Konten dari Pengguna

Kurang Tidur Berisiko Hambat Tinggi Badan Anak, Ini Penjelasan Dosen FKGiz IPB

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: magnific

Kebiasaan tidur terlalu malam atau bergadang ternyata dapat memengaruhi pertumbuhan tinggi badan anak. Hal ini dikonfirmasi dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), dr Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, MARS.

“Benar. Kebiasaan tidur terlalu malam dapat memengaruhi tinggi badan anak. Anak yang kurang tidur berisiko memiliki tinggi badan yang lebih pendek. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon pertumbuhan yang paling banyak keluar selama anak tidur," ujarnya.

Hormon Pertumbuhan Meningkat Saat Tidur

Ia mengatakan, hormon pertumbuhan diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak dan mencapai puncaknya saat fase deep slow-wave sleep (SWS), yaitu bagian dari fase tidur non-rapid eye movement (NREM). Pada fase ini, hormon pertumbuan dilepaskan ke aliran darah menuju kejaringan yang berperan memperbaiki jarinhan, membangun otot dan memperkuat tulang.

Menurut dr Gilang, masa pubertas memang menjadi periode terjadinya lonjakan pertumbuhan tinggi badan akibat peningkatan hormon seks dan hormon pertumbuhan. Namun, pertumbuhan optimal sebenarnya harus dipersiapkan sejak sebelum pubertas melalui pola hidup sehat.

Gizi Seimbang Lebih Penting dari Suplemen

Selain tidur yang cukup, ia menekankan pentingnya asupan gizi seimbang. dr Gilang meluruskan anggapan bahwa minum susu saja sudah cukup untuk membuat anak bertambah tinggi.

"Jadi konsumsi susu saja tidak cukup. Harus ada kombinasi dari variasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang," katanya.

Ia menjelaskan, anak memerlukan karbohidrat kompleks, protein hewani, lemak, vitamin D, vitamin K, kalsium, zink, magnesium, dan fosfor untuk mendukung pertumbuhan tulang secara optimal. Adapun suplemen hanya berfungsi sebagai penunjang dan diberikan sesuai kebutuhan, misalnya pada anak yang mengalami kekurangan vitamin atau gangguan penyerapan nutrisi.

dr Gilang menyarankan orang tua membangun kebiasaan hidup sehat dengan menjaga pola makan bergizi seimbang, menerapkan jadwal tidur yang konsisten, serta mendorong anak rutin beraktivitas fisik. Ia juga mengingatkan agar penggunaan gawai dihentikan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur.

“Durasi tidur yang dianjurkan bervariasi sesuai usia, mulai dari 9–12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8–10 jam untuk remaja,” tuturnya. (Fj)