di dokumen. Ia harus terasa dalam pelayanan.

Apakah ibu hamil mudah mendapatkan pemeriksaan? Apakah keluarga memahami tanda bahaya kehamilan? Apakah remaja putri mendapatkan edukasi gizi dan kesehatan reproduksi? Apakah tenaga kesehatan cukup terlindungi saat menjalankan kewenangannya? Apakah sistem rujukan berjalan cepat ketika terjadi kondisi darurat?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan.

Negara Hadir Ketika Perempuan Tidak Ditinggalkan

Kesehatan perempuan adalah cermin keberpihakan negara. Bukan hanya kepada perempuan sebagai individu, tetapi kepada keluarga, anak, dan generasi masa depan.

Negara hadir ketika perempuan tidak dibiarkan sendirian menghadapi risiko kehamilan. Negara hadir ketika layanan kesehatan tidak hanya tersedia, tetapi juga terjangkau dan bermutu. Negara hadir ketika kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap tabu. Negara hadir ketika keselamatan ibu menjadi tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun dari infrastruktur besar, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Bangsa yang kuat juga dibangun dari perempuan yang sehat, aman, berdaya, dan terlindungi.

Sebab ketika perempuan sehat, keluarga menjadi lebih kuat. Ketika ibu selamat, anak memiliki masa depan. Ketika negara serius menjaga kesehatan perempuan, sesungguhnya negara sedang menjaga keberlanjutan bangsanya sendiri.

Kesehatan perempuan bukan urusan pribadi. Ia adalah urusan negara.