Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten dari Pengguna
Feminisme di Indonesia: Antara Kemajuan dan Tantangan Budaya Patriarki
26 Februari 2025 14:55 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Harnever B Tempoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Feminisme di Indonesia telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir, meskipun masih dihadapkan pada tantangan budaya patriarki yang kuat. Gerakan feminisme di Indonesia bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender, menghapus diskriminasi dan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, pendidikan dan sosial. Namun, budaya patriarki yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia seringkali menjadi penghalang utama dalam mencapai tujuan tersebut (Arivia et al., 2017). Gerakan feminisme di Indonesia dimulai pada awal abad ke-20 dengan tokoh seperti Raden Ajeng Kartini, yang menulis tentang hak-hak perempuan dan kesetaraan gender pada tahun 1912 (Halimatus Sa’diyah, Maret, 2023 ). Feminisme Indonesia merujuk pada gerakan feminis yang berkembang dalam konteks budaya dan sosial dengan berfokus pada upaya untuk mencapai kesetaraan gender dan memerangi diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia (Bayu Ananto Wibowo, 2022).
ADVERTISEMENT
Salah satu pencapaian signifikan dalam gerakan feminisme di Indonesia adalah meningkatnya keterlibatan perempuan dalam dunia politik. Pada tahun 2019, jumlah perempuan yang berhasil terpilih sebagai anggota legislatif mencapai angka tertinggi, yaitu 20,5% dari total anggota DPR (Juniar Laraswanda Umagapi, 2023). Walaupun persentase ini masih belum mencapai target 30% yang ditetapkan dalam Undang-Undang Pemilu, hal tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan politik. Selain itu, gerakan feminisme di Indonesia juga berperan dalam mendorong lahirnya berbagai kebijakan yang berpihak pada perempuan. Sebagai contoh, Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) yang disahkan pada tahun 2004 menjadi salah satu pencapaian penting dalam memberikan perlindungan bagi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga (Komnas Perempuan, 2004).
ADVERTISEMENT
Regulasi ini berfungsi sebagai dasar hukum yang kokoh bagi perempuan dalam menghadapi dan melawan kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan domestik. Sementara itu, dalam sektor pendidikan, kesetaraan gender juga mengalami perkembangan yang signifikan. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tingkat partisipasi sekolah antara perempuan dan laki-laki hampir seimbang, bahkan pada beberapa jenjang pendidikan, perempuan menunjukkan angka partisipasi yang lebih tinggi (Indonesia, B. P. S., 2021).
Situasi ini mencerminkan semakin luasnya akses pendidikan bagi perempuan. Namun, masih terdapat tantangan berupa stereotip gender yang beranggapan bahwa pendidikan tinggi tidak memiliki urgensi bagi perempuan. Meskipun ada kemajuan, budaya patriarki masih menjadi tantangan besar bagi gerakan feminisme di Indonesia. Budaya patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia sering kali memposisikan perempuan sebagai pihak yang inferior dibandingkan laki-laki Fenomena ini dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam lingkungan keluarga, dunia kerja, dan masyarakat. Salah satu manifestasi nyata dari budaya patriarki adalah masih dominannya pandangan bahwa peran utama perempuan terbatas sebagai ibu rumah tangga. Pandangan ini kerap menghambat perempuan dalam berkontribusi secara penuh di sektor pekerjaan maupun politik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, yakni sekitar 54% untuk perempuan dan 82% untuk laki-laki (Indonesia, B. P. S. , 2021).
ADVERTISEMENT
Hal ini menunjukkan bahwa banyak perempuan yang masih terbatas oleh peran domestik yang diberikan oleh budaya patriarki. Selain itu, kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2020, terdapat lebih dari 299.000 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan, dengan kekerasan seksual sebagai bentuk kekerasan yang paling dominan (Komnas Perempuan, 2021).
Budaya patriarki yang menormalisasi kekerasan terhadap perempuan, serta stigma sosial yang seringkali menyalahkan korban, menjadi faktor utama yang menghambat upaya penanganan masalah ini. Gerakan aktivisme feminis di Indonesia terus berkembang dengan hadirnya berbagai organisasi dan komunitas yang berfokus pada isu-isu perempuan. Beberapa di antaranya, seperti Perempuan Mahardhika dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), secara aktif mengadvokasi hak-hak perempuan serta berupaya melawan diskriminasi gender di berbagai sektor (Kompas, 2020).
ADVERTISEMENT
Gerakan-gerakan ini tidak hanya berfokus pada isu-isu domestik, tetapi juga pada isu-isu global seperti perubahan iklim dan dampaknya terhadap perempuan. Feminisme di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam memperjuangkan kesetaraan gender, namun tantangan budaya patriarki masih sangat kuat. Untuk mencapai kesetaraan gender yang seutuhnya, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat sipil, dan media. Pendidikan dan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender harus terus ditingkatkan, sementara kebijakan-kebijakan yang pro-perempuan perlu diperkuat dan diimplementasikan secara efektif bagi seluruh Bangsa Indonesia.
Arivia, G., Subono, N. I., Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), Grassi, S., & Julvianty, R. (2017). Seratus Tahun Feminisme di Indonesia. https://library.fes.de/pdf-files/bueros/indonesien/15114.pdf
Bayu Ananto Wibowo. (Februari, 2022). FEMINISME INDONESIA . file:///C:/Users/user/Downloads/Feminisme+Indonesia.pdf
ADVERTISEMENT
Halimatus Sa’diyah, Alfin Yulia Nurhidayanti , Wahyu Mashanim M. , Octaviona Cinta Dewi, Shifa Salsabila , Emmywati. ( Maret, 2023 ). Analisa Signifikan KemunculanPemikiranFeminismediIndonesia.file:///C:/Users/user/Downloads/106110_Halimatus+Sa%E2%80%99diyah+et+al_JEBMASS++Analisa+Signifikan+Kemunculan+Pemikiran+Feminisme+di+Indonesia.pdf
Indonesia, B. P. S. (2021). Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk Umur 7-18 Tahun Menurut Klasifikasi Desa, Jenis Kelamin, dan Kelompok Umur, 2009-2024 - Tabel Statistik. Badan Pusat Statistik Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTYxMyMx/angka-partisipasi-sekolah--aps--penduduk-umur-7-18-tahun-menurut-klasifikasi-desa--jenis-kelamin--dan-kelompok-umur--2009-2024.html
Juniar Laraswanda Umagapi. (31 Maret, 2023). REPRESENTASI PEREMPUAN DI PARLEMEN HASIL PEMILU 2019: TANTANGAN DAN PELUANG. file:///C:/Users/user/Downloads/1886-4781-1-SM.pdf
Komnas Perempuan. (2004). Menemukenali Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Diakses dari https://komnasperempuan.go.id/instrumen-modul-referensi-pemantauan-detail/menemukenali-kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt
Kompas. (2020). Aktivisme feminis di Indonesia semakin berkembang dengan munculnya berbagai organisasi dan komunitas yang fokus pada isu-isu perempuan. https://www.kompas.com