Konten dari Pengguna

Media Sosial Membentuk Arti Cantik

nengsih sundari

nengsih sundari

saat ini saya bekerja dan juga sebagai mahasiswa di universitas pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nengsih sundari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi media sosial membentuk arti cantik dan standar kecantikan modern. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial membentuk arti cantik dan standar kecantikan modern. Foto: Unsplash

Perkembangan media sosial telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam cara memandang kecantikan. Saat ini, standar cantik tidak lagi hanya dipengaruhi lingkungan sekitar, tetapi juga dibentuk oleh konten digital yang terus muncul setiap hari di Instagram, TikTok, dan YouTube. Wajah mulus, tubuh langsing, kulit putih, hingga gaya hidup mewah sering ditampilkan sebagai gambaran perempuan ideal.

Fenomena tersebut membuat banyak orang, khususnya remaja, merasa harus mengikuti standar tertentu agar dianggap menarik dan diterima sosial. Tanpa disadari, media sosial telah membentuk arti cantik berdasarkan tren dan popularitas. Dalam perspektif teori komunikasi tradisi kritis, kondisi ini menunjukkan bahwa media memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara berpikir masyarakat.

Tradisi Kritis dalam Teori Komunikasi

Tradisi kritis merupakan pendekatan teori komunikasi yang melihat media bukan sekadar alat penyampai informasi, tetapi juga alat pembentuk ideologi dan kekuasaan. Tokoh seperti Theodor Adorno dan Max Horkheimer menjelaskan bahwa media dan industri budaya sering digunakan untuk memengaruhi masyarakat agar mengikuti standar tertentu yang menguntungkan pihak dominan.

Dalam konteks kecantikan, media sosial menjadi sarana yang membangun standar cantik modern. Influencer, iklan skincare, dan filter digital menciptakan gambaran bahwa cantik harus memiliki ciri tertentu. Akibatnya, masyarakat menerima standar tersebut sebagai sesuatu yang normal, padahal sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang terus diproduksi media.

Media Sosial dan Standar Kecantikan

Saat membuka media sosial, pengguna akan melihat berbagai konten kecantikan yang terus muncul di beranda. Influencer memperlihatkan kulit glowing, tubuh ideal, makeup sempurna, dan penampilan yang tampak tanpa kekurangan. Banyak foto maupun video juga menggunakan filter dan editing sehingga terlihat lebih sempurna dibanding kenyataan.

Kondisi ini membuat masyarakat, terutama remaja, mulai membandingkan diri mereka dengan standar yang ada di media sosial. Banyak orang merasa kurang percaya diri karena tidak memiliki wajah atau tubuh seperti yang sering tampil di internet. Akibatnya, arti cantik berubah menjadi sesuatu yang sempit dan tidak realistis.

Tradisi kritis memandang fenomena ini sebagai bentuk dominasi media terhadap cara berpikir masyarakat. Media tidak hanya menunjukkan kecantikan, tetapi juga menentukan standar siapa yang dianggap cantik dan siapa yang tidak.

Budaya Konsumtif di Balik Standar Cantik

Standar kecantikan di media sosial juga berkaitan erat dengan budaya konsumtif. Banyak produk kecantikan dipromosikan melalui influencer dan iklan digital dengan cara meyakinkan masyarakat bahwa mereka membutuhkan produk tertentu agar menjadi cantik.

Mulai dari skincare, makeup, hingga treatment kecantikan terus dipasarkan melalui konten yang menarik. Remaja akhirnya terdorong membeli berbagai produk demi mengikuti tren yang sedang viral. Dalam perspektif tradisi kritis, kondisi ini menunjukkan bagaimana media digunakan sebagai alat kapitalisme untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Masyarakat sering dibuat merasa kurang sempurna agar terus membeli produk kecantikan. Artinya, media bukan hanya menjual barang, tetapi juga menjual rasa tidak percaya diri.

Dampak terhadap Masyarakat

Pengaruh standar kecantikan media sosial dapat memberikan dampak psikologis bagi masyarakat. Banyak remaja mengalami insecure, rendah diri, bahkan gangguan kepercayaan diri karena merasa tidak sesuai dengan standar cantik yang ada di media.

Selain itu, masyarakat menjadi lebih mudah menilai seseorang berdasarkan penampilan fisik dibandingkan kemampuan dan kepribadiannya. Hal tersebut dapat memunculkan diskriminasi sosial terhadap orang yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan tertentu.

Namun, saat ini mulai muncul gerakan seperti body positivity dan self-love yang mengajak masyarakat menerima diri sendiri tanpa harus mengikuti standar media. Gerakan tersebut menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi standar kecantikan digital.

Kesimpulan

Media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk arti cantik di masyarakat modern. Melalui influencer, iklan, dan konten digital, media menciptakan standar kecantikan tertentu yang sering dianggap sebagai ukuran ideal. Dalam teori komunikasi tradisi kritis, fenomena ini menunjukkan bahwa media memiliki kekuasaan untuk membentuk cara berpikir masyarakat sekaligus mendorong budaya konsumtif.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran kritis dalam menggunakan media sosial. Kecantikan seharusnya tidak hanya ditentukan oleh standar yang dibentuk internet, tetapi juga oleh rasa percaya diri dan kemampuan menerima diri sendiri. Dengan berpikir kritis, masyarakat dapat menggunakan media sosial secara lebih sehat dan tidak mudah terpengaruh oleh standar kecantikan yang tidak realistis.